KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pendapatan dan laba bersih PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) kompak menanjak pada semester I-2026. Di samping fokus mendongkrak performa keuangan, PGEO juga sedang menggarap sederet proyek ekspansi untuk mengoptimalkan potensi panas bumi dan bisnis turunan dari energi terbarukan.
Corporate Secretary Pertamina Geothermal Energy Muhammad Taufik membeberkan bahwa saat ini PGEO memiliki sembilan proyek prioritas. Mulai dari penambahan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), pengembangan proyek green hydrogen, hingga mengkaji green data center. "Tahun 2026 merupakan periode penting untuk mempercepat eksekusi sejumlah proyek prioritas. PGEO juga melaksanakan program pemeliharaan, pengeboran sumur pengganti, dan peningkatan keandalan fasilitas pada wilayah operasi eksisting," ungkap Taufik kepada Kontan.co.id, Kamis (30/7/2026).
Baca Juga: Pendapatan Usaha Agung Podomoro Land (APLN) Semester I-2026 Melesat 117% Proyek prioritas PGEO yang pertama adalah PLTP Lumut Balai Unit 3 dengan kapasitas 55 Megawatt (MW). Proyek ekspansi ini telah memperoleh persetujuan pengembangan pada kuartal I-2026, dilanjutkan dengan pembangunan infrastruktur dan tajak sumur pertama pada 8 Juli 2026. Tahap berikutnya mencakup pengeboran, pengujian sumur, dan pembangunan infrastruktur pendukung. Kedua, PLTP Lumut Balai Unit 4. Proyek ini masuk ke tahap eksekusi pada April 2026, dilanjutkan dengan pembangunan infrastruktur, pengeboran sumur eksplorasi, uji produksi, hingga penerbitan Notice of Resource Confirmation (NORC). Ketiga, PLTP Hululais Unit 1 dan 2 (110 MW). Proyek ini telah memasuki tahapan pengadaan dan persiapan fasilitas pengumpulan uap, dengan target beroperasi pada tahun 2028. Keempat, Lahendong Unit 7–8 & Binary Unit (50 MW). Pengerjaan proyek ini sedang difokuskan pada kesiapan teknis, skema pendanaan, dan tahapan pengembangan awal. Kelima, Proyek Gunung Tiga/Ulubelu Extension (55 MW). Progres proyek ini sedang melanjutkan pengeboran sumur eksplorasi dan pengujian produksi untuk memperkuat data cadangan. Keenam, PLTP Bukit Daun. Dokumen teknis proyek ini telah diserahkan ke PT PLN (Persero) pada Maret 2026, yang dilanjutkan dengan proses penilaian menyeluruh sebelum memulai konstruksi.
Baca Juga: WIKA Kebut Proyek Bendungan Jenelata Sulsel, Progres Konstruksi Tembus 32,49% Ketujuh, Proyek Ulubelu Bottoming Unit (30 MW) dan Lahendong Bottoming Unit (15 MW) bersama PLN Indonesia Power. Tarif listrik telah disepakati pada Desember 2025 dan Maret 2026, yang dilanjutkan dengan proses pendirian joint venture, pengadaan EPCC (Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning), dan PPA (Power Purchase Agreement). Selain ekspansi di proyek pembangkit listrik panas bumi, PGEO juga sedang menggarap Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu. "Pembangunan terus dikebut, target operasi pada kuartal IV-2026," ungkap Taufik. Tak berhenti di situ, PGEO juga sedang menjajaki proyek Green Data Center. Hanya saja, Taufik belum merinci terkait detail perencanaan proyek ini. Dia hanya mengatakan bahwa proyek Green Data Center tersebut masih dalam tahap studi dan penyiapan peta jalan, dengan target penyelesaian studi dan perizinan pada tahun 2026.
Strategi Pendanaan
Guna merealisasikan portofolio proyek strategis tersebut, PGEO menerapkan strategi pendanaan yang terdiversifikasi dan disesuaikan dengan karakteristik setiap proyek. Sumber pendanaan mencakup kas internal, pasar modal berkelanjutan, pinjaman konsesional dari lembaga multilateral dan bilateral, fasilitas perbankan, serta kerja sama dengan mitra strategis. Setiap instrumen akan dipilih dengan mempertimbangkan biaya pendanaan, tenor, mata uang, tahapan proyek, serta dampaknya terhadap struktur permodalan. Strategi ini bertujuan menjaga fleksibilitas keuangan, sekaligus mendukung target peningkatan kapasitas terpasang menjadi 1,8 Gigawatt (GW) pada tahun 2033, serta optimalisasi aset 3 GW. "Kebutuhan pendanaan akan mengikuti tahapan dan tingkat kesiapan proyek dalam portofolio pengembangan PGEO," ujar Taufik. Langkah terbaru PGEO untuk memperkuat pendanaan adalah menggandeng Bank Mizuho Indonesia, bagian dari salah satu grup jasa keuangan terbesar di Jepang. PGEO telah menandatangani Trade Facility Agreement dengan PT Bank Mizuho Indonesia pada Kamis (23/7/2026).
Baca Juga: PTPN IV PalmCo Raup Laba Bersih Rp 3,23 Triliun pada Semester I 2026 Kerja sama tersebut berupa fasilitas non-cash loan dengan plafon hingga US$ 75 juta yang diberikan tanpa agunan (clean basis). Menurut Taufik, fasilitas omnibus ini dapat digunakan dalam bentuk bank garansi, standby letter of credit, letter of credit impor, account payable financing, dan revolving loan sesuai kebutuhan perusahaan. Di sisi yang lain, tiga proyek PGEO pada tahun ini tercantum dalam Green Book Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Ketiga proyek tersebut memiliki potensi dukungan pembiayaan hingga US$ 477,87 juta. Ketiga proyek tersebut adalah PLTP Lumut Balai Unit 3 dengan potensi dukungan pembiayaan sebesar US$ 158,86 juta, PLTP Lumut Balai Unit 4 (US$ 148,97 juta) dan PLTP Lahendong Unit 7–8 (US$ 170,04 juta). Terkait dengan strategi pendanaan, PGEO sebelumnya telah menerbitkan green bond sebesar US$ 400 juta pada 2023.
Kinerja Keuangan PGEO
Dari sisi bisnis dan keuangan, PGEO mencetak kinerja yang moncer pada periode paruh pertama 2026. Pendapatan PGEO tumbuh 14,72% secara tahunan atau year on year (yoy) dari US$ 204,85 juta menjadi US$ 235,02 juta hingga Juni 2026. Pada saat yang sama, PGEO meraih laba bersih senilai US$ 79,62 juta. Keuntungan PGEO meningkat 15,47% dibandingkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada semester I-2025, yang kala itu tercatat sebesar US$ 68,95 juta. Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat mengungkapkan bahwa kenaikan kinerja pada semester I-2026 ditopang oleh pertumbuhan produksi dan keandalan PLTP, serta keuntungan selisih kurs yang positif. Adapun, total produksi PGEO sepanjang semester I-2026 mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh), meningkat 13,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2.416 GWh.
Baca Juga: Kinerja Sunindo Pratama (SUNI) Turun pada Paruh Pertama 2026, Ini Pemicunya Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menyoroti bahwa tahun 2026 menandai 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia. Ahmad meyakinkan bahwa panas bumi merupakan pilar strategis energi nasional karena sifatnya yang bersih, andal, dan baseload, sehingga cocok untuk menopang sistem kelistrikan di tengah transisi energi.
"Seratus tahun lalu, perjalanan ini dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat. Hari ini, PGE bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70% energi panas bumi di seluruh Indonesia, dan Kamojang menjadi bagian penting dari kami," ungkap Ahmad dalam rilis yang disiarkan pada Rabu (29/7/2026). Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025-2034, porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) ditargetkan mencapai 76%. Panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 GW selama periode tersebut. Guna mendukung pencapaian target tersebut, PGEO menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2033. Saat ini, PGEO mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 MW. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News