KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina (Persero) terus mengakselerasi persiapan proyek Dimetil Eter (DME) atau gasifikasi batubara menjadi gas. Proyek strategis yang kini berada di bawah koordinasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) ini diproyeksikan menjadi solusi untuk menekan ketergantungan terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan, saat ini Pertamina tengah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait guna mematangkan rencana tersebut.
"Terkait pengembangan DME, Pertamina terus berkoordinasi dengan Danantara dan PT Bukit Asam. Saat ini proyek masih dalam tahap persiapan teknis dan pembiayaan," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (6/4/2026).
Baca Juga: Skema Take or Pay PLN Disorot, Risiko Oversupply Bebani Negara Baron menegaskan, Pertamina berkomitmen mendukung proyek DME sebagai bagian dari program diversifikasi energi nasional. Langkah ini diharapkan tidak hanya mengurangi beban impor, tetapi juga memperkuat ketahanan energi melalui pemanfaatan sumber daya domestik berupa batubara kalori rendah. Namun, Pertamina juga memberikan catatan terkait keberlanjutan proyek ini di masa depan. Perusahaan pelat merah tersebut memastikan bahwa setiap tahapan pengembangan tetap harus memenuhi standar komersial dan operasional yang memadai sebelum memasuki tahap groundbreaking. "Pertamina mendukung proyek DME yang diharapkan dapat mendorong diversifikasi energi dan pengurangan impor LPG, dengan mempertimbangkan keekonomian, kualitas produk, dan kesiapan infrastruktur distribusi," pungkasnya. Sementara itu, Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menjelaskan, groundbreaking ini merupakan bentuk akselerasi dari rencana panjang perusahaan. Saat ini, PTBA tengah berkoordinasi intensif dengan Badan Pengelola Investasi Danantara terkait skenario pendanaan dan keputusan investasi. "Groundbreaking ini pada dasarnya akselerasi proyek yang sudah dilaksanakan. Kita studinya sudah banyak, sudah lama, nah ini pemerintah ingin mengakselerasi itu. Jadi paralel sambil kita cari mitra, skenario pendanaan yang lagi disusun Danantara, kita lakukan groundbreaking untuk percepatan prosesnya saja," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Senin (6/4/2026). Turino memastikan, dari sisi operasional, PTBA sudah sangat siap untuk memulai proyek yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatra Selatan, ini. PTBA juga telah menyiapkan cadangan batubara, lahan, hingga identifikasi mitra teknologi potensial. "Kita cadangan sudah ready, lapangan wilayah, kawasan sudah ready, mitra teknologi yang mau dipilih juga sudah kita identifikasi. Insya Allah groundbreaking tahun ini, secepatnya mulai. Tapi keputusannya masih di Danantara," lanjutnya.
Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) Siap Grounbreaking Proyek DME di Tahun Ini, Demi Tekan Impor LPG Dalam skema pengerjaannya, PTBA akan bertindak sebagai produsen DME, sementara PT Pertamina akan bertindak sebagai penyerap produk (off-taker). Mengenai kapasitas produksi, Turino membeberkan bahwa proyek ini akan dimulai dengan skala yang cukup besar untuk menekan impor LPG. "Kami akan start dengan 1,4 juta ton DME. Mitranya sudah kita pilih, sudah kita identifikasi, tinggal diputuskan. Ini tinggal sama Pertamina sebagai off-taker-nya. Sekarang ini yang bertugas membuat DME-nya PTBA," ungkapnya.
Terkait teknologi, lanjut Turino, PTBA telah mengidentifikasi beberapa calon mitra dari berbagai negara, mulai dari China, Korea, hingga Jepang. Dia memperkirakan, jika proses perizinan lancar, pabrik ini membutuhkan waktu pembangunan setidaknya tiga tahun untuk bisa beroperasi (on-stream). Lebih lanjut, Turino menambahkan, mengenai aspek komersial dan harga jual ke masyarakat, saat ini masih dalam tahap penggodokan di tingkat Danantara. "(Terkait harga) sedang dibahas juga. Ini paralel dengan Pertamina mau diambil dari harga berapa, ke masyarakat harga berapa. Ini termasuk yang dibahas di Danantara. Moga-moga dalam waktu dekat sudah keluar lah," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News