KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dinamika harga minyak mentah (
crude) global turut mempengaruhi fluktuasi harga oli di pasar dalam negeri. Seiring harga minyak yang sempat melonjak akibat perang Amerika Serikat vs Iran, produsen oli mengerek harga jual, tak terkecuali bagi PT Pertamina Lubricants. Corporate Secretary Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi menjelaskan bahwa penentuan harga produk pelumas mempertimbangkan sejumlah faktor. Terutama yang terkait dengan harga dan ketersediaan pasokan bahan baku, serta biaya logistik. Pertamina Lubricants pada awal Juni 2026 mengerek harga jual produknya dengan rata-rata kenaikan sekitar 17%. Kenaikan harga juga dilakukan oleh produsen pelumas lainnya. Rika menegaskan bahwa Pertamina Lubricants belum memiliki rencana untuk kembali menaikkan harga produknya.
Baca Juga: Pertamina Lubricants Kuasai 36% Pasar Pelumas Domestik, Ekspor Tembus ke 16 Negara Sebaliknya, Pertamina Lubricants justru membuka peluang untuk melakukan penurunan harga jika tren harga
crude terus melandai. "Harapannya justru dengan harga
crude yang mulai tren-nya turun, semoga kami juga bisa menyesuaikan," kata Rika saat kunjungan ke Production Unit Jakarta (PUJ) pada Rabu (12/8/2026). Di samping faktor eksternal tersebut, penentuan harga jual produk juga mempertimbangkan kondisi pasar, termasuk daya beli konsumen. "Untuk saat ini, memang harga masih seperti ini. Harapannya tidak ada dinamika di luar sana yang bisa mempengaruhi harga bahan baku. Tentunya dalam menentukan pricing kami juga mempertimbangkan pasar, konsumen. Kami memperhatikan sampai sejauh mana daya belinya," terang Rika. Saat ini, Pertamina Lubricants memiliki pangsa pasar (
market share) sekitar 36% dari total pasar pelumas di dalam negeri. Pertamina Lubricants terus memacu penetrasi pasar melalui portofolio produk otomotif, industri maupun bahan kimia khusus (
specialty chemical). Manager Production Unit Jakarta (PUJ) Pertamina Lubricants, Dody Arief Aditya mengungkapkan bahwa Pertamina Lubricants memiliki keunggulan dari sisi keamanan pasokan bahan baku (
security of supply material). Pertamina Lubricants didukung oleh fasilitas kilang atau refinery unit dari Pertamina Group.
Baca Juga: JLL Indonesia Kantongi Sertifikasi Great Place To Work Dengan dukungan tersebut, Pertamina Lubricants mampu mengamankan sekitar 60% - 70% kebutuhan
base oil dari kilang Pertamina sendiri. Secara keseluruhan, kapasitas unit produksi dan fasilitas kunci Pertamina Lubricants bisa menghasilkan lebih dari 500 juta liter lubricants per tahun. Dody merinci, PUJ memiliki kapasitas Lube Oil Blending (LOB) sebesar 270.000 kiloliter (KL) per tahun. Fasilitas ini juga memiliki kemampuan untuk memproduksi Visco Modifier (VM) & Specialties sebanyak 14.000 KL per tahun, Grease Plant 8.000 metrik ton per tahun, serta mini LOBP dengan kapasitas 3.000 KL per tahun. Selain di Jakarta, Pertamina Lubricants mengoperasikan Production Unit Cilacap (PUC) yang memiliki kapasitas LOB Plant 80.000 KL per tahun. Pertamina Lubricants juga mengoperasikan Production Unit Gresik (PUG) yang memiliki kapasitas LOB Plant 120.000 KL per tahun dan VM Plant sebesar 9.000 KL per tahun. Selain ketiga pabrik di dalam negeri, Pertamina Lubricants juga memiliki fasilitas produksi di Thailand. Production Unit Thailand memiliki kapasitas LOB Plant sebesar 60.000 KL per tahun. Dody mengungkapkan bahwa saat ini ekspor Pertamina Lubricants telah menjangkau 16 negara. Korea Selatan menjadi negara tujuan ekspor pertama yang telah dilakukan sejak tahun 2007. Pertamina Lubricants juga telah menembus pasar Tanzania pada tahun 2024. Jika dirinci, saat ini ekspor Pertamina Lubricants menjangkau pasar di negara Korea Selatan, Afrika Selatan, Bangladesh, CHina, Myanmar, Vietnam, Thailand, Nigeria, Yaman, Timor Leste, Malaysia, Singapura, Australia, Jepang, Filipina dan Tanzania.
Baca Juga: Motor Listrik Nasional Bisa Perkuat Ekosistem Industri Lokal Rika mengungkapkan bahwa Pertamina Lubricants terus menjajaki berbagai potensi perluasan pasar, termasuk ekspansi secara global. Hanya saja saat ini Pertamina Lubricants akan terlebih dulu fokus untuk memperkuat pangsa pasar di dalam negeri dengan peluang yang masih besar di segmen otomotif, industri maupun
specialty chemical. "Pada intinya, namanya berbisnis, ekspansi pasar itu sudah jelas kami lakukan. Kami ekspansi sudah ke 16 negara. Apakah ada rencana (memperluas ekspor)? Tentunya semua pasar kami jajaki. Tapi memang untuk saat ini fokus dulu di domestik, karena potensi di domestik pun masih banyak," tandas Rika. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News