Permintaan Hunian Hotel di Jakarta Turun 4,7% pada 2025, Begini Prospeknya di 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cushman & Wakefield melaporkan, tingkat hunian hotel di Jakarta tercatat sebesar 63,5% pada tahun 2025. Di mana posisi tersebut turun 4,7% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Head of Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia, Arief Rahardjo memaparkan, langkah efisiensi anggaran pemerintah yang membatasi perjalanan bisnis dan acara resmi menjadi faktor penurunan permintaan kamar dan ruang pertemuan di 2025. 

"Khususnya, untuk pasar yang sangat bergantung pada kegiatan pemerintah seperti Jakarta," jelas Arief dalam laporan MarketBeat Cushman & Wakefield, dikutip Sabtu (7/2/2026).


Menurut kategorinya, tingkat hunian hotel bintang 3 (midscale) tercatat sebesar 61,7%, hotel bintang 4 (upper midscale) sebesar 64,2%, hotel bintang 5 (upscale & upper upscale) sebesar 64,9%, sedangkan hotel luxury sebesar 61,2%. 

Baca Juga: IIMS 2026 Guncang Industri Otomotif, Targetkan Nilai Transaksi Rp 8 Triliun

Penurunan terbesar, sebanyak 6,1%, terjadi pada hotel bintang 4. Hal ini, kata Arief, terjadi lantaran sebagian besar hotel bintang 4 dengan fasilitas MICE sangat bergantung pada kegiatan pertemuan dari institusi pemerintah dan BUMN.

Di lain sisi, penurunan hunian paling minimal, yakni 0,5%, tercatat pada segmen luxury. Sebab, Arief bilang segmen ini menargetkan individu kelas atas, pelancong bisnis, acara korporat, dan acara sosial pribadi yang tidak terpengaruh oleh efisiensi anggaran pemerintah.

Dari sisi pasokan, Arief melaporkan, pada 2025 hanya ada dua hotel baru yang mulai beroperasi di Jakarta. Yakni, d’primahotel PIK Jakarta di kategori midscale dengan 69 kamar, serta ARTOTEL Hub Simpang Temu di kategori upper midscale dengan 90 kamar.

Dus, hingga akhir 2025, total kumulatif pasokan kamar hotel dari kelas midscale hingga luxury tercatat sebanyak 44.016 kamar. Dari level tersebut, hotel bintang 3 berkontribusi sebanyak 27,2%, bintang 4 sebesar 41,6%, bintang 5 sebesar 20,1%, dan luxury sebesar 11,1%. 

"Selain itu, beberapa kegiatan rebranding dengan operator baru juga tercatat, antara lain pada Artotel Harmoni (ibis Styles Jakarta Gajah Mada), Grand Platinum Jakarta (Swiss-BelHotel Sawah Besar), dan Discovery SCBD (Alila SCBD)," jelas Arief.

Prospek Pasar Hotel di Jakarta pada 2026

Arief mencermati, pasar industri hotel pada 2026 masih dibayangi tantangan. Pasalnya, selain instansi pemerintah yang masih menerapkan efisiensi biaya, frekuensi perjalanan ke Jakarta juga secara umum menurun akibat melemahnya daya beli.

"Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung ke Jakarta yang relatif stabil dan penurunan tingkat hunian hotel selama 2025," ungkapnya.

Baca Juga: Danantara Luncurkan 6 Proyek Hilirisasi Senilai US$ 7 Miliar, Ini Daftarnya

Maka, kini, operator hotel disebut berfokus pada diversifikasi pasar serta inovasi produk dan layanan. 

Setelah sebelumnya fokus pada tamu dari institusi pemerintah dan BUMN, Arief bilang para operator kini meningkatkan layanan dan produk untuk menyasar tamu dari perusahaan swasta, asosiasi profesional, komunitas, dan partai politik.

Arief memproyeksikan, beberapa sub-pasar hotel berpotensi pulih, terutama hotel kelas atas (bintang 5) yang bergantung pada merek global dan tamu individual traveler. Selain itu, segmen hotel bintang 3 juga diprediksi pulih.

"Sebab, (hotel bintang 3) mungkin didukung oleh acara non-MICE seperti konser musik, marathon, dan acara nasional atau internasional lainnya di Jakarta," pungkas Arief.

Selanjutnya: Panduan Unreg Kartu Tri 2026 secara Online dan Offline

Menarik Dibaca: iQOO 15 Ultra: HP Gaming dengan Skor AnTuTu 4,5 Juta dan Baterai 7.400 mAh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News