Pertumbuhan DPK Perbankan Melambat, Bank Berebut Dana Murah di Kuartal IV-2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan diperkirakan tetap tumbuh pada kuartal IV-2026. Namun, perbankan masih menghadapi tantangan untuk mengakselerasi pertumbuhan dana di tengah persaingan suku bunga simpanan dan kebutuhan likuiditas yang meningkat.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), DPK perbankan tumbuh 10,94% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 10.413 triliun per Agustus 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Juli 2026 yang mencapai 11,21% yoy.

Meski demikian, prospek penghimpunan dana pada kuartal IV-2026 masih menunjukkan optimisme. Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) mencatat saldo bersih tertimbang (SBT) prakiraan pertumbuhan DPK secara kumulatif atau year to date (ytd) sebesar 89,76%, meningkat dari 87,52% pada kuartal III-2026.


Baca Juga: Transaksi BSI International Expo Tembus Rp 5,38 Triliun, Haji dan Umrah Mendominasi

Namun, indikator tersebut masih di bawah SBT kuartal IV-2025 yang mencapai 93,97%. Berdasarkan jenis simpanan, BI memperkirakan tabungan dan giro akan menjadi penopang penghimpunan dana pada kuartal IV-2026. 

SBT tabungan tercatat 90,29%, sedangkan giro sebesar 89,64%. Sebaliknya, deposito diprakirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan SBT sebesar 28,74%.

SVP Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, peningkatan SBT penghimpunan DPK menunjukkan optimisme perbankan terhadap prospek pendanaan pada akhir tahun.

"Menurut saya, peningkatan SBT penghimpunan DPK dari 87,52% menjadi 89,76% menunjukkan optimisme perbankan terhadap prospek pendanaan pada triwulan IV 2026, terutama didorong oleh potensi peningkatan aktivitas transaksi korporasi, realisasi belanja pemerintah, serta transaksi masyarakat menjelang akhir tahun," ujar Trioksa kepada Kontan, Senin (26/10/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa optimisme tersebut perlu dicermati karena SBT mencerminkan ekspektasi responden, bukan besaran pertumbuhan DPK yang terealisasi.

"Optimisme tersebut perlu dicermati karena SBT mencerminkan ekspektasi responden, bukan besaran pertumbuhan DPK, sementara realisasi DPK Agustus masih menunjukkan perlambatan pertumbuhan secara tahunan," katanya.

Menurut Trioksa, giro dan tabungan berpotensi menjadi penopang utama melalui aktivitas transaksi bisnis, payroll, cash management, serta layanan perbankan digital. Sementara itu, deposito tetap berperan dalam menjaga stabilitas pendanaan meskipun berpotensi meningkatkan biaya dana.

Baca Juga: BRI Salurkan KUR Rp 144 Triliun kepada 2,76 Juta Debitur hingga Agustus 2026

"Tantangan perbankan berasal dari pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan DPK, persaingan suku bunga simpanan, kebutuhan likuiditas dunia usaha, serta peralihan dana masyarakat ke instrumen investasi dengan imbal hasil lebih menarik," jelasnya.

Karena itu, bank perlu memperkuat penghimpunan dana murah melalui perluasan ekosistem transaksi, meningkatkan loyalitas nasabah, mendiversifikasi sumber pendanaan, serta menerapkan strategi bunga deposito secara selektif.

Di tengah persaingan pendanaan, perbankan perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan DPK, biaya dana, dan kebutuhan ekspansi kredit. Trioksa memperkirakan pertumbuhan DPK hingga akhir 2026 tetap positif dengan peluang akselerasi moderat, meski tidak merata di setiap bank.

Kualitas pertumbuhan juga menjadi perhatian. Ketergantungan pada deposito berbunga tinggi atau dana korporasi jangka pendek dapat menekan profitabilitas sekaligus meningkatkan risiko likuiditas.

Sejumlah bank mulai memperkuat strategi penghimpunan dana murah untuk menjaga pertumbuhan DPK sekaligus mengelola biaya pendanaan.

Direktur Utama PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) Kunardy Darma Lie mengatakan, perusahaan akan mengoptimalkan hubungan dengan nasabah korporasi eksisting, mengembangkan ekosistem bisnis nasabah, serta meningkatkan aktivitas transactional banking pada kuartal IV-2026.

"Strategi ini diarahkan untuk memperkuat basis pendanaan, khususnya dana murah atau Current Account and Savings Account (CASA)," ujar Kunardy.

Baca Juga: OJK Pantau 26 Emiten Bank yang Belum Penuhi Free Float 15%, Ini Daftarnya

KB Bank juga mengoptimalkan aktivitas transaksi nasabah korporasi dan mengembangkan layanan perbankan transaksional untuk memperkuat keterikatan nasabah dengan layanan.

Berdasarkan laporan posisi keuangan bulanan, DPK KB Bank mencapai Rp 46,75 triliun per Agustus 2026, tumbuh 11,21% yoy dari Rp 42,04 triliun pada Agustus 2025.

Giro tumbuh 17,04% yoy menjadi Rp 8,73 triliun, sedangkan tabungan meningkat 14,06% yoy menjadi Rp 5,76 triliun. Adapun deposito naik 9,25% yoy menjadi Rp 32,26 triliun.

Kunardy mengatakan, KB Bank tetap mempertimbangkan dinamika pasar dan kebutuhan nasabah dalam menentukan strategi penghimpunan dana, termasuk penetapan suku bunga simpanan.

"Melalui pendekatan tersebut, KB Bank berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan DPK, efisiensi pendanaan, dan kebutuhan bisnis secara berkelanjutan dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian," katanya.

Di sisi lain, PT Allo Bank Indonesia Tbk mencatatkan penurunan DPK sebesar 24,50% yoy menjadi Rp 6,63 triliun per 30 September 2026, dari Rp 8,78 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut terutama disebabkan kontraksi deposito yang turun 33,63% yoy menjadi Rp 5,15 triliun. Sementara itu, giro tumbuh 126,78% yoy menjadi Rp 461,33 miliar dan tabungan meningkat 24,90% yoy menjadi Rp 1,02 triliun.

Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan, perusahaan optimistis penghimpunan DPK akan membaik secara bertahap hingga akhir tahun, dengan komposisi pendanaan yang semakin sehat.

"Kami juga optimistis DPK Allo Bank akan bergerak membaik secara bertahap hingga akhir tahun, dengan komposisi yang semakin sehat," ujar Destya.

Baca Juga: OJK Pantau 26 Emiten Bank yang Belum Penuhi Free Float 15%, Ini Daftarnya

Ia menambahkan, fokus Allo Bank bukan hanya mengejar pertumbuhan nominal DPK, tetapi juga membangun basis pendanaan yang lebih terdiversifikasi dan berkelanjutan.

"Fokus kami saat ini bukan sekadar mengejar nominal, tetapi membangun basis pendanaan yang lebih granular dan berkelanjutan," katanya.

Hingga Agustus 2026, tabungan Allo Bank tumbuh 26% yoy menjadi sekitar Rp 1,01 triliun, sedangkan giro meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar Rp 479 miliar.

Untuk kuartal IV-2026, Allo Bank melihat peluang pertumbuhan dari momentum musiman akhir tahun, meningkatnya transaksi melalui aplikasi, serta program kolaborasi dengan mitra ekosistem.

"Tabungan dan giro akan menjadi motor utama pertumbuhan, sejalan dengan strategi kami memperbesar porsi CASA," jelas Destya.

Ia menyebut, perusahaan mendorong nasabah menjadikan Allo Bank sebagai rekening utama untuk transaksi harian, termasuk QRIS, transfer, pembayaran tagihan, dan penerimaan gaji. Produk Allo Grow juga dikembangkan sebagai pilihan menabung yang fleksibel.

Di sisi lain, deposito tetap menjadi bagian dari strategi pendanaan, terutama untuk nasabah ritel dan segmen affluent. Allo Bank juga melakukan penyesuaian bunga deposito secara selektif sejak 17 September 2026 agar tetap kompetitif tanpa terlibat dalam perang bunga.

Destya mengatakan, tantangan penghimpunan DPK berasal dari persaingan suku bunga, daya beli masyarakat, serta kebutuhan mengurangi ketergantungan pada dana besar yang terkonsentrasi dan mahal.

Baca Juga: OJK Pantau 26 Emiten Bank yang Belum Penuhi Free Float 15%, Ini Daftarnya

Untuk mengatasinya, Allo Bank memperkuat kebiasaan transaksi dan menabung nasabah, memperluas integrasi ekosistem dan layanan payroll, serta memanfaatkan data nasabah untuk memberikan penawaran yang lebih personal.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga memprioritaskan penghimpunan DPK di tengah kondisi likuiditas yang menantang.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita W. Anggraini mengatakan, perusahaan masih mengevaluasi target pertumbuhan DPK hingga akhir 2026 dengan mempertimbangkan realisasi kinerja, kondisi pasar, dan prospek bisnis.

"Ke depan, pertumbuhan DPK tetap menjadi prioritas utama kami mengingat kondisi likuiditas yang cukup menantang," ujar Novita.

Pada September 2026, DPK Bank Mandiri mencapai Rp 1.750,2 triliun, tumbuh 17,7% yoy dari Rp 1.486,9 triliun pada September 2025.

Pertumbuhan tersebut ditopang giro yang meningkat 20,2% yoy menjadi Rp 678,6 triliun, tabungan yang tumbuh 10,9% yoy menjadi Rp 579,56 triliun, serta deposito yang naik 23,1% yoy menjadi Rp 492,02 triliun.

Novita mengatakan, perusahaan memprioritaskan penghimpunan dana murah berbasis transaksi dan penguatan digitalisasi untuk menjaga profitabilitas.

Dalam menjaga kinerja hingga akhir tahun, Bank Mandiri juga meningkatkan aktivitas transaksi nasabah dan memperkuat digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas serta profitabilitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News