Permintaan Kemasan Plastik Naik Jelang Nataru, Utilisasi Industri Hanya 60%



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Permintaan produk plastik dan kemasan diperkirakan meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.

Kebutuhan industri makanan dan minuman serta sektor pariwisata menjadi pendorong permintaan. Namun, industri plastik nasional masih tertekan persaingan produk impor.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan, produsen kemasan sudah mulai menyiapkan produksi untuk memenuhi kebutuhan musiman ini.


“Untuk Lebaran atau Nataru itu memang kita pasti akan ada kenaikan didorong oleh sektor makanan minuman maupun pariwisata,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (26/10/2026).

Baca Juga: S&P Global: Produksi Sawit RI Terancam Susut 5,8 Juta Ton Akibat El Nino

Fajar mengungkapkan, distribusi kemasan untuk industri makanan dan minuman diperkirakan dimulai pada awal November, sebelum produk tersebar ke pasar pada awal Desember.

Libur Nataru berpotensi meningkatkan kebutuhan kemasan di kawasan wisata, terutama untuk usaha kuliner dan UMKM.

Permintaan bahan bangunan berbahan plastik juga terbantu aktivitas properti ritel atau real estat. Sementara itu, ekspor tekstil yang mulai menggeliat turut meningkatkan kebutuhan kemasan.

Meski permintaan dari sejumlah sektor pengguna meningkat, kondisi tersebut belum mendongkrak aktivitas produksi industri plastik nasional.

Fajar menyebut, tingkat utilisasi industri saat ini hanya sekitar 60%, bahkan sebagian industri kecil dan UMKM mencatat utilisasi di bawah 50%.

“Secara keseluruhan masih minus kita. Karena barang jadinya yang kena. Secara demand naik, tapi secara aktivitas industrinya turun,” kata dia.

Menurutnya, tekanan tersebut terutama berasal dari banjir impor produk jadi, khususnya dari China.

Fajar menyebut, kondisi industri plastik berbeda dengan sejumlah sektor manufaktur lain yang menunjukkan pertumbuhan positif.

“Tekstil naik, baja naik, logam naik, otomotif naik. Yang minus hanya karet dan plastik ya dikarenakan banjir impor barang jadinya,” ungkapnya.

Baca Juga: Folago (IRSX) Ditunjuk Jadi Distributor Tunggal MiniMax di Indonesia

Fajar menegaskan, persoalan utama industri plastik bukan terletak pada bea masuk bahan baku, melainkan persaingan produk jadi impor dengan produksi dalam negeri.

“Bukan di bahan bakunya. Barang jadinya yang menjadi masalah. Itu mau dikasih nol [tarif bea impor], dikasih minus pun juga percuma karena barang jadinya yang bermasalah,” tegasnya.

Dengan kondisi tersebut, kenaikan permintaan menjelang Nataru belum menjamin peningkatan produksi industri plastik nasional.

Persaingan dengan produk impor masih membatasi kemampuan produsen domestik dalam memanfaatkan momentum natal dan tahun baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News