Pertamina Patra Niaga Telah Produksi 11 Juta Liter Bioavtur dari Minyak Jelantah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Patra Niaga melanjutkan pengolahan minyak jelantah menjadi bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF) di Kilang Pertamina Cilacap, Jawa Tengah.

Hingga akhir Oktober 2026, produksi SAF dari pengolahan minyak jelantah telah mencapai 11 juta liter.

Wakil Direktur Utama I Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman menjelaskan bahwa melalui proyek ini, minyak jelantah dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan di fasilitas Green Refinery Cilacap.


Baca Juga: B50 Meluncur, Pertamina Patra Niaga Distribusikan 37,92 Juta Liter ke Wilayah Ini

Produksi Pertamina SAF memanfaatkan fasilitas Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) melalui skema co-processing, yakni mengolah minyak jelantah bersama komponen bahan baku lainnya dalam proses produksi.

“Dalam implementasi produksi SAF di Green Refinery Cilacap, kami sudah pada tahap komersialisasi produksi. Pada bulan Oktober ini diproduksi sekitar 11 juta liter co-processed SAF," jelas Taufik dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).

Dalam proses tersebut, lanjut dia, minyak jelantah digunakan dengan rasio sekitar maksimal 5% dari total kapasitas produksi unit TDHT. 

Ia menambahkan, Pertamina Patra Niaga melalui program Community, Involvement, and Development (CID) juga membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah dengan melibatkan masyarakat dan kelompok pengelola sampah di sekitar wilayah operasional Kilang Cilacap. 

Menurut Taufik, pengumpulan minyak jelantah dilakukan dengan memberdayakan bank sampah binaan, serta menyediakan sarana pengumpulan yang mudah diakses masyarakat.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Perluas Partisipasi Perempuan, Dorong Inklusivitas SDM Maritim

“Kami membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah dengan melibatkan masyarakat melalui tiga bank sampah binaan Kilang Cilacap, yaitu Bank Sampah Beo Asri, Bank Sampah Abhipraya, dan Bank Sampah Cahaya Asri," katanya.

Ketiga bank sampah tersebut memiliki volume pengumpulan tahunan sebesar 984 liter dari Bank Sampah Abhipraya, 2.283 liter dari Bank Sampah Beo Asri, dan 717 liter dari Bank Sampah Cahaya Asri.

Minyak jelantah yang dikumpulkan ditukarkan dengan sejumlah uang, sehingga memberikan tambahan nilai ekonomi bagi masyarakat yang terlibat.

Perusahaan juga menyediakan collection box jelantah di Pasar Amarta Kutawaru agar masyarakat memiliki alternatif untuk menyalurkan minyak jelantah yang sudah tidak digunakan.

Collection box jelantah tersebut juga tersedia di sejumlah SPBU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Setiap minyak jelantah yang disetorkan masyarakat baik di collection box maupun bank sampah dapat ditukarkan dengan sejumlah uang atau saldo e-wallet.

“Melalui program ini, kami ingin mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap minyak jelantah. Dengan kolaborasi bersama masyarakat, kami berharap ekosistem pengumpulan minyak jelantah dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lingkungan maupun ekonomi,” tambah Taufik.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Tambah Pasokan BBM & Siagakan SPBU Jelang MotoGP Mandalika 2026

Program pengolahan minyak jelantah menjadi bioavtur ini juga ditinjau oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat mengunjungi Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap pada Senin (26/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Gibran bilang inovasi energi perlu memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Oleh sebab itu, pengembangan SAF dinilai harus diiringi dengan pemberdayaan warga setempat.

“Pengembangan SAF harus berjalan bersama pemberdayaan masyarakat. Sehingga minyak jelantah yang dikelola ibu-ibu melalui bank sampah dapat memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan industri nasional,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News