KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Perputaran uang di perekonomian Indonesia diperkirakan belum akan kembali menguat pada 2026. Kondisi tersebut mencerminkan masih terbatasnya transmisi likuiditas ke konsumsi, investasi, dan aktivitas ekonomi produktif. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan velocity of money atau kecepatan perputaran uang pada 2026 berada di kisaran 6,8–7,0 kali, dengan titik tengah sekitar 6,9 kali. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan kecepatan perputaran uang pada 2025 yang mencapai sekitar 7,03 kali. Meski demikian, penurunannya diperkirakan tidak sedalam tahun sebelumnya, ketika velocity of money turun dari 7,80 kali pada 2024 menjadi 7,03 kali pada 2025.
"Kecepatan perputaran uang pada 2026 masih berpotensi menurun, tetapi penurunannya kemungkinan tidak sedalam 2025," ujar Josua kepada Kontan.co.id, Selasa (6/10). Menurut Josua, jika menggunakan pendekatan Badan Pusat Statistik (BPS), yakni membandingkan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal dengan uang beredar sempit atau M1, arah pergerakan velocity pada 2026 masih menunjukkan pelemahan moderat.
Baca Juga: Danantara Siapkan De-risking untuk Percepat Proyek Waste to Energy Pelemahan tersebut terjadi karena pertumbuhan M1 cenderung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan PDB nominal. Pada Maret 2026, M1 masih tumbuh sekitar 14,4% secara tahunan, sementara pada Juli pertumbuhannya berada di sekitar 10%. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi riil berada di kisaran 5% dengan inflasi sekitar 3%. Kombinasi tersebut membuat pertumbuhan uang beredar masih relatif tinggi dibandingkan pertumbuhan aktivitas ekonomi nominal. Josua menegaskan, penurunan kecepatan perputaran uang bukan berarti jumlah uang di perekonomian berkurang. Sebaliknya, uang beredar dan kredit masih tumbuh cukup tinggi. Persoalannya, setiap rupiah yang tersedia tidak berputar secepat sebelumnya untuk menghasilkan transaksi barang dan jasa. "Ini dapat terjadi ketika rumah tangga lebih berhati-hati membelanjakan pendapatan, perusahaan menahan ekspansi, atau likuiditas lebih banyak tersimpan dalam rekening dan instrumen keuangan daripada segera kembali menjadi konsumsi dan investasi," jelasnya.
Belanja Rumah Tangga Belum Sepenuhnya Mencerminkan Penguatan Permintaan
Josua melihat data konsumsi rumah tangga pada 2026 memberikan sinyal yang beragam. Pengeluaran per kapita pada Maret 2026 memang meningkat sekitar 5,6% secara tahunan. Namun, pengeluaran untuk pangan tumbuh lebih tinggi, yakni sekitar 6,4%. Sementara itu, pengeluaran nonpangan hanya tumbuh sekitar 4,8%. Kondisi tersebut juga tercermin dari meningkatnya pangsa pengeluaran pangan, dari sekitar 49,4% menjadi 49,8%. Menurut Josua, kondisi itu menunjukkan kenaikan belanja masyarakat belum sepenuhnya mencerminkan penguatan permintaan domestik. Sebagian peningkatan pendapatan rumah tangga masih terserap untuk memenuhi kebutuhan pokok. "Artinya, kenaikan belanja belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan permintaan yang kuat, karena sebagian lebih besar pendapatan rumah tangga terserap untuk kebutuhan pokok," katanya. Di sisi lain, pertumbuhan likuiditas juga belum tersebar secara merata ke rumah tangga. Kredit perbankan pada Agustus 2026 tumbuh sekitar 13,7%, tetapi pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit investasi dan korporasi. Sementara itu, pertumbuhan kredit konsumsi relatif lebih rendah. Proporsi rumah tangga yang menerima kredit juga disebut turun dari sekitar 23,9% pada 2025 menjadi sekitar 22% pada 2026.
Baca Juga: Hasil Korupsi, Harta Hampir Rp 2 T Milik Anak Pengusaha Indonesia Disita Singapura Uang Elektronik Naik, Velocity Belum Tentu Meningkat
Josua juga menyoroti peningkatan kepemilikan uang elektronik. Menurut dia, perkembangan tersebut menunjukkan digitalisasi transaksi terus berkembang. Namun, digitalisasi pembayaran tidak otomatis membuat kecepatan perputaran uang meningkat. Hal tersebut terjadi apabila masyarakat dan dunia usaha tetap menahan saldo karena ketidakpastian, tekanan biaya hidup, ataupun kebutuhan untuk berjaga-jaga. Dengan demikian, tantangan perekonomian bukan semata-mata menyediakan likuiditas, melainkan memastikan likuiditas tersebut benar-benar mengalir ke konsumsi, investasi, dan kegiatan produksi.
Efektivitas Likuiditas Perlu Diwaspadai
Josua menjelaskan, kecepatan perputaran uang bukan satu-satunya faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi. Namun, indikator tersebut dapat mencerminkan kekuatan permintaan dalam perekonomian. Secara sederhana, PDB nominal dapat dilihat sebagai hasil perkalian antara jumlah uang beredar dan kecepatan perputarannya. "Jadi apabila uang beredar tumbuh 10%, tetapi kecepatannya turun sekitar 2%, dorongan efektif terhadap aktivitas nominal menjadi sekitar 8%," ujarnya. Artinya, pertumbuhan likuiditas yang besar tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi dengan besaran yang sama apabila uang tersebut semakin lambat berputar. Dalam kondisi tersebut, efektivitas pelonggaran likuiditas dan pertumbuhan kredit terhadap konsumsi, investasi, produksi, hingga penciptaan lapangan kerja dapat menjadi lebih kecil. Risiko terbesar muncul apabila perlambatan velocity terjadi bersamaan dengan pelemahan daya beli kelas menengah dan lemahnya belanja nonpangan. Rumah tangga berpotensi semakin memprioritaskan kebutuhan seperti makanan, energi, pendidikan, dan kesehatan, sembari menunda pembelian kendaraan, elektronik, rekreasi maupun barang tahan lama. Jika berlangsung berkepanjangan, kondisi tersebut dapat menekan penjualan ritel, industri manufaktur, UMKM, dan permintaan kredit. Perusahaan kemudian dapat merespons dengan mengurangi produksi dan investasi, yang pada akhirnya berpotensi melemahkan penciptaan lapangan kerja dan kembali menekan konsumsi.
Ekonom Minta Kebijakan Tak Sekadar Tambah Likuiditas
Untuk itu, Josua menilai respons kebijakan tidak cukup hanya dengan memperbesar likuiditas. Pemerintah perlu memastikan uang yang tersedia benar-benar mengalir dan berputar di sektor riil. Dari sisi fiskal, belanja pemerintah perlu diarahkan pada program yang memiliki efek pengganda tinggi, terutama perlindungan daya beli, pembangunan infrastruktur padat karya, serta program yang secara langsung meningkatkan pendapatan masyarakat.
Baca Juga: Kadin Soroti Kesiapan DSI Jelang Implementasi Penuh Tata Kelola Ekspor 2027 Dari sisi perbankan, penyaluran kredit juga dinilai perlu lebih banyak diarahkan kepada UMKM, manufaktur, perdagangan, dan sektor-sektor yang menciptakan lapangan kerja, bukan hanya terkonsentrasi pada korporasi besar. Stabilitas harga pangan juga menjadi faktor penting. Semakin besar pendapatan rumah tangga terserap untuk kebutuhan dasar, semakin kecil ruang yang tersedia untuk konsumsi barang dan jasa lainnya. Josua memperkirakan penurunan kecepatan perputaran uang pada 2026 masih dapat berlanjut ke sekitar 6,9 kali. Namun, menurutnya, angka tersebut bukan persoalan utama.
"Pertanyaan utamanya adalah apakah tambahan uang dan kredit yang sudah tersedia mampu diterjemahkan menjadi konsumsi, investasi, produksi dan pekerjaan," katanya. Jika velocity terus melambat, target pertumbuhan ekonomi tetap dapat dicapai apabila jumlah uang beredar dan produktivitas meningkat cukup kuat. Namun, kualitas transmisi likuiditas menjadi kurang efisien. Oleh karena itu, tantangan ekonomi Indonesia pada 2026 bukan sekadar menambah likuiditas, melainkan memastikan likuiditas yang sudah besar benar-benar bergerak lebih cepat menuju kegiatan ekonomi produktif. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News