Permintaan Mobil Listrik Meningkat, APM Andalkan Efisiensi dan Strategi First Buyer



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan mobil listrik di kota-kota besar terus menunjukkan tren peningkatan. Di Jakarta, pertumbuhan pasar kendaraan listrik tercatat mencapai sekitar 25% secara tahunan, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan.

Di tengah pasar yang kian berkembang, Agen Pemegang Merek (APM) mulai menggenjot berbagai strategi untuk merebut peluang, mulai dari memperluas lini produk hingga menekan biaya kepemilikan guna menarik konsumen baru.

PT Jaecoo Indonesia menjadi salah satu pemain yang agresif menggarap segmen ini. Head of Marketing Jaecoo Indonesia, Mohamad Ilham Pratama mengungkapkan, pihaknya mengandalkan lini SUV elektrifikasi serta efisiensi biaya operasional untuk menjangkau pasar, khususnya pembeli pertama (first buyer).


Sejak hadir di Indonesia sekitar satu tahun lalu, Jaecoo telah membawa sejumlah model, mulai dari J5 EV hingga plug-in hybrid seperti J7 SHS-P dan J8 SHS-P ARDIS.

Dari sisi penjualan, performa J5 EV tergolong kuat. Pengiriman unit telah melampaui 10.000 unit, dengan target meningkat menjadi 13.000 unit pada April 2026. Sementara itu, jumlah pemesanan telah menembus lebih dari 15.000 unit.

Baca Juga: Jaecoo Andalkan Efisiensi dan SUV Listrik untuk Gaet First Buyer

“Dengan adanya permintaan tinggi, dan JAECOO Indonesia terus berupaya untuk dapat memenuhinya dengan mendistribusikannya lebih cepat,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (17/4/2026).

Jaecoo juga menekankan efisiensi biaya sebagai daya tarik utama. Berdasarkan simulasi internal, penggunaan J5 EV untuk jarak 1.500 kilometer per bulan hanya membutuhkan biaya energi sekitar Rp 290.000 hingga Rp 584.000 per bulan.

Dengan asumsi tarif listrik Rp 1.700 per kWh, biaya operasional harian berada di kisaran Rp 9.600 untuk penggunaan 50 kilometer. Efisiensi ini didukung baterai 60,9 kWh dengan jarak tempuh hingga 534 kilometer dalam sekali pengisian daya.

“Ini hal yang kami tawarkan untuk menarik first buyer,” jelas Ilham.

Sementara itu, PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) melihat pasar otomotif nasional secara umum masih cenderung stagnan pada kuartal I-2026, meski segmen kendaraan listrik tetap menunjukkan prospek pertumbuhan.

Chief Operating Officer HMID, Fransiscus Soerjopranoto mengatakan, volume pasar domestik masih berada di kisaran 50.000 hingga 60.000 unit per bulan, relatif datar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun demikian, Hyundai tetap mengoptimalkan strategi dengan menghadirkan portofolio produk yang lengkap, mulai dari kendaraan berbasis mesin konvensional, hybrid, hingga listrik seperti Ioniq 5 dan Kona.

Baca Juga: Penjualan Mobil Listrik Meroket 21,8%: Ini Model Paling Laris Februari 2026

Selain itu, Hyundai juga menyesuaikan produk dengan daya beli pasar serta memperkuat layanan purna jual guna menjaga daya saing.

Dari sisi kontribusi, Chief After Sales Officer HMID Nina Violenty mengungkapkan kendaraan listrik kini menyumbang sekitar 15% terhadap total penjualan Hyundai. Sementara model Stargazer masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi sekitar 50%.

Hyundai juga mencatat peningkatan pangsa pasar dari 2,5% menjadi 2,8% hingga Maret 2026, didorong oleh tingginya minat konsumen serta momentum musiman seperti Ramadan dan Lebaran.

Ke depan, dukungan kebijakan pemerintah dinilai akan menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik. Pemerintah saat ini tengah menggodok kembali insentif untuk kendaraan listrik.

Fransiscus berharap insentif tersebut tidak hanya diberikan saat pembelian, tetapi juga selama masa penggunaan, seperti kemudahan akses tol atau parkir.

“Insentif sebaiknya mencakup penggunaan, bukan hanya pembelian. Ini bisa menjadi daya tarik tambahan bagi konsumen,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran dealer dalam mengedukasi masyarakat terkait kendaraan listrik, termasuk manfaat dan cara penggunaannya.

Baca Juga: Penjualan Mobil Listrik Melesat: Pangsa Pasar EV Tembus 15% Nasional!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News