KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan momentum Idul Fitri 1447 H atau Lebaran 2026 akan menjadi salah satu motor penggerak utama ekonomi nasional. Meskipun potensi pergerakan masyarakat diprediksi sedikit melandai, jumlah uang yang beredar di masyarakat justru diperkirakan naik. Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang membeberkan, berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, potensi pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,9 juta orang atau 50,6% dari total populasi. Angka ini turun 1,75% dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 146,4 juta orang.
Namun, penurunan jumlah pemudik tidak serta-merta menyurutkan konsumsi. Sarman memproyeksikan perputaran uang bisa mencapai Rp 148,39 triliun, naik sekitar 8% dari tahun lalu. Hitungan ini didasarkan pada asumsi rata-rata pengeluaran per keluarga yang meningkat 10% menjadi Rp 4,12 juta per KK.
Baca Juga: Ada 25 Ribu Buruh Belum Terima THR, Menaker Pastikan Tetapkan Denda pada Perusahaan "Jumlah pemudik 143,9 juta setara dengan 35.975.000 kepala keluarga dengan asumsi rata-rata per keluarga 4 orang. Jika per keluarga membawa uang sebesar Rp 4,12 juta naik 10% dari tahun 2025 lalu sebesar Rp 3,75 juta maka potensi perputaran uang sebesar Rp 148,39 triliun," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (17/3/2026). Sarman menambahkan, angka tersebut merupakan estimasi moderat, di mana dia bilang nilai tersebut bisa naik lebih tinggi lagi jika per keluarga mengantongi uang sebesar Rp 4.500.000. "Angka perputaran uang ini berpotensi naik, hitungan ini yang moderat atau paling rendah. Masih berpotensi mencapai Rp 161,88 triliun dengan asumsi rata-rata per keluarga membawa uang sebesar Rp 4,5 juta," lanjutnya. Sarman menyebutkan, aliran dana ini akan berpusat di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, serta menyebar ke wilayah luar Jawa seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan berbagai destinasi wisata lainnya.
Baca Juga: Kabar Baik! Pemerintah Jamin Tidak Ada Kenaikan Tarif Listrik Hingga Juni 2026 Dia merinci, uang tersebut akan mengalir ke berbagai pos kebutuhan, mulai dari tiket transportasi, biaya tol, BBM, servis kendaraan, hingga oleh-oleh. Selain itu, belanja baju baru, peralatan ibadah, THR untuk kerabat, hampers, hingga bahan pokok pangan seperti daging dan buah-buahan turut menyedot perputaran dana masyarakat selama periode suci ini. Tak hanya sektor ritel besar, pelaku UMKM di daerah tujuan wisata juga diprediksi akan panen omzet. Pedagang makanan, minuman, suvenir, hingga pusat kuliner khas daerah bakal menikmati geliat ekonomi dari para pemudik. Sarman menuturkan, untuk mendukung kelancaran transaksi, Bank Indonesia (BI) pun telah menyiapkan uang tunai sebesar Rp 185,6 triliun. Geliat konsumsi yang melonjak rata-rata 10%-15% ini diyakini mampu mengerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2026 ke level 5,4% – 5,5%. Menurutnya, ini didorong oleh akumulasi perputaran uang dari libur Nataru di Januari, perayaan Imlek yang menyumbang Rp 9 triliun, dan puncaknya pada Idul Fitri 1447 H.
Baca Juga: Apindo Waspadai Risiko PHK Akibat Konflik AS-Israel-Iran Kendati demikian, Sarman mengingatkan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga psikologi pasar. Ia mendesak pemerintah untuk menjamin ketersediaan BBM dan gas selama dan sesudah Lebaran agar masyarakat tidak ragu untuk membelanjakan uangnya di daerah masing-masing. "Hal sangat penting karena masyarakat juga mengikuti perkembangan geopolitik perang Iran vs AS dan Israel yang berpotensi mengganggu pasokan BBM dan gas ke dalam negeri," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News