Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diproyeksi Melambat ke Kisaran 5,2% di Kuartal III-2026



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diproyeksikan mengalami perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya. Sejumlah ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada periode Juli-September 2026 berada di kisaran 5,2% secara tahunan (year on year/yoy).

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 berada di rentang 5,15% hingga 5,20% yoy. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang mencapai 5,29% yoy.

"Pertumbuhan ekonomi diprediksi melambat sedikit dari 5,29% yoy pada kuartal II-2026 menjadi 5,15%-5,20% yoy pada kuartal III-2026," ujar David kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).


Baca Juga: Harga Sejumlah Bahan Pokok Mengalami Perubahan pada Selasa (3/11)

David menjelaskan, ekspor dan aktivitas manufaktur menjadi sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026. Namun, konsumsi, baik rumah tangga maupun pemerintah, tampak mengalami perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Sementara itu, Program Director Prasasti Policy Piter Abdullah memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 berada di kisaran 5,1%-5,3% yoy, dengan titik tengah sebesar 5,2%.

"Perkiraan kami di Prasasti, pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 5,1% hingga 5,3%. Titik tengahnya 5,2%, sedikit di bawah pertumbuhan triwulan yang lalu," ujar Piter.

Menurut Piter, perlambatan tersebut masih tergolong wajar jika melihat pola historis pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III biasanya sedikit melambat sebelum kembali meningkat pada kuartal IV.

"Tapi itu normal karena secara historis pertumbuhan ekonomi triwulan III biasanya sedikit melambat untuk kemudian meningkat lagi pada triwulan IV," jelasnya.

Piter menyebut, konsumsi dan investasi masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kontribusi kedua komponen tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 80%.

Baca Juga: Harga Sejumlah Bahan Pokok Mengalami Perubahan pada Selasa (3/11)

Dari sisi konsumsi, Piter memperkirakan pertumbuhannya masih dapat bertahan di kisaran 5%. Menurutnya, konsumsi kelompok masyarakat menengah atas relatif tidak terganggu. 

Sementara itu, kelompok masyarakat bawah masih menghadapi tekanan daya beli akibat penurunan pendapatan maupun inflasi.

Meski demikian, konsumsi kelompok bawah diperkirakan tetap terjaga karena ditopang bantuan pemerintah maupun penggunaan tabungan.

Adapun prospek investasi masih menjadi salah satu komponen yang perlu dicermati. Piter menilai, pertumbuhan investasi di atas 5% masih menjadi perdebatan. Meski begitu, indikator aktivitas manufaktur menunjukkan adanya perbaikan.

Ia mencontohkan, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur terakhir mencapai level 54. Angka tersebut mengindikasikan adanya perbaikan aktivitas dan optimisme pelaku usaha.

Baca Juga: Pajak Digital Diperluas, Pengamat Ingatkan Dampaknya ke Konsumen

Terlepas dari realisasi pertumbuhan ekonomi nantinya, Piter menilai pemerintah perlu terus berupaya memulihkan kepercayaan pasar. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dinilai masih berada jauh di bawah potensi maupun target yang ditetapkan pemerintah.

"Iklim investasi perlu dikembalikan," tegas Piter.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News