KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan domestik memasuki pekan ini dengan sorotan utama pada pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo setelah hampir tujuh tahun memimpin bank sentral. Pengunduran diri yang efektif berlaku pada 26 Juli 2026 dan dikabarkan telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto itu menjadi perhatian pelaku pasar yang kini menunggu kepastian mengenai penggantinya. Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa mengatakan, pergantian kepemimpinan di BI akan menjadi faktor penting yang dicermati investor karena berkaitan langsung dengan kesinambungan kebijakan moneter, kredibilitas institusi, serta arah kebijakan bank sentral ke depan. "Fokus pasar saat ini adalah bagaimana pemerintah menentukan suksesi kepemimpinan BI dan apakah akan tetap menjaga kesinambungan kebijakan moneter serta kredibilitas institusi," tulis Jessica Tasijawa dalam riset Senin (27/7/2026).
Baca Juga: Ekalya Purnamasari (ELPI) Rampungkan Rights Issue, Himpun Dana Rp 739,34 Miliar Di tengah sentimen tersebut, nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga melemah ke level Rp 17.963 per dolar AS. Pelemahan terjadi seiring menguatnya indeks dolar AS (DXY) ke level 101,40, mencerminkan masih tingginya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Tekanan juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi 7,37%, sementara tenor dua tahun meningkat ke 7,14%. Kenaikan tersebut mengikuti penguatan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), sehingga spread imbal hasil obligasi Indonesia terhadap US Treasury tetap berada pada level yang menarik bagi investor. Meski demikian, Jessica menilai premi imbal hasil (yield premium) obligasi pemerintah Indonesia masih relatif atraktif di tengah kondisi keuangan global yang semakin ketat. Sementara itu, Bank Indonesia dalam lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) kembali menyerap dana sebesar Rp 15 triliun, sama seperti lelang sebelumnya. Mayoritas penyerapan, sekitar 94,3% atau Rp14,1 triliun, masih difokuskan pada tenor 12 bulan. Namun, minat investor dalam lelang mulai melandai. Total penawaran turun menjadi Rp 28,2 triliun dibandingkan Rp 37,7 triliun pada lelang sebelumnya. Penurunan terjadi di seluruh tenor, terutama tenor enam bulan, sembilan bulan, dan 12 bulan. Meski permintaan melemah, BI mempertahankan struktur imbal hasil SRBI pada level yang relatif stabil, yakni 7,2% untuk tenor enam bulan, 7,4% untuk sembilan bulan, dan 7,6% untuk tenor 12 bulan. Hal ini menunjukkan BI masih menjaga daya tarik instrumen tersebut sambil tetap memprioritaskan penyerapan likuiditas melalui tenor yang lebih panjang.
Baca Juga: IHSG Melemah ke 6.166,6 di Pagi Ini (27/7), Top Losers LQ45: MEDC, ESSA, ISAT Dari eksternal, aktivitas manufaktur Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan. Data awal S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur AS turun tipis menjadi 53,8 pada Juli 2026 dari 53,9 pada bulan sebelumnya, sedikit di bawah ekspektasi pasar sebesar 54,3. Perlambatan dipicu oleh melambatnya pertumbuhan produksi, pesanan baru, dan akumulasi persediaan, meski perekrutan tenaga kerja kembali meningkat dan gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah masih memperpanjang waktu pengiriman.
Di sisi fiskal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kenaikan harga minyak dunia belum mengancam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Meski demikian, lonjakan harga minyak mengurangi ruang fiskal pemerintah untuk menambah belanja kementerian, lembaga, maupun pemerintah daerah. Ia juga memastikan paket stimulus ekonomi pada semester II 2026 tetap berjalan sesuai rencana karena sejak awal disusun dengan asumsi harga minyak sekitar US$100 per barel. Dengan demikian, kenaikan harga minyak lebih berdampak pada menyempitnya fleksibilitas fiskal dibandingkan mengganggu keberlanjutan APBN secara keseluruhan. Di tengah kombinasi ketidakpastian global dan dinamika domestik tersebut, perhatian investor kini diperkirakan akan tertuju pada proses penunjukan Gubernur Bank Indonesia yang baru. Pasar akan mencermati apakah transisi kepemimpinan mampu menjaga konsistensi kebijakan moneter dan stabilitas pasar keuangan Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News