KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 diprediksi lebih rendah dibanding kuartal I – 2026. Perlambatan tersebut terjadi lantaran tekanan eksternal. Fithra Faisal Hastiadi, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia mengungkapkan, pada kuartal II ini mencerminkan pilihan kebijakan yang disengaja. Indonesia menerima perlambatan pertumbuhan jangka pendek yang moderat sebagai imbalan atas stabilitas makroekonomi yang lebih kuat dalam jangka menengah. “Pembacaan kami terhadap indikator-indikator berfrekuensi tinggi terbaru menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia kemungkinan tumbuh sekitar 5,20% pada kuartal kedua,” ujar Fithra dalam risetnya, Senin (29/6/2026).
Sekilas, angka ini memang mencerminkan perlambatan dibandingkan kuartal pertama yang sangat kuat. Namun, menurut Fithra konteks tetap penting.
Baca Juga: Pemerintah Optimistis Ekonomi RI Bisa Tumbuh hingga 8%, Ini Motor Penggeraknya “Perlambatan tersebut lebih mencerminkan tekanan eksternal yang bersifat sementara daripada memburuknya fundamental ekonomi Indonesia,” jelas Fithra. Sedikit mereview, Fithra memaparkan, Indonesia memasuki tahun 2026 dengan momentum yang kuat. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61% pada kuartal pertama, merupakan ekspansi tertinggi sejak tahun 2022. Konsumsi rumah tangga tetap tangguh, belanja pemerintah meningkat melalui program fiskal yang dipercepat di awal tahun, investasi tetap sehat, dan inflasi secara umum masih terkendali. Menurutnya dari permukaan, perekonomian tampak berada pada posisi yang baik untuk terus mengalami percepatan. Namun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mengganggu pasar energi. Harga minyak melonjak melampaui US$100 per barel. Investor global mencari aset-aset Amerika Serikat yang lebih aman seiring menguatnya dolar AS. Mata uang negara berkembang melemah hampir secara bersamaan, termasuk rupiah. Surplus perdagangan Indonesia menyusut tajam karena kenaikan impor minyak meningkatkan tagihan energi nasional. Cadangan devisa menurun seiring intervensi Bank Indonesia untuk meredam volatilitas nilai tukar. “Inilah yang mungkin menjadi karakteristik utama perekonomian global saat ini. Kinerja ekonomi domestik semakin bergantung bukan hanya pada kebijakan dalam negeri, tetapi juga pada berbagai peristiwa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya,” kata Fithra. Fithra bilang, gangguan di Selat Hormuz dapat mempengaruhi inflasi Indonesia. Keputusan yang diambil oleh Federal Reserve dapat mengubah keputusan investasi. Ketegangan politik di satu kawasan dengan cepat berubah menjadi realitas makroekonomi di berbagai belahan dunia lainnya.
Baca Juga: KSBSI Soroti Mandat Satgas PHK, Harus Bisa Cegah PHK Sebelum Terjadi Fithra menilai hal tersebut yang membuat bank sentral menaikkan suku bunga kebijakan acuannya secara kumulatif sebesar 100 basis poin dalam waktu kurang dari dua bulan. Sekilas, suku bunga yang lebih tinggi tampak tidak sejalan dengan upaya mendukung pertumbuhan ekonomi. Biaya pinjaman yang lebih mahal secara alami akan memperlambat investasi, aktivitas properti, dan pembiayaan konsumsi. Karena itu, wajar apabila sebagian pihak mempertanyakan apakah pengetatan moneter justru berisiko memperlambat perekonomian secara tidak perlu.
Menurutnya, stabilitas nilai tukar bukan sekadar melindungi mata uang. Stabilitas tersebut juga berarti menjaga daya beli, mengendalikan inflasi impor, mempertahankan kepercayaan investor, serta memastikan dunia usaha tetap dapat mengambil keputusan investasi jangka panjang dengan tingkat kepastian yang lebih tinggi. Fithra bilang, dalam perekonomian yang masih terintegrasi dengan pasar keuangan global, ketidakstabilan nilai tukar dapat dengan cepat memicu inflasi yang lebih tinggi, impor yang lebih mahal, biaya pendanaan yang meningkat, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah. Dengan kata lain, mempertahankan stabilitas rupiah bukanlah alternatif dari mendukung pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi global saat ini, stabilitas tersebut justru telah menjadi prasyarat bagi pertumbuhan yang berkelanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News