Permintaan Listrik Melonjak, Energi Terbarukan Perlu Dikebut



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Indonesia akan menghadapi lonjakan kebutuhan listrik yang sangat besar hingga 2060, didorong oleh pertumbuhan rumah tangga, kendaraan listrik, industrialisasi, hilirisasi nikel, dan ekspansi pusat data.

Elektrifikasi, terutama melalui konversi kompor LPG ke kompor induksi dan penggunaan EV, berpotensi meningkatkan permintaan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG dan BBM.

Namun, peningkatan permintaan tersebut perlu diimbangi dengan penyediaan listrik yang efisien, andal, dan semakin rendah emisi. Pengembangan energi terbarukan, termasuk target tenaga surya hingga 100 GWp, menjadi penting untuk memastikan pertumbuhan konsumsi listrik tetap sejalan dengan agenda dekarbonisasi dan net zero emissions.


Permintaan listrik Indonesia diproyeksikan melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari 539 terawatt hour (TWh) pada 2025 menjadi 1.813 TWh pada 2060. Sekitar 28% permintaan berasal dari rumah tangga dan 11% dari kendaraan listrik (EV). Kenaikan ini menjadi penopang target pertumbuhan ekonomi 8% sekaligus mendukung dekarbonisasi menuju net zero emissions.

Hasil riset Tenggara Strategics dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia menunjukkan, konversi kompor LPG ke kompor induksi berpotensi menjadi sumber tambahan permintaan listrik terbesar dari rumah tangga. 

Baca Juga: Fantastis! Potensi Investasi Transisi Energi Indonesia Capai US$ 3,8 Triliun

Jika diterapkan penuh, program ini disebut dapat menambah permintaan listrik 27,62 GW–53,43 GW, tergantung efisiensi kompor, sekaligus menyediakan beban listrik yang andal untuk mendukung pengembangan energi surya hingga 100 GWp.

Direktur Eksekutif CSIS Indonesia Yose Rizal Damuri memaparkan hasil riset tersebut dalam rangkaian Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026. Ia menyoroti peluang elektrifikasi sekaligus pentingnya memastikan kenaikan permintaan listrik dipenuhi dari sumber energi yang lebih hijau.

“Program tersebut juga berpotensi menghemat devisa dan subsidi. Saat ini, LPG menyumbang 41,46% konsumsi energi rumah tangga, sementara 77,6% kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor,” kata Yose dalam keterangannya dikutip Kamis (8/10/2026).

Di sektor transportasi, setiap tambahan 1 juta EV diperkirakan menghemat sekitar 1.250 kiloliter (KL) bensin per tahun.  Potensi penghematan ini penting karena sekitar 65% konsumsi bensin nasional atau 23.660 KL pada 2025 masih dipenuhi dari impor. Pengembangan industri EV di dalam negeri juga berpotensi menciptakan hingga 500.000 lapangan kerja baru.

Kebutuhan listrik turut meningkat akibat industrialisasi, terutama hilirisasi nikel dan ekspansi pusat data. Berdasarkan RUPTL 2025–2034, hilirisasi nikel membutuhkan tambahan sekitar 13,6 GW kapasitas pembangkit captive, sedangkan pusat data diproyeksikan menambah permintaan sekitar 1,7 GW hingga pertengahan 2027. Keduanya diperkirakan terus tumbuh seiring ekspansi industri dan ekonomi digital

Baca Juga: Kembangkan EBT, DPR Minta Pemerintah Utamakan Keandalan Pasokan Listrik Nasional

Sementara itu, Direktur Konservasi Energi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Gigih Udi Atmo menekankan pentingnya efisiensi dalam elektrifikasi untuk memperkuat ketahanan energi. Salah satunya melalui konversi kompor LPG ke kompor induksi yang memiliki efisiensi energi lebih tinggi sekaligus mengurangi ketergantungan pada LPG.

Adapun CEO Climate Group Helen Clarkson, OBE, mengatakan kebutuhan energi terbarukan dari perusahaan global anggota RE100 di Indonesia terus meningkat. Sekitar 35% anggota RE100 beroperasi di Indonesia, sehingga ketersediaan energi hijau menjadi faktor penting dalam mempertahankan investasi mereka.

Dari sektor pusat data, Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma menyebut permintaan listrik pusat data meningkat dari 640 MW pada awal 2026 menjadi 1,7 GW pada pertengahan 2027. Sekitar 30% anggota IDPRO menargetkan net zero pada 2030 dan siap mendukung pengadaan energi terbarukan, termasuk melalui program energi surya 100 GWp.

Tri Hardimasyar, EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero), mengatakan bahwa PLN terus memastikan kesiapan penyediaan listrik untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat. 

Ia menjelaskan bahwa salah satu langkah yang dilakukan adalah mengembangkan energi surya hingga 100 GWp secara bertahap, dengan tahap awal difokuskan pada pengurangan konsumsi diesel di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional melalui pengembangan PLTS atap dan PLTS terapung.

Diskusi bertajuk Electrifying Indonesia: Driving demand for renewable energy di ajang  IISF 2026 mempertemukan perspektif pemerintah dan pelaku industri untuk memetakan langkah yang dibutuhkan agar pertumbuhan permintaan listrik berjalan seiring dengan percepatan pengembangan energi terbarukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News