Pertumbuhan Ekonomi Semester Kedua 2022 Bisa Mencapai 5%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Paruh pertama tahun 2022 sudah terlewati. Memasuki semester kedua 2022, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede meyakini kondisi dalam negeri masih memberi kekuatan untuk pertumbuhan ekonomi di paruh kedua tahun ini. 

Josua pun meyakini, pertumbuhan ekonomi pada semester kedua 2022 bisa berada di kisaran 4,7% yoy hingga 5% yoy. “Ini didorong mobilitas yang meningkat sehingga pemulihan ekonomi dari sebagian besar sektor sudah merata,” tutur Josua kepada Kontan.co.id, Minggu (10/7). 

Josua mengamati, keyakinan masyarakat akan kondisi perekonomian makin meningkat. Ini juga tak lepas dari kondisi pandemi yang membaik yang kemudian melecut keyakinan masyarakat untuk memulai aktivitas perekonomian dan meningkatkan permintaan.


Baca Juga: Hadapi Tantangan Global, Indef Sarankan Delapan Hal ke Pemerintah

Meningkatnya permintaan juga kemudian mendorong aktivitas manufaktur untuk meningkat. Josua meyakini, ini bisa menjadi pendorong positif pada perekonomian di semester kedua 2022. 

Meski begitu, Josua juga melihat ada faktor yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini, yaitu dari kondisi global, seperti berlanjutnya perang Rusia dan Ukraina, disrupsi rantai pasok, peningkatan inflasi, serta pengetatan kebijakan kebijakan moneter global. 

Ada juga hal yang berasal dari dalam negeri, yaitu peningkatan kasus harian Covid-19. Pada beberapa waktu terakhir, kasus harian Covid-19 kembali meningkat. Josua pun berharap ini tidak bertahan lama sehingga tidak ada lagi pembatasan kegiatan masyarakat yang kemudian menghambat kegiatan masyarakat. 

“Karena kalau ada peningkatan kasus lagi, akan ada PPKM ketat lagi dan ini bisa membatasi keyakinan masyarakat,” tambah Josua. 

Baca Juga: Laju Inflasi Juli 2022 Berpotensi Menurun

Nah, untuk membatasi dampak negatif dari berbagai peristiwa tersebut, Josua mengimbau pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) untuk menyiapkan kuda-kuda kuat. Menurut Josua yang terpenting saat ini adalah menjaga inflasi dalam negeri, di tengah inflasi global yang makin panas. 

Dalam hal ini, dia mengapresiasi langkah pemerintah untuk memberikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan juga tetap memberikan jaring pengaman sosial untuk menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, koordinasi dengan BI lewat tim pengendalian inflasi juga dilakukan untuk menjaga rantai pasok. 

Dari sisi BI, dia mengimbau bila nanti inflasi terus meningkat sesuai fundamentalnya, BI memiliki ruang untuk mengerek suku bunga acuan. Menurut Josua ini adalah hal yang lumrah dan memang diperlukan. Asal, peningkatannya terukur. 

Baca Juga: Ekonom BCA Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Semester II-2022 Bisa Capai 4,9%

Tak ketinggalan, dia berharap pemerintah tetap mengendalikan kasus Covid-19 agar tidak meningkat signifikan. Hal ini untuk menjaga keyakinan masyarakat untuk tetap tinggi. 

Selain kebijakan di dalam negeri, Josua mengapresiasi langkah pemerintah untuk melakukan pertemuan dengan kedua negara yang berkonflik, yaitu Rusia dan Ukraina. Meski memang keputusan nantinya tetap di kedua negara tersebut, tetapi ia tetap mengapresiasi upaya pemerintah Indonesia ini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati