Pertemuan G20 evaluasi volatilitas harga komoditi



JAKARTA. Pertemuan G20 yang berlangsung pada 17-19 Februari 2011 di Paris, Prancis telah menghasilkan keputusan untuk mengevaluasi volatilitas harga komoditi serta perlunya investasi jangka panjang di sektor pertanian negara berkembang.Menteri Keuangan Agus Martowardojo menjelaskan, G20 bekerjasama dengan organisasi internasional terkait akan mengevaluasi penyebab volatilitas harga komoditi. “G20 juga mengingatkan perlunya investasi jangka panjang di sektor pertanian di negara berkembang," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (21/2).Selain itu, negara anggota G-20 mempertegas komitmen untuk melakukan kebijakan yang terkoordinasi guna mencapai pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan dan seimbang.

Menkeu menambahkan meskipun sistem ekonomi moneter saat ini menunjukkan daya tahan terhadap krisis, beberapa permasalahan mendasar masih perlu diperbaiki agar terdapat stabilitas moneter yang lebih kuat. "Untuk memperkuat sistem moneter internasional, G20 menyepakati program kerja yang meliputi pendekatan atas manajemen capital flow dan global liquidity," ujarnya.

Kemudian, negara anggota G20 menyambut hasil kesepakatan Cancun Climate Conference, khususnya pembentukan Green Climate Fund dan akan membahas mobilisasi sumber pendanaan, baik dari publik maupun swasta, bilateral dan multilateral, juga sumber-sumber pembiayaan yang inovatif sesuai dengan prinsip UNFCCC.Pertemuan Deputi Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral serta Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral kelompok Negara G-20 di Paris yang dihadiri oleh 20 Anggota G20, beserta lima negara diundang sebagai observer yaitu Ethiopia, Spanyol, Singapura, Uni Emirat Arab serta Equatorial Guinea. Dalam pertemuan ini Menteri Keuangan Agus Martowardojo, mengusulkan beberapa indikator internal seperti posisi keuangan publik dan swasta, termasuk public debt, fiscal deficit, private saving, dan private debt. Pada sesi reformasi sistem moneter internasional, Menkeu menyampaikan bahwa regional financial safety net diperlukan dalam rangka mengatasi permasalahan likuiditas global, serta diperlukan adanya kerjasama internasional seperti yang dilakukan melalui ASEAN+3 dengan IMF melalui Chiang Mai Initiatives.Pada sesi komoditi, Menkeu menyampaikan salah satu upaya mengatasi krisis pangan adalah melalui pengembangan varietas unggul untuk membantu negara miskin meningkatkan produksi. “Diharapkan negara-negara maju dapat memobilisasi pendanaan untuk pengembangan penelitian varietas unggul,” ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini