KONTAN.CO.ID - Pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pekan lalu menghasilkan sejumlah kesepakatan terbatas. Namun, hasil tersebut sekaligus menunjukkan masih lebarnya perbedaan antara Washington dan Beijing dalam sejumlah isu strategis. Trump sebelumnya berharap pertemuan yang berlangsung dengan rangkaian seremoni tersebut dapat memperlihatkan kekuatan hubungan pribadinya dengan Xi.
Namun, minimnya hasil substantif membuat sejumlah analis menilai hubungan AS-China masih berada dalam kondisi kebuntuan yang dikelola.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi Selasa (29/9), Brent Tembus US$ 105,91 per Barel "Hubungan AS-China telah berada dalam kebuntuan yang dikelola," kata Craig Singleton, Direktur Senior Foundation for Defense of Democracies, seperti dikutip
Reuters. Menurut dia, kemeriahan pertemuan justru menjadi penting karena masih relatif sedikit kemajuan substantif yang dapat ditunjukkan kedua negara. Dalam pertemuan tersebut, AS dan China menyatakan mencapai konsensus untuk menurunkan tarif atas sekitar US$ 60 miliar barang yang tidak sensitif. Namun, belum ada jadwal implementasi kesepakatan tersebut. Sementara itu, tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan dagang yang lebih luas kembali ditunda hingga tahun depan. China dapat ruang bernapas Tidak adanya delegasi CEO perusahaan China yang mendampingi Xi juga menyoroti masih kuatnya kecurigaan AS terhadap investasi China. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan skema investasi dua arah yang sebelumnya diperkenalkan kedua pemimpin dalam pertemuan di Beijing pada Mei. "Pertemuan Trump-Xi menciptakan suasana politik yang positif, tetapi tidak mempersempit perbedaan atau mengurangi kecurigaan di antara kedua negara," kata Drew Thompson, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura.
Baca Juga: Ini Daftar IPO Terbesar di Dunia, Anthropic Akan Menjadi Salah Satunya Joe Mazur, analis geopolitik dari konsultan Trivium yang berbasis di Beijing, menilai pertemuan tersebut justru menjadi keuntungan dari sisi citra bagi China. Trump terlihat memberikan sambutan khusus kepada Xi sejak kedatangannya. Ia bahkan menyambut Xi di bandara, sebuah langkah yang disebut sebagai pertama kalinya dilakukan presiden AS terhadap pemimpin negara lain dalam 11 tahun. Dalam jamuan kenegaraan yang dihadiri pejabat tinggi pemerintah dan tokoh industri teknologi, Trump juga mengatakan hubungan keduanya "belum pernah sebaik ini". Mantan pejabat Kementerian Luar Negeri China Shen Weizhong menilai sikap AS tersebut bahkan melampaui ekspektasi Beijing. Menurut dia, China tidak selalu menganggap pertemuan antara kedua pemimpin harus menghasilkan sejumlah kesepakatan spesifik atau penurunan tarif. Pertemuan dan komunikasi langsung antara Trump dan Xi juga memiliki arti penting bagi Beijing. China sendiri masih memiliki sejumlah sumber daya untuk mempertahankan posisi tawarnya. Dominasi China dalam produksi logam tanah jarang (
rare earths) dan mineral penting untuk industri teknologi, otomotif hingga pertahanan memberikan pengaruh dalam negosiasi dagang. Di sisi lain, perdagangan China dengan berbagai negara tetap meningkat meski menghadapi ancaman tarif dari pemerintahan Trump.
Baca Juga: Atasi Hambatan Keuangan dan Politik, Merger Perusahaan Tambang Bakal Marak? Tarif barang pertanian jadi kesepakatan Meski hasil pertemuan relatif terbatas, Trump tetap membawa sejumlah hasil dari pertemuan tersebut. Kementerian Perdagangan China pada Senin menyatakan China mengusulkan penurunan tarif untuk sejumlah produk pertanian AS, mulai dari jagung hingga produk susu. Sebagai bagian dari kesepakatan, AS akan menurunkan tarif atas sejumlah produk China seperti mainan, kembang api dan ornamen Natal. Langkah tersebut berpotensi memberikan angin segar bagi petani AS yang menjadi salah satu kelompok pemilih penting bagi Trump menjelang pemilu sela November. Namun, kedelai tidak tercantum dalam daftar produk pertanian AS yang mendapat manfaat dari kebijakan tersebut. Kondisi ini membuat pembelian kedelai China masih rentan terpengaruh jika hubungan kedua negara kembali memburuk.
Baca Juga: Anthropic Bidik IPO, Valuasi Dipatok Tembus US$ 2 Triliun Isu Taiwan masih mengemuka Selain perdagangan, isu geopolitik juga tetap menjadi sumber perbedaan antara AS dan China. China belum menunjukkan indikasi kuat akan membantu Trump mengakhiri perang dengan Iran. Tak lama setelah Xi meninggalkan Washington, Wakil Presiden China Han Zheng menyampaikan kritik terhadap posisi AS mengenai Iran dan ancaman AS terhadap Kuba dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Xi juga kembali menyinggung isu Taiwan dalam pertemuannya dengan Trump. China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara Taiwan menjalankan pemerintahan sendiri dan mendapat dukungan keamanan dari AS. Trump tidak membahas isu Taiwan secara terbuka dalam pernyataan publiknya. Sikap tersebut berbeda dengan pertemuan pada Mei ketika Trump menyebut paket penjualan senjata senilai US$ 14 miliar kepada Taiwan sebagai "alat negosiasi" dengan Beijing.
AS selama ini menilai rangkaian pertemuan Trump dan Xi penting untuk menjaga hubungan kedua negara tetap stabil.
Baca Juga: AS dan Iran Kembali Berunding, Upaya Akhiri Perang Masuk Babak Baru Namun, intensitas pertemuan tersebut juga memberikan Beijing waktu untuk menghadapi sejumlah kebijakan AS yang tidak diinginkan, termasuk rencana penjualan senjata ke Taiwan. Jeremy Chan, analis senior Eurasia Group dan mantan diplomat AS di China, menilai kondisi tersebut memberikan keuntungan strategis bagi Beijing sekaligus menimbulkan implikasi bagi Taiwan dan sejumlah sekutu AS di kawasan.