Pertamina berkeras tolak pelabuhan di Cilamaya



JAKARTA. Pertamina ngotot menolak rencana pembangunan pelabuhan Cilamaya. Pertamina khawatir, dengan dibangunnya pelabuhan tersebut maka pasokan energi yang berasal dari wilayah tersebut akan terganggu.

Catatan saja, di sekitar blok tersebut banyak sekali pipa minyak dan gas. Panjang pipa-pipa tersebut mencapai 1.700 kilometer (km). Dari blok ini, gas dialirkan ke PLTGU Muara Karang dan Tanjung Priok yang mengaliri listrik daerah ring satu Jakarta dan pabrik pupuk Kujang di Jawa Barat.

Blok Offshore North West Java ini merupakan aset penting bagi Indonesia. Pasalnya, produksi minyak mentah di wilayah ini menyumbang sekitar 5% dari total produksi nasional. Bila pasokannya sampai terganggu, maka negara akan mengalami kerugian sekitar Rp 21 triliun per tahun. VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan, sebuah risiko besar bila pembangunan Cilamaya tetap dilanjutkan. "Satu (pipa) terganggu, maka pipa yang lain juga terganggu. Bayangkan bisa meledak semua itu," kata Ali, Kamis (5/3). Ali berkata, dibandingkan membangun pelabuhan, mencari sumber minyak dan gas di dalam negeri lebih sulit. Oleh sebab itu masih banyak alternatif pembangunan pelabuhan supaya lebih merata, seperti di Tanjung Emas Semarang, atau di luar Jawa. Ali juga menyangsikan tiga konsultan pembangunan Cilamaya tersebut. Pasalnya ketiganya merupakan JICA (Japan International Cooperation Agency) yang notabe berasal dari Jepang.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Mesti Sinaga