KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memproyeksikan perputaran uang selama periode Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 2026 berpotensi tembus Rp 190 triliun atau lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebesar Rp 160 triliun. Momentum ini dinilai dapat memperkuat konsumsi rumah tangga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026. Yusuf mengatakan, Ramadhan dan Lebaran tahun ini menjadi fenomena strategis karena seluruh siklus konsumsi terkonsentrasi pada awal tahun. “Saya melihat momentum Ramadhan dan Lebaran 2026 sangat strategis karena seluruh siklus konsumsi, mulai dari pencairan THR, peningkatan belanja rumah tangga hingga arus mudik, terkonsentrasi di kuartal I sehingga menciptakan dorongan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan pola historis biasa,” ujar Yusuf kepada Kontan, Kamis (19/2). Menurutnya, pencairan tunjangan hari raya (THR) yang dilakukan dalam dua gelombang, yakni aparatur sipil negara (ASN) pada Februari dan sektor swasta pada Maret tidak hanya meningkatkan konsumsi secara instan, tetapi juga memperpanjang periode belanja masyarakat.
Perputaran Uang Ramadhan-Lebaran 2026 Diproyeksi Tembus Rp 190 Triliun
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memproyeksikan perputaran uang selama periode Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 2026 berpotensi tembus Rp 190 triliun atau lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebesar Rp 160 triliun. Momentum ini dinilai dapat memperkuat konsumsi rumah tangga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026. Yusuf mengatakan, Ramadhan dan Lebaran tahun ini menjadi fenomena strategis karena seluruh siklus konsumsi terkonsentrasi pada awal tahun. “Saya melihat momentum Ramadhan dan Lebaran 2026 sangat strategis karena seluruh siklus konsumsi, mulai dari pencairan THR, peningkatan belanja rumah tangga hingga arus mudik, terkonsentrasi di kuartal I sehingga menciptakan dorongan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan pola historis biasa,” ujar Yusuf kepada Kontan, Kamis (19/2). Menurutnya, pencairan tunjangan hari raya (THR) yang dilakukan dalam dua gelombang, yakni aparatur sipil negara (ASN) pada Februari dan sektor swasta pada Maret tidak hanya meningkatkan konsumsi secara instan, tetapi juga memperpanjang periode belanja masyarakat.