Pertamina Andalkan Strategi Dual Growth untuk Jaga Kinerja di Tengah Transisi Energi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina (Persero) mengandalkan strategi dual growth dengan menjalankan bisnis energi eksisting (legacy business) sekaligus mengembangkan bisnis rendah karbon.

SVP Business Sustainability PT Pertamina (Persero), Wenny Ipmawan menjelaskan, strategi tersebut ditempuh agar pengembangan bisnis rendah karbon dapat berjalan tanpa mengorbankan kinerja finansial perusahaan.

"Karena tentu kalau kita langsung kepada low carbon business kita juga akan terdampak terkait dengan profit, income, revenue kita. Jadi kita melakukan secara bertahap," kata dia di Seminar Nasional Green Economy 2045 di Aryaduta Hotel Menteng, Jakarta, Selasa (29/9/2026).


Dalam mengoptimalkan bisnis eksisting, Wenny mengatakan, Pertamina terus mendorong peningkatan produksi di sektor hulu.

Langkah tersebut sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak menjadi 1 juta barel per hari pada 2030 dan produksi gas mencapai 12 miliar kaki kubik per hari.

Baca Juga: Pangkas Impor, Pertamina Group Kembangkan Katalis Pengolahan Minyak untuk Kilang

"Kami mendukung target pemerintah ini dengan agresif drilling, penemuan cadangan-cadangan baru, exploration. Kemudian juga enhance oil recovery, terutama di lapangan-lapangan yang menjadi proyek utama. Misalnya di Rokan, Mahakam, dan lain-lain," jelasnya.

Di sisi hilir, Pertamina juga terus memperkuat ketahanan bisnis dengan meningkatkan kapasitas kilang serta mengoptimalkan penjualan produk.

Sementara itu, dari sisi bisnis rendah karbon, Pertamina terus mengembangkan portofolio melalui PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE). Salah satunya melalui pengembangan ekosistem bahan bakar nabati, termasuk percepatan implementasi biodiesel B50.

"Kita bicara B50 yang sebelumnya ditargetkan 2036, kemudian arahan dari Pak Presiden agar di 2026, berarti maju 10 tahun, dilakukan percepatan," terangnya.

Menurut Wenny, pencapaian target tersebut membutuhkan kesiapan stok dan dukungan dari sejumlah kementerian/lembaga, serta perusahaan di sektor perkebunan.

Baca Juga: Pertamina Ungkap Tantangan Implementasi B50 Sepanjang Masa Transisi

Selain biofuel, Pertamina juga terus mengembangkan bisnis panas bumi melalui PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). Saat ini, lanjut Wenny, kapasitas terpasang panas bumi anak perusahaan tersebut sudah mencapai sekitar 727 megawatt (MW).

"Dan kita akan mengembangkan hingga 2028 ini mencapai 1 Gigawatt, dan mudah-mudahan di 2038 bisa 2 Gigawatt. Tapi tentu ini memerlukan dukungan regulasi, advokasi, dan koordinasi antara lembaga dan perusahaan," ujarnya.

Ke depan, Pertamina memproyeksikan pemanfaatan migas baru akan beralih ke energi baru dan terbarukan secara lebih masif pada periode 2045-2060.

"Ini menjadi tantangan kami untuk mempersiapkan low carbon business ini ke depan. Mungkin beberapa project sudah berjalan, sedangkan untuk beberapa project lainnya kita terus rencanakan untuk dapat dukungan dari berbagai pihak," imbuh Wenny.

Baca Juga: Pertamina Bangun Kilang Bioavtur dari Minyak Jelantah di Cilacap, Investasi US$ 1,1 M

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: