Pertamina&Total duduk bareng bahas porsi saham



JAKARTA. PT Pertamina memastikan, pekan depan akan membahas rencana pengurangan kepemilikan saham (share down) Blok Mahakam dengan PT Total EP Indonesie. Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam menyatakan pembahasan pekan depan itu lebih kepada soal teknis. "Kalau mau masuk seperti apa, mekanismenya seperti apa," jelas Syamsu, Rabu (5/7).

Sementara terkait nilai valuasi porsi share down di blok tersebut belum akan dibahas. Begitu juga dengan besaran share down yang akan dialihkan ke Total EP.

Seperti diketahui, Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia Sudirman Said ketika itu, pada tahun 2015 memutuskan memberi ruang bagi Pertamina melakukan share down maksimal 30% di Blok Mahakam ke Total EP.


Namun belakangan, Total E&P Indonesie telah mengirimkan surat kepada Menteri ESDM Ignasius Jonan agar meminta share down di Blok Mahakam sebesar 39% dari sebelumnya 30%, first tranche petroleum (FTP) menjadi 0%, dari yang biasanya 20% dari produksi kotor, investment credit 20%.

Lalu Total EP meminta percepatan masa depresiasi dari lima tahun menjadi dua tahun. Terakhir Total EP bersedia membayar bonus tandatangan sekitar US$ 13 juta dari jumlah US$ 41 juta. Ini dengan catatan, bisa mendapatkan 39% saham.

Terkait permintaan share down menjadi 39% itu, Syamsu tidak mau banyak berkomentar. "Itu kan pemerintah. Pertamina masih mengacu pada surat Menteri ESDM sebelumnya (Sudirman Said)," ujar Syamsu Alam.

Informasi yang diperoleh KONTAN menyebutkan, lima permintaan Total EP termasuk penambahan share down menjadi 39% hingga kini belum dijawab oleh Jonan. Padahal penambahan saham itu adalah restu Menteri ESDM pada 13 Maret 2017 melalui rilis resmi.

Masalah lain adalah, belum ada kejelasan dana investasi Pemprov Kalimantan Timur (Kaltim) yang harus disetorkan untuk operasional Mahakam. Apakah nanti akan ditanggung Pertamina seluruhnya atau dibebankan ke Total EP juga. Sebab dengan participating interest 10% ke Kaltim, setoran dana awal untuk investasi sangat besar, dari total investasi sekitar Rp 12 triliun-20 triliun per tahun.

Soal surat Total EP, Jurubicara Kementerian ESDM Sujatmiko juga belum bisa memastikan kapan akan akan dijawab. "Saya cek dulu, ya," kata dia singkat.

Siap ngebor Mahakam

Sementara Syamsu bilang, pada pertengahan bulan Juli ini akan mulai dilakukan pemboran sumur yang didanai oleh Pertamina.

Nah, hingga akhir tahun Pertamina berencana membiayai pengeboran 14-15 sumur di Blok Mahakam. Dengan tambahan pengeboran tersebut diharapkan, produksi Blok Mahakam terjaga sekitar 1 billions of standard cubic feet (bcf) atau bisa meningkat dari produksi gas Blok Mahakam saat ini yang mencapai sekitar 1,2 bcf.

Fahmi Radhi Pengamat Energi Universitas Gajah Mada, mengatakan, Pertamina mampu mengelola secara mandiri bahkan menaikkan produksi. "Teknoogi bisa dibeli, tenaga ahli bisa disewa. butuh investasi bisa dicari karena kandungan gas Mahakam masih besar," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini