Permintaan Jasa Pelayaran Masih Besar, Samudera Indonesia (SMDR) Siapkan 9 Kapal Baru



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) optimistis prospek bisnis pelayaran masih menjanjikan pada 2027. Untuk menangkap peluang pertumbuhan tersebut, SMDR menyiapkan pengadaan hingga sembilan kapal baru.

Direktur Utama SMDR, Bani Maulana Mulia, mengatakan Samudera Indonesia telah menandatangani kontrak pembangunan lima kapal baru di China. Selain itu, SMDR tengah memfinalisasi pemesanan empat kapal tambahan. Dengan demikian, SMDR berpotensi memiliki sembilan kapal baru dari rencana pengadaan tersebut.

“Saat ini sudah ada sekitar lima kapal. Lima kontrak kapal yang sudah di-sign, lima kontrak kapal baru yang dibangun. Lima unit di China berupa tiga buah kapal peti kemas dan dua buah kapal chemical tanker. Selain itu, kami juga sedang finalisasi pemesanan empat unit kapal lagi,” ujar Bani paparan dalam publik ekspose, tak lama ini.


Baca Juga: Rupiah Menguat 0,32% Dalam Sepekan, Begini Proyeksinya untuk Pekan Depan

Adapun empat kapal tambahan yang masih dalam tahap finalisasi itu memiliki ukuran lebih besar. Dua unit sedang dinegosiasikan di China, sementara dua sisanya di Jepang. SMDR berharap pengiriman kapal-kapal yang telah dikontrak dapat dilakukan secara bertahap mulai 2027 hingga 2028.

Bani mengatakan, keputusan perseroan menambah armada mencerminkan optimisme terhadap prospek industri pelayaran. Menurut dia, permintaan terhadap jasa pelayaran masih tinggi.

"Kami tetap optimistis dengan tahun 2027, walaupun kita selalu cautiously optimistic. Kita tetap berhati-hati, kita tetap konservatif pemikirannya," ujar Bani.

Memang, industri bisnis pelayaran dihadapkan berbagai tantangan sepanjang tahun ini. Ia menekankan, pelemahan nilai tukar rupiah tidak memberikan dampak negatif secara langsung terhadap pendapatan SMDR saat ini. Pasalnya, bisnis internasional perseroan menghasilkan pendapatan dalam dolar Amerika Serikat (AS), sehingga kinerja perusahaan juga dilaporkan dalam mata uang tersebut.

Tak sampai situ saja, panasnya sentimen geopolitik berdampak ke kenaikan bahan bakar kapal dan jadi perhatian perusahaan. Tapi, SMDR masih mampu mengendalikan tekanan tersebut melalui pengelolaan biaya serta penerapan biaya tambahan bahan bakar (bunker surcharge)

"Kenaikan harga bahan bakar memang lebih memberatkan operasional, namun bisa dikelola. Bunker surcharge juga bisa kami kenakan kepada para pelanggan dan tidak mempengaruhi permintaan," katanya.

Justru, tantangan yang lebih besar terletak pada upaya menambah jumlah kapal dalam waktu yang lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Baca Juga: Pemegang Saham Pengendali Tempo (TMPO) Kurangi Kepemilikan 128,48 Juta Saham

Di sisi lain, tingginya aktivitas perdagangan turut memicu kemacetan atau kongesti di sejumlah pelabuhan dunia, termasuk Indonesia. Menurut Bani, kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa permintaan jasa logistik dan pelayaran masih kuat.

Kondisi tersebut turut mendukung tarif layanan (freight rate) pelayaran sehingga memberikan peluang bagi perusahaan.

Meski begitu, perseroan tetap berhati-hati terhadap risiko geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. SMDR sebelumnya sempat menghentikan sejumlah layanan di kawasan tersebut akibat konflik, sebelum kembali mengoperasikan rute dengan penyesuaian jalur pelayaran.

Saat ini, perseroan menjalankan kembali layanan Timur Tengah dengan memanfaatkan pelabuhan di sisi timur Uni Emirat Arab (UEA), sehingga tidak perlu melewati Selat Hormuz maupun melakukan persinggahan di Jebel Ali, Dubai.

Untuk memperkuat bisnis di tengah dinamika industri, SMDR juga menjalankan strategi diversifikasi pasar internasional. Saat ini, perusahaan memiliki jaringan operasional di 28 negara, melayani hampir 59 pelabuhan, serta mengoperasikan sekitar 40 layanan berkala.

SMDR juga memperluas layanan di Eropa, Amerika Latin, Asia Timur, dan Timur Tengah, tanpa meninggalkan pasar utama Indonesia dan Asia Tenggara yang masih memberikan kontribusi besar terhadap bisnis perusahaan.

Dari sisi laporan keuangan, SMDR membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih hingga kuartal III-2026. Pendapatan SMDR tercatat US$ 647,4 juta, meningkat 13% secara tahunan (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 571,6 juta.

Adapun laba bersih tumbuh 18% YoY menjadi US$ 50,9 juta, dibandingkan dengan US$ 43,1 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Selain memperkuat armada, SMDR juga melanjutkan pengembangan bisnis pelabuhan melalui proyek Terminal Peti Kemas Patimban di Jawa Barat. Perseroan tengah menunggu kedatangan peralatan baru berupa container crane, ship crane, dan RTG (rubber-tyred gantry) crane dari China untuk dipasang di terminal tersebut.

Baca Juga: NFC Indonesia (NFCX) Siapkan Buyback 49 Juta Saham, Anggarkan Dana Rp 86,97 Miliar

Meski demikian, Bani menekankan, kontribusi investasi perlabuhan terhadap pendapatan dan laba perusahaan diperkirakan membutuhkan waktu yang lebih panjang. Berbeda dengan kapal baru yang dapat memberikan kontribusi setelah mulai beroperasi, investasi terminal memiliki jangka waktu pengembalian yang lebih panjang.

“Tapi sejauh ini pengembangan Patimban sebagai proyek dimulai dari awal, dari nol, dan seperti yang saya sampaikan, lebih cepat daripada ekspektasi sehingga insya Allah juga kontribusinya akan dirasakan lebih cepat nanti,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News