Pertamina Bangun Kilang Bioavtur dari Minyak Jelantah di Cilacap, Investasi US$ 1,1 M



KONTAN.CO.ID - CILACAP. PT Pertamina Patra Niaga tengah membangun proyek kilang bioavtur (biorefinery) untuk mengolah minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) menjadi sustainable aviation fuel (SAF) di Cilacap, Jawa Tengah.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, Hermawan Budiantoro mengungkapkan, tahun ini, progres proyek dengan nilai investasi sekitar US$ 1,1 miliar tersebut telah dalam tahap Final Investment Decision (FID) dan  proses penentuan mitra. 

"Nah kemudian nanti mulai engineering, procurement, and construction (EPC)-nya, targetnya di tahun 2027 ya. Kemudian harapannya nanti on-stream (beroperasi) di tahun 2029," katanya dalam temu media di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).


Di atas lahan seluas 17,5 hektare (ha), kilang bioavtur ini dibangun dengan kapasitas sekitar 860 kiloliter (kl) SAF per hari. Adapun estimasi kebutuhan minyak jelantah untuk biorefinery ini sebesar 350.000 ton per tahun.

Baca Juga: Implementasi SAF Mulai 2027, Begini Tantangan Pengembangan Ekosistem Bioavtur

Hermawan bilang, sebelumnya master project kilang ini telah dimulai sejak tahun 2025 lalu, mencakup front end engineering design, rencana penyusunan, hingga proses tender.

Perusahaan juga telah lebih dulu melakukan uji perdana (pilot test) penggunaan minyak jelantah untuk SAF dan mengantongi sertikasi ISCC CORSIA pada 2024 lalu. Kemudian, perusahaan melakukan produksi pertama SAF berbasis UCO pada Juli-Agustus 2025.

Pada Februari 2026, Pertamina telah melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek biorefinery Cilacap Fase 2.

Setelah beroperasi, bioavtur dari kilang ini direncanakan akan memasok untuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Baca Juga: Kemenhub Beberkan Langkah Percepatan Menuju Mandatori Bioavtur 1% Tahun 2027

Hermawan menegaskan proyek ini menjadi upaya Pertamina memperkuat kemandirian SAF nasional dan energi hijau melalui pemanfaatan minyak jelantah menjadi bahan yang bermanfaat.

"Jadi manfaat proyek ini adalah melalui pemanfaatan UCO atau waste feedstock. Jadi, bahan yang biasanya dibuang dan menjadi limbah, nanti kita olah produk itu menjadi bahan yang bermanfaat dan bernilai tinggi," ujarnya.

Menurut hitungan Pertamina, dengan beroperasinya kilang bioavtur ini nanti, terdapat potensi penyerapan sekitar 5.900 tenaga kerja, pengurangan emisi tahunan produk SAF sekitar 600.000 tCO2e, serta target penyerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30%.

Baca Juga: Kejar Target Investasi, Pertamina Patra Niaga Akselerasi Proyek Kilang Tuban

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News