Persaingan Bank Besar Makin Ketat, Bank KBMI 3 Berusaha Naik Level



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong industri perbankan untuk memperkuat struktur, ketahanan, dan daya saing agar mampu menghadapi dinamika perekonomian domestik dan global. Dalam hal ini, naik kelas KBMI (kelompok bank berdasarkan modal inti) perlu menjadi pertimbangan. 

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebut bank-bank penghuni KBMI 3 saat ini memiliki kemampuan yang memadai untuk meningkatkan nilai tambah bisnis menjadi KBMI 4. Melalui kenaikan kelas ini, kata Dian, sumber dana untuk ekspansi bisnis diharapkan dapat bertambah. 

“OJK akan senantiasa mendorong kenaikan kelas bank-bank KBMI 3 menjadi KBMI 4. Arah kebijakan ini merupakan proses penguatan bertahap dan terukur,” jelas Dian dalam jawaban tertulis belum lama ini. 


Baca Juga: Industri BPR Makin Ramping, OJK Sudah Setujui Konsolidasi 57 BPR

Sebagai salah satu bank KBMI 3 dengan modal inti tertinggi, Bank Danamon juga optimistis dapat naik kelas. Untuk diketahui, modal inti Bank Danamon hingga Maret 2026 mencapai Rp 49,17 triliun. 

Chief Strategy Officer Bank Danamon Reza Iskandar Sardjono bilang pihaknya terus berfokus dan berupaya dalam memperkuat fundamental melalui keempat lini bisnis yang ada, yakni Enterprise Banking & Financial Institution, SME Banking, Consumer Banking, dan Adira Finance.

Reza menambahkan, penguatan bisnis ini juga ditempuh dengan kekuatan ekosistem MUFG Group sebagai parent company yang memiliki jaringan lokal dan global di tengah kondisi perekonomian yang penuh tantangan. 

“Upaya-upaya ini tentunya diharapkan dapat berdampak positif terhadap kinerja bank secara keseluruhan, termasuk di dalamnya peningkatan pada modal inti,” jelas Reza kepada Kontan, Kamis (21/5/2026). 

Tak cuma berfokus pada pertumbuhan organik, Reza bilang pihaknya juga senantiasa mengkaji berbagai peluang penguatan anorganik yang ada. Itu, lanjutnya, dilakukan dengan selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian serta tetap sejalan dengan arah strategis bank. 

Baru-baru ini Danamon juga baru mengumumkan integrasi dengan MUFG Cabang Indonesia. Hingga akhir tahun lalu, total ekuitas Danamon mencapai Rp 54,27 triliun, sementara MUFG sebanyak Rp 44,05 triliun. Dalam perhitungan sederhana, ada potensi ekuitas pasca integrasi mencapai Rp 98,32 triliun. 

Bank Syariah Indonesia (BSI) dengan catatan modal inti Rp 46,15 triliun per Maret 2026 juga membidik kenaikan kelas untuk memperkuat posisinya. Wakil Direktur BSI Bob Tyasika Ananta bilang itu merupakan bagian dari aspirasi bank. 

Baca Juga: Kredit Properti Melonjak 17,5%, KPR Jadi Motor Utama Pertumbuhan

“BSI tentunya terus memiliki aspirasi untuk tumbuh menjadi bank syariah yang semakin besar, kuat, dan kompetitif, termasuk agar dapat berada pada level yang sejajar dengan bank-bank besar nasional lainnya,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (21/5/2026). 

Namun demikian, Bob menegaskan pihaknya memandang kenaikan kelas KBMI bukan semata-mata sebagai tujuan jangka pendek, melainkan merupakan hasil dari pertumbuhan bisnis yang sehat, berkelanjutan, dan didukung oleh fundamental permodalan yang kuat.

Maka dari itu, Bob bilang strategi penguatan modal inti bakal didorong utamanya melalui pertumbuhan organik, yaitu dengan meningkatkan laba secara berkelanjutan, memperkuat kualitas pembiayaan, menjaga efisiensi operasional, serta mengoptimalkan segmen-segmen bisnis yang memiliki prospek pertumbuhan sehat dan sustain. 

“Fokus BSI adalah memastikan ekspansi dilakukan secara selektif, produktif, dan memberikan nilai tambah terhadap profitabilitas maupun permodalan bank,” imbuhnya.

Namun begitu, pihaknya tetap mengkaji seluruh opsi strategis secara berkala sesuai kebutuhan bisnis, kondisi pasar, serta arahan pemegang saham. Dengan begitu, pihaknya berharap BSI dapat terus memperkuat posisi sebagai bank syariah terbesar di Indonesia sekaligus menjadi institusi keuangan syariah yang semakin relevan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News