Pertamina terus kembangkan teknologi hulu migas



JAKARTA. Untuk meningkatkan cadangan dan produksi Migas, pekerja Migas di lingkungan Direktorat Hulu, PT Pertamina (Persero) menyelenggarakan Forum Sharing Teknologi Hulu (FSHT) ke-4. Forum ilmiah ini bertujuan untuk menghasilkan temuan baru di bidang teknologi hulu, yang bisa dimplementasikan secara praktis di blok-blok Migas Pertamina.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Elia Massa Manik berharap FSHT dapat mendukung peningkatan produksi dan cadangan migas. “Forum semacam ini akan mempercepat peningkatan kemampuan dalam penerapan teknologi yang efektif dan efisien, baik dalam bisnis Migas maupun energi alternatif lainnya,”ujar Massa dalam siaran pers pada Selasa (25/7).

Dari forum semacam ini telah dihasilkan beberapa temuan teknologi, antara lain UTC yang kini sedang dipatenkan sebagai teknologi Pertabocsy. Yakni, suatu teknologi untuk mengidentifikasi keberadaan hidrokarbon secara langsung dari Thermal Anomaly.


Selain itu, ada beberapa temuan dibidang passive seismic, Drilling Mobile Apps (aplikasi engineering bidang pemboran dalam format aplikasi mobile yang sudah dipakai di seluruh dunia), dream well (berupa drilling data base), sentralisasi data (PUDC) yang sudah memperoleh ISO 27001. Di luar penemuan teknologi, juga ada  pendirian Lab EOR, penerbitan Pedoman Geohazard, Pedoman Keteknikan Reservoir dan Produksi serta Pedoman Operasi Drilling.

Pada awal tahun 2017 kegiatan eksplorasi Pertamina Hulu berhasil menemukan cadangan baru dari sumur Parang-1 (PHE Nunukan) sebesar 126 MMBOE (2C), dan Haur Gheulis dari Sumur Haur Gede-1 dengan estimasi cadangan 14 MMBO (2C).

Realisasi Produksi Migas dari 2014 sampai 2016 meningkat. Pada 2014 produksi migas sebesar 549 KBOEPD meningkat 11% menjadi 607 KBOEPD. Di tahun 2016, produksi kembali meningkat 7% menjadi 650 KBOEPD. Sementara realisasi produksi migas pada semester pertama 2017 sebesar 692 KBOEPD naik lebih 8% bila dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. “Tahun ini produksi melebihi target RKAP sebesar 685 KBOEPD. Ini menunjukkan, Pertamina berkomitmen memenuhi target produksi migas nasional,”kata Syamsu Alam, Direktur Hulu PT Pertamina. .

Sedangkan untuk realisasi kapasitas terpasang Geothermal, lanjut Syamsu Alam dari 2014 s/d 2016 meningkat 15%, dimana pada 2014 sebesar 402 MW menjadi 437 MW pada 2015 dan di 2016, meningkat menjadi 532 MW. Realisasi kapasitas terpasang Geothermal pada 2017 sebesar 587 MW masih lebih rendah dari RKAP 2017 yang sebesar 617 MW.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Johana K.