Pertamina Ungkap Tantangan Hulu Migas, Optimalisasi Aset Butuh Pendekatan Menyeluruh



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina (Persero) mendorong penguatan kolaborasi regional di kawasan Asia Tenggara guna mengoptimalkan pengelolaan aset hulu minyak dan gas bumi (migas). 

Ini dinilai penting di tengah tantangan mempertahankan produktivitas lapangan eksisting yang beroperasi puluhan tahun sekaligus menjaga keekonomian serta mengelola fasilitas yang mendekati akhir masa operasinya.

Senior Vice President Strategy & Investment Pertamina sekaligus Ascope Secretary in Charge (ASIC), Henricus Herwin mengungkapkan, negara anggota ASEAN menghadapi kendala serupa dalam mengelola rantai pasok hulu migas.


Baca Juga: Pemerintah Berburu Pasokan BBM dari China-India, Ekonom: Singapura Masih Mendominasi

Menurutnya, optimalisasi aset membutuhkan strategi yang terintegrasi mulai dari masa produksi hingga tahap penutupan fasilitas.

Hal tersebut diungkapnya dalam pembukaan ASCOPE 51st Council Meeting di Sanur, Bali, Senin (26/10/2026).

“Kita berkumpul dalam forum ini untuk membantu kawasan kita (ASEAN) memaksimalkan potensi setiap aset hulu minyak dan gas bumi sepanjang siklus hidupnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (28/10/2026).

Henricus mengatakan, tantangan operasional tersebut dapat diselesaikan melalui ajang ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE), pertukaran data, bukti teknis, serta pengalaman lapangan dapat dilakukan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih terukur dalam tata kelola aset migas di tingkat regional.

“Dengan berbagi kemajuan, data, dan pengalaman di antara anggota ASCOPE, kita dapat membantu setiap anggota mengambil keputusan yang lebih baik terkait aset yang dikelolanya masing-masing, sekaligus mengubah pengetahuan regional menjadi hasil yang nyata dan dapat diterapkan,” katanya.

Sementara itu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan potensi sumber daya sebesar 2,6 miliar barel setara minyak (BBOE) dari kegiatan eksplorasi nasional pada 2026. 

Baca Juga: Halodoc Perkuat Inovasi dan Apresiasi Dokter Mitra

Dari target tersebut, sebanyak 12 sumur berkategori high impact diproyeksikan menyumbang sekitar 80% atau setara 2,2 BBOE.

“Indonesia menawarkan portofolio peluang yang beragam bagi investor dengan strategi dan tingkat toleransi risiko yang berbeda-beda,” ujar Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus.

SKK Migas mencatat lima dari 12 sumur high impact tersebut dikelola oleh entitas Pertamina, antara lain Besar-1 (Pertamina East Natuna), Banyu Geni-01 dan Wijaya Kusuma-1 (Pertamina EP), Padang Pancuran-002 (PEP), serta Tingkilan-1 (PHE LPB). 

Meski potensinya signifikan, seluruh target sumber daya tersebut masih harus dibuktikan melalui tahap pengeboran serta evaluasi teknis lebih lanjut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News