KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan mobil bekas mulai menunjukkan perlambatan setelah momen Lebaran berlalu. Meski demikian, pelaku industri menilai pelemahan nilai tukar rupiah sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap harga jual kendaraan bekas. General Manager Corporate Communications & Sustainability PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), Natalia Lusnita mengatakan, kinerja penjualan mobil bekas melalui unit lelang AUKSI sepanjang Januari-April 2026 masih menunjukkan kualitas yang cukup baik. Meski jumlah unit yang terjual menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, margin penjualan justru meningkat. "Walaupun secara jumlah unit terjual terdapat penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, margin pada periode Januari-April 2026 berada pada level yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu meningkat sekitar 6%," ujar Natalia kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).
Menurut Natalia, saat ini sebagian pedagang mobil bekas cenderung lebih berhati-hati dalam menambah stok kendaraan. Volatilitas nilai tukar rupiah dan kenaikan harga solar mendorong pelaku usaha menahan pembelian stok baru sambil mencermati perkembangan permintaan pasar.
Baca Juga: Pasar Mobil Bekas Mulai Melambat, Pelaku Usaha Fokus Jaga Profitabilitas "Pengaruh volatilitas nilai tukar dan harga solar membuat beberapa active customer atau pedagang memilih untuk menahan belanja dan menjaga level persediaan agar tetap lebih efisien sambil melihat perkembangan permintaan pasar," katanya. Kendati demikian, Natalia menilai harga mobil bekas hingga kini masih lebih dipengaruhi oleh keseimbangan pasokan dan permintaan, daya beli konsumen, kondisi pembiayaan, serta pergerakan harga kendaraan baru. Apabila pelemahan rupiah berlangsung lebih lama dan berdampak pada kenaikan harga mobil baru maupun biaya operasional industri otomotif, sentimen tersebut berpotensi memengaruhi pasar mobil bekas. Namun untuk saat ini, pelaku pasar lebih fokus menjaga kualitas transaksi dan mengelola inventori secara selektif dibandingkan melakukan penyesuaian harga secara agresif. Pandangan serupa disampaikan Presiden Direktur PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) Jany Candra. Menurut dia, perlambatan permintaan mobil bekas setelah Lebaran merupakan pola musiman yang terjadi hampir setiap tahun. "Permintaan setelah Lebaran sedikit melandai dan ini memang pola setiap tahun seperti ini," ujar Jany kepada Kontan, Rabu (3/6/2026). Jany menambahkan, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga belum berdampak terhadap harga mobil bekas. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, penjual masih belum cukup yakin untuk menaikkan harga jual kendaraan. "Pelemahan rupiah masih belum berpengaruh ke harga mobil bekas, mungkin karena dalam kondisi ketidakpastian global ekonomi seperti saat ini, penjual masih belum cukup yakin untuk menaikkan harga jual," katanya.
Baca Juga: Penjualan Mobil Bekas MPMX Diprediksi Melonjak Jelang Lebaran 2026 Meski permintaan jangka pendek melambat, ASLC tetap optimistis prospek bisnis mobil bekas masih menjanjikan. Perseroan membidik pertumbuhan kinerja double digit pada 2026 dengan mengandalkan ekspansi bisnis ritel mobil bekas melalui platform Caroline.id. Sepanjang 2025, Caroline.id mencatat penjualan 4.275 unit mobil atau meningkat 25% dibandingkan 3.420 unit pada tahun sebelumnya. Jany mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang oleh semakin beragamnya pilihan produk, lokasi cabang yang strategis, serta efektivitas model bisnis online-to-offline (O2O). "Jadi, mau industri naik atau turun, Caroline.id masih ada peluang besar untuk terus tumbuh. Jumlah customer yang masuk ke website kami, yang datang ke cabang kami, terus meningkat," ungkap Jany. Di sisi lain, bisnis lelang kendaraan yang menjadi kontributor utama pendapatan ASLC menghadapi tantangan berupa berkurangnya pasokan kendaraan. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya kehati-hatian perusahaan pembiayaan di tengah kenaikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), sehingga jumlah kendaraan yang ditarik dan masuk ke proses lelang ikut menurun.
Baca Juga: Isu BBM Naik, Mobil Listrik Bekas Mulai Dilirik Pasar ASLC yang menguasai sekitar 40% pangsa pasar lelang kendaraan bekas menilai kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan bisnis lelang ke depan. Namun, perseroan juga melihat peluang dari meningkatnya minat masyarakat terhadap mobil bekas di tengah tekanan daya beli dan tren peralihan ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Dari sisi kinerja keuangan, MPMX berhasil mencatatkan pertumbuhan laba pada kuartal I-2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 172,97 miliar atau naik 7,6% secara tahunan meski pendapatan turun 4,31% menjadi Rp 3,99 triliun. Grup Chief Financial Officer MPMX Beatrice Kartika mengatakan peningkatan profitabilitas ditopang oleh efisiensi operasional dan perbaikan margin. Margin laba kotor meningkat menjadi 9,1% dari sebelumnya 8,5%, sedangkan margin laba bersih naik menjadi 4,3% dari 3,8%.
Khusus pada segmen penyewaan kendaraan melalui MPMRent, laba kotor meningkat 9% menjadi Rp 83 miliar. Perbaikan tersebut antara lain ditopang oleh kontribusi yang lebih kuat dari penjualan mobil bekas. Sementara itu, ASLC mencatat pendapatan sebesar Rp 283,6 miliar pada kuartal I-2026 atau tumbuh 27,4% secara tahunan. Namun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 42,5% menjadi Rp 7,07 miliar.
Baca Juga: Pendapatan Autopedia (ASLC) Tumbuh 27%, Bisnis Mobil Bekas Jadi Motor Penggerak Utama Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News