KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan aplikasi digital perbankan semakin memanas. Di tengah bank-bank besar berlomba memperkuat super apps masing-masing, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI) kembali meluncurkan aplikasi baru bernama Qita. Kehadiran Qita sendiri digadang-gadang akan menjadi strategi multiaplikasi seperti yang dijalankan PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA) melalui BCA mobile dan myBCA. Hal ini menandai babak baru strategi digital perbankan nasional.
Jika sebelumnya bank cenderung fokus mengembangkan satu aplikasi utama, kini sejumlah bank mulai mengadopsi strategi multiaplikasi untuk memperluas ekosistem digital sekaligus menyasar segmen nasabah yang lebih spesifik. Berdasarkan informasi di Play Store, Qita hadir sebagai aplikasi finansial digital yang menawarkan berbagai fitur pengelolaan keuangan modern.
Baca Juga: Kredit Mikro Amar Bank Tumbuh 22,7% YoY pada Kuartal 1-2026 Mulai dari
Smart Bill Manager untuk pengingat pembayaran tagihan otomatis,
Wealth Tracker untuk memantau portofolio keuangan, hingga
Instant Update yang memungkinkan pembaruan fitur tanpa update manual aplikasi. “Hadir sebagai teman finansial digital yang modern, inklusif, dan dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata nasabah,” demikian deskripsi aplikasi Qita, dikutip Jumat (29/5/2026). Namun hingga kini, BRI belum memberikan penjelasan resmi terkait posisi Qita dalam ekosistem digital perseroan. Belum diketahui apakah aplikasi ini akan menjadi pelengkap BRImo, menyasar segmen tertentu, atau justru berkembang menjadi platform baru di luar aplikasi utama BRI tersebut. Padahal, performa BRImo sendiri masih menunjukkan pertumbuhan yang agresif. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna BRImo mencapai 47,8 juta atau tumbuh 18,6% secara tahunan (YoY). Nilai transaksi BRImo juga melonjak 29,4% YoY menjadi Rp 2.042,2 triliun. Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto mengatakan transformasi digital telah menjadi salah satu motor utama pertumbuhan dana murah perseroan. “Pertumbuhan dana murah BRI didorong oleh transformasi digital, dengan seluruh kanal mencatatkan akselerasi dobel digit,” ujarnya dalam paparan kinerja perseroan beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Bank Sampoerna Genjot Porsi Kredit UMKM, Porsinya Capai 59% dari Portofolio Kuartal I Kinerja BRImo ikut menopang pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) BRI yang naik 9,4% YoY menjadi Rp 1.555,1 triliun pada kuartal I-2026. Porsi dana murah (CASA) pun meningkat menjadi 68,07% atau setara Rp 1.058,6 triliun. Strategi serupa sebelumnya sudah diterapkan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) lewat dua aplikasi andalannya, yakni BCA mobile dan myBCA. Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan transaksi digital kini telah berkontribusi hingga 99,8% terhadap seluruh transaksi yang diproses BCA. Pada kuartal I-2026, frekuensi transaksi myBCA tumbuh 45% YoY. Dari sisi nilai transaksi, myBCA mencatat pertumbuhan 47% YoY, sementara jumlah pengguna meningkat 57% YoY. “Melalui aplikasi myBCA, kami menghadirkan hub finansial yang menghubungkan kebutuhan perbankan nasabah,” ujar Hera.
Menurut Hera, myBCA dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih intuitif sekaligus menjadi pusat layanan finansial digital, mulai dari transaksi harian, investasi, pembayaran QRIS, hingga layanan lifestyle. Di sisi lain, BCA mobile tetap dipertahankan sebagai aplikasi transaksi utama yang ringan dan cepat untuk kebutuhan transaksi harian nasabah.
Baca Juga: Laba Bank Besar Masih Seret, Tekanan Diprediksi Berlanjut pada Semester I-2026 Di tengah persaingan tersebut, Bank Mandiri dinilai menjadi salah satu bank yang berhasil membangun ekosistem digital terintegrasi. Perseroan mengandalkan Livin’ by Mandiri untuk segmen ritel dan Kopra untuk segmen wholesale.