Persaingan F&B Makin Ketat, Bobobox Andalkan Konsep Kuliner Berbasis Budaya



KONTAN.CO.ID - BOGOR. Persaingan bisnis makanan dan minuman (F&B) semakin ketat, seiring pertumbuhan industri dan munculnya beragam konsep usaha. Kondisi ini mendorong pelaku usaha mencari pembeda untuk mempertahankan daya saing. Co-Founder & CEO Bobobox Indra Gunawan mengatakan, pertumbuhan industri F&B turut membuat persaingan semakin sengit. Karena itu, pelaku usaha perlu menawarkan konsep berbeda agar mampu bersaing di tengah banyaknya pilihan konsumen. Menurut Indra, nilai historis, lokasi, suasana, dan kuliner menjadi bagian dari konsep NILAGIRI. Kombinasi tersebut menjadi pembeda yang ditawarkan di tengah persaingan F&B, khususnya di kawasan Puncak Bogor.

Baca Juga: Dorong Ekonomi Berbasis Budaya, Fadli Zon Dukung Pengembangan Kawasan Bersejarah “Nilai nostalgia, makanan Indonesia, suasana Puncak, dan ada edukasinya juga. Saya rasa itu menjadi daya tarik yang berbeda dibandingkan F&B yang lainnya,” ujar Indra saat pembukaan NILAGIRI, Selasa (18/8). Indra mengatakan Bobobox optimistis dengan konsep tersebut. Pengembangan NILAGIRI diharapkan dapat memperluas pengalaman hospitality perusahaan melalui bisnis F&B. Sementara itu, entrepreneur Sandiaga Uno menilai persaingan restoran ke depan semakin membutuhkan inovasi. Menurutnya, kekayaan kuliner Indonesia dapat menjadi modal ekonomi untuk menarik konsumen dan wisatawan. “Banyak sekali resto-resto bagus di Indonesia yang menawarkan pengalaman yang sangat kaya, karena kuliner Indonesia itu kaya raya dan kuliner Indonesia ini menjadi penopang ekonomi kita,” ujar Sandiaga kepada KONTAN. Sandiaga menilai pelaku usaha juga perlu menjaga relevansi menu dan pengalaman. Hal ini penting mengikuti perubahan selera konsumen. “Nilagiri diharapkan bisa bersaing jika terus menyajikan pengalaman dan menu-menu yang selalu up-to-date, selalu sesuai dengan zaman,” katanya. Di sisi lain, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai pengembangan NILAGIRI dapat memperkuat aktivitas ekonomi berbasis budaya. Menurutnya, keberadaan ruang kuliner yang mengangkat sejarah dan budaya dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru di kawasan. Fadli mengatakan nilai sejarah Vila Riung Gunung dapat menjadi aset untuk mengembangkan kawasan. Potensi tersebut dapat dikemas melalui kegiatan budaya yang menarik masyarakat, sekaligus meningkatkan daya tarik kawasan. “Kalau dikembangkan sebagai enclave budaya, ini bisa menjadi ruang yang menggerakkan aktivitas ekonomi melalui kegiatan seni, budaya, diskusi, dan berbagai aktivitas masyarakat,” ujar Fadli kepada KONTAN.

Baca Juga: Komisi XII Jelaskan Alasan Pemerintah Tetapkan Target Lifting Migas di RAPBN 2027 Menurut Fadli, pendekatan tersebut dapat membuat kawasan tidak hanya bergantung pada aktivitas kuliner. Kehadiran kegiatan budaya juga berpotensi memperpanjang waktu kunjungan masyarakat. Fadli berharap pengembangan kawasan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Menurutnya, aspek sejarah, budaya, ekonomi, dan lingkungan perlu berjalan beriringan agar nilai kawasan tetap terjaga.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News