Perspektif Lintas Generasi untuk Tetap Relevan di Tengah Ekonomi yang Dinamis
Kamis, 01 Oktober 2026 18:00 WIB
Oleh: Adv Team | Editor: Indah Sulistyorini
KONTAN.CO.ID - Perayaan hari ulang tahun ke-30 Kontan menandai sebuah tonggak sejarah yang sangat penting dalam mengawali perjalanan dan dinamika perekonomian nasional. Mengusung tema besar "Navigating the Economy Across Generations", KONTAN Economic & Demographic Forum 2026 berlangsung di Studio 1 Kompas TV, Menara Kompas, Jakarta, pada Selasa (29/9/2026). Dalam acara ini, Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja berkesempatan untuk membagikan pengalamannya. Kepada generasi muda, pria yang sebelumnya menjadi Presiden Direktur BCA itu berpesan untuk tetap produktif dan tekun. Di samping itu, generasi muda juga dituntut jangan banyak mengeluh dan berani mencoba hal baru. "Generasi muda jangan banyak mengeluh. Coba berani belajar hal baru untuk menambah produktivitas. Siapa tau ada yang menilai secara positif dari pimpinan," jelas Jahja.
Di tengah ekonomi yang sedang dinamis, Jahja juga menyampaikan generasi muda untuk menabung. Kebiasaan konsumtif generasi muda yang berdasarkan Fear of Missing Out (FOMO) atau ikut-ikutan tren yang membuat pengeluaran tidak terkontrol. Padahal, menyisihkan uang untuk menabung dan berinvestasi merupakan salah satu fondasi untuk menghindari masa depan dari tekanan finansial. “Menabung dan jangan boros. Investasi ke hal-hal yang positif,” kata Jahja dalam wawancara bersama Kontan setelah acara. Tak hanya itu, Jahja juga mengingatkan generasi muda untuk tidak terjebak dalam mentalitas serba cepat atau instan. Dalam pekerjaan, kreativitas tetap perlu diasah dengan tekun untuk mendapat hasil yang maksimal. Sementara itu, kepada para pebisnis, Jahja menyoroti pentingnya sikap kehati-hatian dalam mengambil langkah pertumbuhan usaha. Ekspansi perlu dipertimbangkan secara matang agar perusahaan memiliki sistem dan fundamental yang kokoh. "Jangan buru-buru ekspansi. Ekspansi cepat memang bisa dilakukan, tapi tanpa fundamental dan sistem yang kuat, bisnis akan sangat sulit bertahan. Fondasi perusahaan yang kokoh jauh lebih penting untuk menghadapi krisis," pungkas Jahja.
Perkuat kolaborasi
Di tengah lanskap global yang kian terfragmentasi dan pergeseran struktur demografi yang masif, di mana kelompok generasi muda kini mendominasi porsi populasi usia produktif, forum ini turut menyoroti urgensi kolaborasi yang erat lintas generasi, salah satunya dalam membangun bisnis. Bagaimana bisnis harus dirancang bukan sekadar untuk mengejar keuntungan jangka pendek, melainkan mampu memberi manfaat ekonomi jangka panjang. Founder & CEO Se’Indonesia Rinaldi Dharma Utama memaparkan, secara mendalam bagaimana dunia kewirausahaan modern dituntut untuk senantiasa adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen yang datang dari berbagai kelompok umur yang berbeda. Dalam pandangannya, kesinambungan model bisnis masa kini sangat bergantung pada konsistensi nilai inti (core value) yang dipadukan secara harmonis dengan kecepatan adopsi teknologi digital. Tanpa harus kehilangan identitas otentik dari produk yang ditawarkan, pelaku usaha harus mampu membaca pergeseran preferensi pasar yang bergerak dengan tempo sangat cepat di era modern.
"Membangun bisnis lintas generasi bukan sekadar mengejar profit sesaat, melainkan bagaimana kita menjaga relevansi produk, merawat kepercayaan konsumen dari berbagai kelompok usia, serta konsisten menghadirkan nilai tambah di tengah persaingan pasar yang bergerak sangat dinamis. Integrasi antara kearifan lokal dan inovasi digital adalah kunci utama agar roda usaha tetap berputar kencang di tengah berbagai gelombang disrupsi ekonomi," ujar Rinaldi. Perkembangan lanskap bisnis nasional saat ini memperlihatkan bahwa para pelaku usaha dari generasi baru dituntut memahami kondisi atau kemauan konsumen secara dinamis. Rinaldi mencontohkan, penilaian konsumen yang sering muncul di media sosial sangat menentukan pemilihan menu. Namun, ia akan memilih review atau ulasan yang relevan dengan kebutuhan bisnis guna meningkatkan jumlah pembeli. Jika pembeli terus bertambah, tentunya akan berdampak bagi rantai pasok dan sektor UMKM dalam menguatkan ekosistem industri domestik tetap memiliki daya tahan (resilience) yang tangguh.“Kita breakdown satu-satu review customer. Jadi kita bikin kategori. Ada yang bilang porsinya enggak konsisten. Itu kita grouping setiap minggu dan kita review apakah ada perkembangan atau engga,” jelas Rinaldi. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News