Peroleh Kontrak Baru dari Australia, Begini Rencana Bisnis Delta Dunia Makmur (DOID)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) aktif mencari kontrak baru jasa pertambangan sepanjang 2023. Selain itu, DOID turut memperkuat sayap bisnisnya di bidang jasa pertambangan batubara metalurgi.

Sebagai informasi, pertengahan April 2023, anak usaha DOID, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) melalui anak usahanya di Australia, BUMA Australia Pty Ltd mendapat kontrak baru dari BHP dan Mitsubishi Alliance (BMA) untuk jasa penambangan batubara di tambang Saraji yang berlokasi di Queensland Tengah, Australia. 

Nilai kontrak baru dari BMA ini mencapai A$ 60 juta atau setara Rp 598,7 miliar. Kontrak tersebut berjangka waktu lebih dari 18 bulan dengan rata-rata produksi tahunan diperkirakan sekitar 7 juta bank cubic meter (bcm). 


Executive Leadership Team Delta Dunia Makmur Dian Andyansuri mengatakan, kontrak baru yang diperoleh BUMA Australia dari BMA akan memiliki peran penting terhadap pertumbuhan kinerja bisnis Delta Dunia Group pada tahun ini.

Baca Juga: BUMA Australia Memperoleh Kontrak Baru Senilai 60 Juta Dolar Australia dari BMA

Pasalnya, BUMA Australia sudah bermitra dengan BMA selama 15 tahun. Saat ini, BUMA Australia menyediakan layanan penambangan batubara di tiga tambang BMA yaitu Queensland Blackwater, Goonyella Riverside, dan Saraji. Khusus untuk tambang Saraji, di sana terdapat komoditas batubara metalurgi yang banyak digunakan sebagai sumber karbon di industri besi dan baja.

"Operasional pertambangan batubara metalurgi ini menjadi bagian dari diversifikasi bisnis yang mulai kami terapkan pada tahun lalu," ujar Dian, 19 April 2023 lalu.

Manajemen DOID percaya bahwa diversifikasi adalah strategi yang tepat untuk menunjang bisnis yang berkelanjutan. Selain memiliki target untuk menurunkan ketergantungan pada bisnis penambangan batubara thermal hingga kurang dari 50% pada 2028, DOID juga terus mencari komoditas tambang yang memiliki prospek cerah pada masa depan seperti tembaga, nikel, dan litium. 

Langkah diversifikasi bisnis ini sudah memberi dampak positif bagi DOID sepanjang tahun lalu. Semenjak akuisisi BUMA Australia dari Downer pada akhir 2021, orderbook yang diperoleh DOID dari operasional tambang di Australia meningkat empat kali lipat dari AUD 600 juta menjadi AUD 3,2 miliar. "Sebanyak 76% dari komoditas yang diproduksi adalah batubara metalurgi," ungkap Dian.

Baca Juga: Emiten Jasa Tambang Kecipratan Berkah Booming Komoditas, Intip Rekomendasi Sahamnya

DOID tentu akan meneruskan langkahnya mencari kontrak baru dan terbuka untuk bermitra dengan berbagai pihak yang memiliki operasional tambang batubara di Indonesia, Australia, maupun negara lainnya. Untuk saat ini, DOID beroperasi di Indonesia dan Australia dengan sejumlah kontrak jasa pertambangan batubara dari beberapa mitra terkemuka. 

Ketika mencari kontrak baru, DOID selalu melihat jumlah perkiraan produksi material tambang di lokasi tambang milik calon mitra. Di samping itu, DOID juga mempertimbangkan aspek environmental, social and governance (ESG) pada calon mitranya.

Secara umum, DOID menargetkan volume overburden removal atau pengupasan lapisan tanah sekitar 560 juta-630 juta bcm dan produksi batubara sekitar 75 juta-80 juta ton pada 2023. Sebagai perbandingan, realisasi volume overburden removal DOID pada tahun lalu mencapai 547 juta bcm sedangkan produksi batubara emiten ini tercatat sebesar 87 juta ton.

Baca Juga: Delta Dunia Makmur (DOID) akan Perpanjang Periode Buyback Saham hingga 24 April 2023

"Kami percaya capaian pada tahun lalu akan mampu diulangi kembali pada tahun ini," imbuh Dian.

Pihak DOID terus menerapkan sistem operasional yang unggul dalam proses bisnis jasa pertambangan. Hal ini diyakini dapat membantu perusahaan mitra DOID untuk lebih efisien dalam melakukan aktivitas tambang.

Sementara itu, DOID menganggarkan capital expenditure (capex) atau belanja modal sekitar US$ 105 juta-US$ 145 juta pada 2023 alias berkurang dari capex tahun sebelumnya sebesar US$ 151 juta. Pemangkasan nilai capex pada 2023 terjadi lantaran DOID mengklaim sudah cukup efektif dalam menyerap capex untuk kebutuhan pembelian alat kerja sejak tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati