Permintaan Mobil Listrik Naik Lima Bulan Berturut-turut, Eropa Jadi Mesin Pertumbuhan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global kembali meningkat pada Juli 2026. Pertumbuhan tersebut mencatatkan kenaikan selama lima bulan berturut-turut, dengan Eropa menjadi salah satu pendorong utama di tengah pelemahan penjualan di China dan Amerika Utara.

Data dari konsultan Benchmark Mineral Intelligence (BMI) yang dikutip Reuters pada Kamis (13/8/2026) menunjukkan penjualan kendaraan listrik berbasis baterai (battery-electric vehicle/BEV) dan kendaraan plug-in hybrid (PHEV) mencapai 1,85 juta unit pada Juli 2026.

Angka tersebut meningkat 9% dibandingkan Juli tahun sebelumnya. Dengan demikian, total penjualan kendaraan listrik secara global sepanjang Januari-Juli 2026 telah mencapai 11,5 juta unit.


Perkembangan tersebut menunjukkan semakin lebarnya perbedaan kinerja di antara pasar kendaraan listrik utama dunia. Di Eropa, permintaan mendapatkan dukungan dari kebijakan subsidi kendaraan listrik yang kembali diterapkan di sejumlah negara.

Baca Juga: Ford Pindahkan Produksi Mobil Lincoln dari China ke AS Mulai 2030

Sebaliknya, pasar Amerika Serikat (AS) menghadapi tekanan setelah pemerintah menghapus insentif pajak federal untuk kendaraan listrik. Sementara itu, produsen otomotif China semakin mengandalkan pasar ekspor untuk menopang pertumbuhan penjualan.

Penjualan EV Eropa Melonjak

Eropa mencatatkan pertumbuhan penjualan kendaraan listrik yang paling kuat di antara pasar utama. Penjualan EV di kawasan tersebut mencapai 450.000 unit pada Juli 2026, naik 33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut membuat penjualan kendaraan listrik di Eropa sepanjang tahun berjalan meningkat 28%.

BMI menilai pertumbuhan yang kuat masih berlangsung di sejumlah pasar otomotif besar Eropa. Kondisi tersebut tidak terlepas dari kembalinya skema subsidi kendaraan listrik di sejumlah negara dalam 18 bulan terakhir.

"Pertumbuhan tinggi terus bertahan di pasar otomotif besar Eropa, yang sebagian besar telah mengalami kembalinya skema subsidi kendaraan listrik selama 18 bulan terakhir," kata BMI.

Prancis mencatatkan pertumbuhan penjualan EV sebesar 81% pada Juli 2026. Sementara itu, penjualan kendaraan listrik di Jerman dan Inggris masing-masing meningkat 46% dan 43%.

Kinerja tersebut menunjukkan bahwa kebijakan insentif masih menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong adopsi kendaraan listrik, khususnya ketika harga kendaraan dan daya beli konsumen masih menjadi pertimbangan.

Penjualan EV China Melemah

Berbeda dengan Eropa, pasar kendaraan listrik China mengalami pelemahan pada Juli 2026. Penjualan EV di negara tersebut turun 5% secara tahunan menjadi sekitar 980.000 unit.

China tetap menjadi pasar kendaraan listrik terbesar secara global, tetapi perlambatan tersebut menunjukkan perubahan dinamika dalam industri otomotif Negeri Tirai Bambu.

Baca Juga: AS dan Iran Masih Bersitegang, Kesepakatan Gencatan Senjata di Selat Hormuz Buntu

Produsen kendaraan listrik China juga semakin mengandalkan pasar luar negeri untuk mempertahankan momentum pertumbuhan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan persaingan kendaraan listrik China di berbagai pasar global.

Pasar Amerika Utara Tertekan

Penjualan kendaraan listrik di Amerika Utara mengalami penurunan yang lebih tajam. BMI mencatat penjualan EV di kawasan tersebut turun 27% secara tahunan menjadi 140.000 unit pada Juli 2026.

Penurunan tersebut terjadi setelah berakhirnya kredit pajak kendaraan listrik di AS.

Berakhirnya insentif tersebut memberikan tekanan terhadap permintaan kendaraan listrik, mengingat harga menjadi salah satu faktor utama dalam keputusan konsumen untuk beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik.

Sementara itu, penjualan kendaraan listrik di kawasan dunia lainnya justru mencatatkan pertumbuhan signifikan. Penjualan di luar pasar utama Eropa, China, dan Amerika Utara melonjak 97% menjadi sekitar 280.000 unit pada Juli 2026.