Pertumbuhan kredit perbankan tidak tembus 10%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan harus berlapang dada. Pasalnya, permintaan kredit yang kurang menggigit membuat pertumbuhan kredit hanya satu digit. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan pertumbuhan kredit tak akan tembus 10% di akhir tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, arah pertumbuhan kredit berkisar 8% hingga 9% di akhir tahun ini. Sektor pertambangan menjadi penghambat penyaluran kredit, karena memiliki risiko tinggi.

"Di 2017, banyak debitur yang dihapus buku, sehingga banyak bank mencatat pertumbuhan yang stagnan untuk menjaga kredit yang dihapus," terang Wimboh, Kamis (21/12). OJK menilai, segmen kredit komersial mencatat pertumbuhan paling rendah.


Wajar saja, kredit bank sulit tembus dua digit. Sebab OJK melaporkan, hingga November lalu, jumlah kredit cuma Rp 4.605 triliun. Angka ini hanya naik 6,74% dibandingkan posisi Rp 4.314,90 triliun per November 2016.

Selain pertumbuhan kredit lambat, kredit bermasalah pun masih tinggi. OJK melaporkan, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) per November 2017 berada di level 2,89% untuk bank konvensional, dan 3,08% untuk bank syariah.

Regulator perbankan ini meramalkan permintaan kredit mulai naik sedikit di tahun 2018. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menambahkan, kredit akan tumbuh sekitar 10% hingga 12% di tahun depan.

Asumsi peningkatan kredit dua digit tersebut, papar Heru, karena di tahun 2017 banyak bank yang tengah melakukan perbaikan dan konsolidasi. Alhasil, di tahun 2018 diperkirakan laju kredit akan lebih deras, karena pertumbuhan ekonomi membaik.

Toh, proyeksi OJK ini lebih rendah dibandingkan dengan target kredit perbankan. Pada rencana bisnis bank (RBB) tahun 2018, perbankan mematok pertumbuhan kredit sebesar 12,23%.

Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Herry Sidharta mengakui, kredit komersial tumbuh lambat di penghujung tahun ini. BNI mencatat, kredit komersial tumbuh 11% di November 2017. Angka ini lebih rendah dari pertumbuhan kredit BNI sebesar 12,5%.

"Posisi kredit komersial masih berkisar 11% hingga akhir tahun nanti," ucap Herry. Segmen komersial mengalami perlambatan karena kondisi makro ekonomi yang belum stabil.

Bank berlogo 46 ini akan lebih selektif dalam memberikan kredit kepada debitur. Tujuannya, agar kredit tetap naik dan NPL tak terusik.

Senada, Direktur Utama PT Bank Panin Tbk Herwidayatmo mengatakan, pertumbuhan kredit komersial sedang lambat. Kendati demikian, Bank Panin tetap menjadikan segmen ini sebagai andalan, lantaran lebih dari 40% portofolio kredit masuk ke segmen komersial.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie