KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina (Persero) akan melepas sebanyak 38 anak usaha yang tidak bergerak di bisnis minyak dan gas (migas) pada tahun ini. Strategi ini bagian dari program
streamlining atau penataan portofolio usaha agar Pertamina lebih fokus pada bisnis inti energi. COO BPI Danantara Dony Oskaria mengungkapkan, seluruh entitas yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sektor migas akan dikeluarkan dari grup. Pertamina tidak akan punya lagi perusahaan yang
non-related kepada oil and gas. Seluruh perusahaan Pertamina yang non-oil and gas itu akan di-spin out. Dari total 38 entitas yang akan dilepas, sebagian besar bergerak di sektor non-energi, mulai dari perhotelan, rumah sakit, maskapai penerbangan, hingga asuransi. Untuk sektor kesehatan, bisnis rumah sakit yang selama ini dikelola oleh Indonesia
Healthcare Corporation (IHC) disebut berpeluang dikelola langsung oleh Danantara. Saat ini, Pertamina tercatat memiliki sejumlah lini usaha non-migas, antara lain hotel Patra Jasa, maskapai Pelita
Air, perusahaan asuransi Tugu Insurance dan PertaLife Insurance, serta Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Baca Juga: Menhub: Bakauheni Diprediksi jadi Pelabuhan Terpadat pada Lebaran 2026 Ekonom Universitas Andalas Syafruddin menilai, strategi melepas bisnis non-inti merupakan langkah yang tepat. Menurutnya, pelepasan tersebut akan mengurangi kompleksitas konglomerasi yang selama ini menyita perhatian manajemen dan memperlebar risiko tata kelola. “Keunggulannya, Pertamina bisa mengonsentrasikan investasi pada hulu–hilir migas, kilang, gas, serta agenda transisi energi dengan struktur organisasi yang lebih ramping,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (17/2/2026). Meski begitu, ia mengingatkan risiko utama tetap ada, terutama pada proses valuasi dan skema pengalihan aset. “Transaksi harus transparan agar tidak terjadi
underpricing, dan layanan publik seperti kesehatan serta konektivitas udara tetap berjalan stabil,” katanya. Dari sisi kontribusi keuangan, Syafruddin mencatat bisnis non-inti bersifat pelengkap. Pada 2024, Pertamina membukukan pendapatan sekitar Rp1.194 triliun dengan laba bersih Rp49,5 triliun. Sebagai perbandingan, Patra Jasa mencatat pendapatan Rp4,6 triliun dan laba bersih Rp234,6 miliar pada 2024. Pelita Air meraih laba setelah pajak US$5,9 juta pada tahun buku 2024, berbalik dari kerugian sebelumnya. Sementara itu, Tugu Insurance mencatat laba Rp700,8 miliar sepanjang 2024, dan IHC membukukan pendapatan Rp5,72 triliun dengan laba bersih Rp300 miliar pada 2023. “Angka-angka ini menunjukkan unit non-inti memang menyumbang laba dan arus kas, tetapi porsinya relatif kecil dibandingkan kinerja konsolidasi Pertamina,” ujarnya. Sejalan dengan itu, praktisi migas Hadi Ismoyo menilai pelepasan bisnis non-inti akan membuat Pertamina lebih fokus pada
exploration and production (E&P) dan bisnis energi. “Plusnya, organisasi menjadi lebih ramping, pengambilan keputusan lebih lincah, dan efisiensi meningkat menuju
world class energy company,” katanya kepada Kontan, Selasa (17/2/2026). Adapun minusnya, aset Pertamina akan berkurang seiring dilepasnya sektor-sektor tersebut. Namun, Hadi menegaskan kontribusi bisnis non-inti terhadap arus kas Pertamina tidak signifikan. “Arus kas Pertamina didominasi oleh
upstream, refinery, dan
downstream retail,” pungkasnya.
Baca Juga: Harga Jagung Naik, Petani Nikmati Panen Raya Terbaik Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News