Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Diprediksi Melambat, Investasi Bisa Jadi Penyelamat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. 

Meski demikian, investasi diproyeksikan menjadi penopang utama pertumbuhan di tengah melemahnya kinerja ekspor dan tantangan terhadap daya beli masyarakat.

Kepala Ekonom BCA David Sumual memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,12% pada kuartal II-2026, lebih rendah dibandingkan realisasi pada kuartal I.


Baca Juga: Indonesia Masih Ekspor Minyak Mentah, Thailand Jadi Tujuan Utama

Menurutnya, perlambatan tersebut terjadi ketika kontribusi ekspor bersih mulai melemah. Di sisi lain, investasi diperkirakan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi berkat sejumlah proyek prioritas pemerintah.

"Komponen investasi diperkirakan jadi pendorong utama, didorong oleh beberapa program flagship pemerintah," kata David kepada Kontan, Senin (3/8/2026).

David menilai, tantangan terbesar pada semester II-2026 adalah menjaga agar investasi swasta ikut bergerak. Pasalnya, investasi tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membuka lapangan kerja yang pada akhirnya menopang konsumsi rumah tangga.

"Kebijakan yang bisa mendorong investasi swasta menjadi salah satu hal paling mendesak untuk menjaga momentum pertumbuhan di semester II. Karena nantinya ini akan berdampak juga ke daya beli (via rekrutmen tenaga kerja), sehingga bisa mendorong belanja masyarakat di tengah ruang fiskal yang terbatas," jelasnya.

Senada, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II berada di kisaran 5,18%, atau melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. "Kami perkirakan di 5,18%, melambat dari kuartal sebelumnya," kata Faiz.

Faiz menilai, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi pada semester II akan sangat bergantung pada realisasi berbagai stimulus yang telah dirancang pemerintah. 

Baca Juga: Luas Panen Padi Juni 2026 Naik 6,93%, Produksi Beras Tembus 2,47 Juta Ton

Hal tersebut dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kenaikan biaya produksi.

"Untuk semester II, stimulus-stimulus yang sudah direncanakan harus dipastikan untuk dijalankan karena di tengah kondisi global yang masih melemah dan biaya produksi yang meningkat ada potensi daya beli akan tergerus di semester II," katanya.

Ia menambahkan, sektor manufaktur memang masih berada pada fase ekspansi berdasarkan indeks aktivitasnya. Namun, tekanan biaya produksi belum mereda akibat harga energi yang masih tinggi.

"Jika ini berkepanjangan, maka margin akan terus tergerus atau harga output bisa dinaikkan. Sehingga, ke depan jika stimulus-stimulus tidak diberikan akan membuat pelemahan pada permintaan domestik yang berpengaruh ke manufaktur," imbuh Faiz.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berada di kisaran 5,4%, lebih rendah dibandingkan capaian kuartal I sebesar 5,61%. "Kemarin (kuartal I-2026) 5,6%, mungkin kuartal II 5,4% sampai 5 point sekian," kata Purbaya.

Meski demikian, pemerintah tetap optimistis momentum pertumbuhan akan membaik pada paruh kedua tahun ini. Purbaya meyakini kondisi ekonomi pada kuartal III dan IV akan lebih kuat dibandingkan semester pertama, meskipun belum merinci besaran proyeksinya.

Menurutnya, salah satu strategi yang akan ditempuh pemerintah adalah memastikan likuiditas di dalam perekonomian tetap terjaga sehingga mampu mendukung kegiatan usaha, investasi, dan konsumsi rumah tangga. "Karena kita pastikan cukup uang di sistem perekonomian untuk mendorong ekonomi," imbuhnya.

Baca Juga: Cabai hingga Ayam Naik, Harga Pangan Terancam Bergejolak di Agustus Akibat El Nino

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News