Pertamina Patra Niaga Optimalkan Armada dari Galangan Kapal Nasional untuk Pasok BBM



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Patra Niaga mengoptimalkan penggunaan kapal hasil produksi galangan nasional untuk mendistribusikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Subholding Downstream PT Pertamina (Persero) ini memastikan keandalan kapal nasional untuk menyuplai energi di jalur pelayaran regional maupun internasional.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun menyatakan bahwa optimalisasi armada buatan dalam negeri menjadi bagian dari komitmen Pertamina Patra Niaga untuk menjaga keandalan distribusi energi nasional, sekaligus memperkuat kemandirian maritim Indonesia. Roberth mencontohkan Motor Tanker (MT) Pagerungan dan MT Pangkalan Brandan yang menjadi bagian dari armada Pertamina dalam menjaga kelancaran pasokan BBM nasional.

Baca Juga: Pengamat Soroti Pentingnya Hilirisasi untuk Jaga Nilai Tambah Industri Mineral


Dibangun oleh galangan nasional PT PAL Indonesia dan mulai beroperasi pada tahun 2015, kedua kapal tersebut merupakan sister ship General Purpose Tanker 17.500 Long Ton Dead Weight (LTDW). MT Pagerungan dan MT Pangkalan Brandan masing-masing memiliki kapasitas angkut sekitar 25.528 kiloliter BBM, setara lebih dari 25 juta liter BBM per voyage.

Roberth menegaskan keberadaan kedua kapal tersebut menjadi simbol sinergi antara industri maritim nasional dan sektor energi. “MT Pagerungan dan MT Pangkalan Brandan representasi karya anak bangsa yang tidak hanya memperkuat distribusi energi nasional, tetapi juga menunjukkan Indonesia mampu membangun armada tanker modern yang kompetitif untuk kebutuhan domestik maupun internasional,” kata Roberth melalui rilis yang disiarkan pada Jumat (17/4/2026).

Roberth menjelaskan, kapal tersebut memiliki panjang sekitar 157,2 meter dan lebar 27,7 meter, dengan desain yang dirancang khusus agar mampu beroperasi optimal di berbagai pelabuhan Indonesia maupun jalur pelayaran internasional. Kapasitas besar dan dimensi strategis tersebut menjadikan MT Pagerungan dan MT Pangkalan Branda sebagai elemen penting dalam rantai distribusi energi nasional. 

"Dalam satu kali pelayaran, masing-masing kapal mampu mengangkut suplai energi setara ribuan mobil tangki darat, memungkinkan distribusi yang lebih efisien untuk wilayah kepulauan Indonesia yang tersebar luas," imbuh Roberth.

MT Pagerungan berperan sebagai kapal general purpose domestik, melayani distribusi BBM antar pulau dari terminal utama seperti Balongan, Tuban, dan Tanjung Wangi menuju Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga kawasan timur Indonesia. Sedangkan MT Pangkalan Brandan menjalankan fungsi sebagai kapal general purpose Product International Operation (PIO) yang melayani pengangkutan energi pada jalur internasional, termasuk rute regional seperti Singapura dan Malaysia.

"Peran ganda domestik dan internasional tersebut menempatkan kedua kapal ini sebagai penjaga distribusi energi nasional yang saling melengkapi. MT Pagerungan memastikan pasokan energi menjangkau berbagai daerah di Nusantara, sedangkan MT Pangkalan Brandan memperkuat konektivitas logistik energi lintas negara untuk mendukung stabilitas pasokan nasional," terang Roberth.

Dalam keterangan sebelumnya, Pertamina Patra Niaga memastikan kesiapan armadan kapal untuk mendistribusikan energi, khususnya BBM dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki karakteristik distribusi energi yang unik dan memiliki tantangan geografis tersendiri.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo menegaskan kesiapan armada logistik laut menjadi faktor penting dalam menjaga distribusi energi ke seluruh wilayah Indonesia. Armada logistik laut menjadi penghubung utama yang memastikan energi dapat tersalurkan dari titik suplai hingga ke berbagai wilayah tujuan di seluruh Indonesia, terutama untuk menjangkau daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Secara keseluruhan, operasional distribusi energi Pertamina Patra Niaga, khususnya untuk menjangkau wilayah 3T didukung oleh 148 kapal. Armada ini terdiri dari 139 kapal pengangkut BBM dan sembilan kapal pengangkut LPG. 

Armada tersebut melayani distribusi ke 57 wilayah 3T yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Keberadaan armada kapal dalam pengelolaan bisnis captive sub holding downstream berperan untuk memastikan kelancaran distribusi energi dari sumber pasokan ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk wilayah dengan akses terbatas.

“Distribusi energi di Indonesia menghadapi tantangan geografis yang beragam. Oleh karena itu, kami terus menjaga kesiapan armada logistik laut agar penyaluran energi dapat menjangkau berbagai wilayah, termasuk daerah kepulauan dan 3T secara berkelanjutan,” kata Ega.

Baca Juga: Anak Usaha Buma Internasional Perkuat Ekosistem Pendidikan Vokasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News