Pertumbuhan Kinerja Bank Besar Tertekan Bisnis Anak Usaha yang Lesu



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja emiten perbankan yang lesu pada tahun 2025 tak terlepas dari kontribusi anak usaha yang juga turut tertekan.

Sebagai contoh seperti  kinerja anak usaha PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Pada 2025, total laba bersih anak usaha BNI hanya di kisaran Rp 146,4 miliar. Padahal, tahun lalu jumlahnya, laba bersih anak usahanya tembus Rp 491,7 miliar.

Artinya laba anak usaha BNI merosot  hingga 70% secara tahunan (year-on-year/yoy). 


Jika ditelisik, banyak anak usaha BNI yang tak berhasil menambah keuntungan. Bahkan ada yang masih merugi, yakni BNI Finance dengan catatan lonjakan kerugian menjadi Rp 260,1 miliar, dari posisi rugi Rp 11,2 miliar pada tahun sebelumnya. 

Baca Juga: BTN Naikkan Anggaran Capex Sebesar 5% di 2026

Sementara itu, BNI Sekuritas dan hibank kompak mencatatkan penurunan laba, masing-masing sebesar 77,8% yoy menjadi Rp 85,9 miliar dan 62% yoy menjadi Rp 50,1 miliar.

Beruntung, BNI Life Insurance sebagai penyumbang laba terbesar masih berhasil menjaga kinerjanya dengan catatan kenaikan laba sebesar 24,7% yoy menjadi Rp 348,9 triliun. 

Sejalan dengan itu, total kontribusi anak usaha BNI susut 5,4% yoy menjadi Rp 2,4 triliun. Penurunan yang lebih minim ini ditopang peningkatan total aset anak usaha yang tumbuh 19,5% yoy menjadi Rp 63,9 triliun. 

Beralih ke PT Bank Mandiri Indonesia Tbk, total laba setelah pajak anak usaha Bank Mandiri masih berhasil tumbuh meski terbatas pada 2025. Yang mana, jumlahnya mencapai Rp 11,7 triliun, tumbuh 1,1% yoy. 

Baca Juga: BTN Tawarkan KPR Bunga 2,65% dan Diskon Biaya hingga 76%

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) masih menjadi anak usaha dengan sumbangsih terbesar, dengan catatan laba sebesar Rp 7,6 triliun atau tumbuh 8,02%. Menyusul, Mandiri Taspen menyumbang laba sebanyak Rp 1,6 triliun, hanya tumbuh tipis 0,2% yoy. 

Demi menggenjot profitabilitas lebih lanjut, Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan menyebut pihaknya bakal menggenjot pendanaan murah.

Saat ini, ia bilang dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun bank sudah terbilang cukup. Hanya saja, Mandiri Taspen ingin menekan biaya dana guna mendorong laba.

“Di DPK kami pilih-pilih karena sudah cukup. Kami ingin cost of fund turun, dalam hal ini kami mencari CASA. Jadi pertumbuhan tetap di segmen kami di bisnis pensiunan, tetapi untuk DPK-nya kami menyasar CASA,” jelas Panji saat ditemui, Kamis (5/2/2026).

Di segmen pensiunan, Panji melihat tantangannya tak seberapa besar. Selagi industri asuransi stabil, ia bilang bank juga mampu menjaga momentum pertumbuhannya. Lagi pula selain di segmen pensiunan, Panji bilang pihaknya juga merambah kredit kecil untuk UMKM di Bali. 

Baca Juga: BCA Perkuat Sistem IT dan Keamanan Siber dengan Capex Jumbo

Namun agak berbeda, Mandiri Tunas Finance justru mencatatkan koreksi laba cukup dalam tahun lalu, yakni mencapai 68,8% yoy menjadi Rp 401 miliar.

Itu sejalan dengan penurunan pendapatan bunga maupun non bunga masing-masing sebesar 25,4% yoy dan 30,3% yoy. 

Yang perlu jadi perhatian adalah pemisahan BSI mulai tahun ini. Menurut Pengamat Perbankan Moch Amin Nurdin, Bank Mandiri perlu penyesuaian strategi bisnis lebih lanjut sebagai tindak lanjut pelepasan anak usaha terbesarnya itu. 

Secara keseluruhan, Amin bilang umumnya kinerja anak usaha lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi. Jika aktivitas ekonomi cenderung ringan, tak heran kinerja anak usaha bank terbatas. 

“Anak usaha sering punya margin yang lebih tipis karena biaya tetap tinggi, market share kecil, atau sinergi dengan core bank terbatas. Itu bisa membuat laba bersih cenderung lemah,” papar Amin. 

Baca Juga: BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah

Tahun ini pun, Amin melihat prospek kinerja anak usaha bank masih bakal moderat, sejalan dengan pertumbuhan industri perbankan.

Menurutnya, yang perlu menjadi perhatian tetap soal efisiensi operasional dan penguatan kualitas aset. Di samping itu, penting juga untuk memastikan adaptasi terhadap regulasi dan kondisi makro. 

Selanjutnya: Soal Target Stop Impor, SPBU Swasta Menunggu Kebijakan Solar Non Subsidi

Menarik Dibaca: Hujan Sangat Lebat di Provinsi Ini, Simak Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (10/2)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News