KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Naiknya angka penawaran pada lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara pada Selasa (17/9), sekaligus mencerminkan kekhawatiran pasar akan penurunan imbal hasil untuk penawaran berikutnya. Sebagaimana diketahui, pemerintah sukses meraup dana senilai Rp 7,05 triliun pada lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara pada Selasa (17/9), dari total penawaran yang masuk sebesar Rp 29,03 triliun. Baca Juga: Keluarkan jutaan ringgit untuk perawatan, Malaysia lelang superyacht hasil korupsi
Hasil tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan pencapaian lelang sukuk sebelumnya, di mana pemerintah menyerap dana senilai Rp 7 triliun dari total penawaran masuk sebesar Rp 21,81 triliun. Direktur Utama Avrist Asset Management Hanif Mantiq mengungkapkan, saat ini market obligasi tengah dipandang positif oleh pelaku pasar. "Investor takut yield lebih turun ke depannya. Untuk deposito yang lebih panjang jatuh temponya misalnya 3 bulan lebih rendah dari yang lebih pendek jatuh temponya misalnya 1 bulan," jelas Hanif kepada Kontan, Selasa (17/9). Tak hanya deposito, Hanif mengungkapkan yield obligasi korporasi juga dalam tren penurunan. Sebagai gambaran, final kupon Obligasi Adira finance untuk tenor 1 tahun yakni 6,70%, disusul tenor 3 tahun yakni 7,80%, dan untuk tenor 5 tahun sebesar 8,10%. Melihat tren penurunan tersebut, Hanif memperkirakan imbal hasil untuk tenor 10 tahun bisa berada di bawah 7%. Dia optimistis level tersebut masih menarik untuk menyedot minat masyarakat masuk ke pasar obligasi, karena sebelumnya yield Tanah Air pernah berada di bawah 7%. Baca Juga: Obligasi wajib konversi semarakkan perhelatan IPO