Permintaan jambu berdarah ningrat terus menanjak



Permintaan bibit jambu air king rose belakangan ini meningkat cukup tajam. Produsen bibit buah ini di daerah Majalengka, Jawa Barat bisa menjual hingga 35.000 pohon per bulan. Omzetnya mencapai Rp 140 juta. Menggiurkan bukan?Siapa yang tidak kenal jambu air. Rasanya manis dan berair saat dikunyah membuat buah bernama latin Eugenia aquea ini menjadi salah satu buah yang banyak dikonsumsi. Tak heran, belakangan ini king rose menjadi buruan penggemar jambu air.Sesuai dengan namanya, jambu air jenis ini berwarna merah legam layaknya bunga mawar. Selain itu, ukuran buah itu terbilang jumbo, dengan berat antara 200 gram hingga 300 gram per biji. Karena ukurannya yang besar itu, banyak yang menyebut king rose sebagai jambu air raksasa.Dan, lantaran dari golongan ningrat, king berarti raja, harga jambu jenis ini tergolong mahal, yakni Rp 70.000 per kilogram. Makanya, king rose masuk dalam kelompok buah "mewah".Seiring dengan naik daunnya jambu air king roses, banyak orang yang kemudian membudidayakannya. Nurholis, Direktur Penangkaran CV Gema Horti Mekar Sitrun, produsen bibit king rose di Majalengka, Jawa Barat, mengungkapkan, permintaan bibit jambu air jenis ini terus menanjak.Saban bulan, Gema Horti bisa menjual hingga 35.000 bibit jambu air king rose. Rinciannya, sebanyak 15.000 bibit dibeli pembeli ritel, dan 20.000 lainnya diborong institusi dan pemerintah daerah (pemda). "Sekitar 50% permintaan bibit king rose berasal dari wilayah Sumatera," kata Nurholis.Satu bibit king rose dengan tinggi tidak lebih dari 40 centimeter, Gema Horti melepasnya seharga Rp 4.000. Sedangkan, bibit jambu air king rose setinggi 1,75 meter hingga 2 meter dijual dengan harga Rp 20.000 per pohon. Dari penjualan bibit jambu air king rose yang bisa mencapai 35.000 pohon itu, Nurholis mengatakan, Gema Horti dalam sebulan bisa mengantongi omzet hingga Rp 140 juta. Namun, akibat cuaca yang beberapa bulan terakhir terus turun hujan, Nurholis bilang, penjualan bibit king rose turun terutama yang berasal dari pembeli ritel.Maklum, produksi buah bakal anjlok saat musim hujan. "Kalau hujan terus, jambu air jenis ini sangat sulit berbuah. Kalaupun berbuah, hasil produksinya tidak akan maksimal," tuturnya.Karena alasan cuaca tidak bersahabat ini, banyak pembeli dari kalangan ritel yang menunda pembelian bibit. "Beberapa bulan ini kami cuma bisa menjual sekitar 3.000 bibit ke ritel," ujar Nurholis.Meski begitu, Nurholis tidak kecewa. Sebab, secara keseluruhan penjualan bibit king rose tetap naik. Sebab, pembeli dari kalangan institusi dan beberapa pemda justru meningkat. "Jadi, kapasitas produksi bibit kami tetap terserap semua," imbuhnya. Permintaan bibit yang datang ke Nugroho, pembibit jambu air king rose yang berlokasi di wilayah Bintaro, Jakarta Selatan, juga mengalir deras. Menuturnya, pesanan bibit jambu air jenis tersebut tahun ini naik dua kali lipat ketimbang tahun lalu. "Permintaan di tempat saya naik 100%," ucapnya dengan girang.Namun, karena jumlah bibit jambu air king rose yang dijual Nugroho masih sedikit, omzet yang diraupnya pun masih sangat mini, cuma sekitar Rp 4 juta saja per bulan. Hanya saja, "Permintaannya datang dari daerah Jawa Barat, seperti Karawang dan Kuningan," kata pemilik situs lembahpinus.com ini.Nugroho melego jambu air king rose dengan tinggi 70 sentimeter seharga Rp 60.000 per pohon.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi