KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham emiten Grup Pertamina, yakni PT Perusahaan Gas Negara Tbk (
PGAS), PT Elnusa Tbk (
ELSA), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (
PGEO), masih menarik dicermati setelah ketiganya mencatatkan pertumbuhan laba bersih hingga kuartal III-2026. Namun, masing-masing emiten memiliki pendorong pertumbuhan dan prospek bisnis yang berbeda untuk tahun depan. PGAS membukukan kenaikan laba bersih 23,1% secara tahunan menjadi US$ 292,95 juta hingga September 2026. Sementara itu, laba bersih ELSA tumbuh 29% menjadi Rp 681,55 miliar dan PGEO meningkat 21,45% menjadi US$ 126,62 juta. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Harun Saiful menilai prospek ketiga emiten masih cukup positif hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027. Meski demikian, keberlanjutan pertumbuhan laba masing-masing perusahaan akan bergantung pada faktor bisnis yang berbeda.
Baca Juga: Kemenkeu Optimistis Minat Masyarakat Terjaga, Himpunan Dana ST017 Ditargetkan Rp 15 T Menurut Harun, PGAS masih berpeluang mencatatkan pertumbuhan melalui pemulihan volume perdagangan gas, stabilisasi margin niaga, serta perbaikan kontribusi Saka Energi. Namun, investor perlu mencermati penurunan laba bersih PGAS pada kuartal III-2026 sebesar 19% secara kuartalan menjadi US$ 91 juta akibat penyusutan gross spread perdagangan gas. "Ruang pertumbuhan masih terbuka, tetapi keberlanjutannya akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga margin dan mengoptimalkan volume perdagangan maupun transmisi gas," ujar Harun kepada Kontan, Jumat (6/11/2026). Adapun ELSA memiliki prospek yang ditopang aktivitas jasa hulu migas dan distribusi energi. Hingga kuartal III-2026, ELSA membukukan pendapatan Rp 12,1 triliun atau tumbuh 16% secara tahunan. EBITDA meningkat 28% menjadi Rp 1,3 triliun, sedangkan laba bersih naik 29% menjadi Rp 681,55 miliar. Harun melihat momentum pertumbuhan ELSA masih berpeluang berlanjut seiring meningkatnya kontribusi kontrak jasa seismik dan peluang pekerjaan baru dari aktivitas eksplorasi serta produksi migas. Pengembangan bisnis distribusi dan logistik energi juga berpotensi menjadi tambahan sumber pertumbuhan. Sementara itu, prospek PGEO lebih berorientasi jangka panjang melalui pengembangan kapasitas pembangkit panas bumi. Produksi listrik dan uap PGEO hingga September 2026 mencapai 4.113 GWh atau meningkat sekitar 10% secara tahunan. Pertumbuhan pendapatan juga ditopang peningkatan penjualan listrik dari proyek Lumut Balai yang mencapai US$ 60 juta, naik 53% secara tahunan.
Baca Juga: Kinerja Emiten Kawasan Industri Beda Arah, DMAS dan SSIA Jadi Andalan "Secara keseluruhan, kami melihat pertumbuhan laba ketiganya masih berpeluang berlanjut. Namun, investor perlu memperhatikan bahwa pertumbuhan laba yang tinggi pada sembilan bulan pertama belum tentu dapat dipertahankan pada tingkat yang sama, terutama apabila terdapat normalisasi margin maupun perbedaan waktu realisasi proyek," jelas Harun. Senada, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas juga melihat prospek PGAS, ELSA, dan PGEO masih positif hingga 2027. Meski demikian, pertumbuhan laba ketiganya berpotensi lebih moderat seiring normalisasi kinerja dan kebutuhan investasi. "Kami melihat PGAS, ELSA, dan PGEO masih memiliki prospek pertumbuhan positif hingga 2027, meskipun dengan pendorong yang berbeda," ujar Sukarno. Menurut Sukarno, PGAS ditopang peningkatan volume distribusi gas dan optimalisasi infrastruktur. Sementara itu, ELSA didukung peningkatan aktivitas jasa hulu migas serta kontrak seismik, sedangkan PGEO ditopang kenaikan produksi listrik dan pengembangan kapasitas panas bumi. Dari sisi faktor penentu kinerja, Harun menyebut PGAS bergantung pada ketersediaan pasokan gas, volume niaga dan transmisi, serta kemampuan perusahaan mempertahankan gross spread perdagangan gas. Kenaikan harga komoditas tidak selalu memberikan dampak positif secara langsung karena PGAS juga menghadapi biaya pengadaan gas. Selain itu, perkembangan kontribusi Saka Energi perlu diperhatikan. Meskipun volume produksi Saka pada kuartal III-2026 turun 9% secara kuartalan menjadi 1,4 juta barel setara minyak, kenaikan harga jual rata-rata sebesar 13% secara kuartalan membantu menopang kinerja segmen tersebut. Untuk ELSA, faktor utama lebih berkaitan dengan realisasi aktivitas eksplorasi dan produksi migas, perolehan kontrak baru, serta peningkatan utilisasi aset operasional. Pergerakan harga minyak dunia memiliki pengaruh tidak langsung melalui keputusan perusahaan migas dalam menentukan anggaran eksplorasi dan pengeboran. Realisasi proyek seismik dan kecepatan konversi backlog kontrak menjadi pendapatan juga akan menentukan kinerja ELSA ke depan.
Adapun PGEO lebih ditentukan oleh pertumbuhan volume produksi listrik dan uap, tingkat keandalan pembangkit, serta keberhasilan penyelesaian proyek ekspansi. Pertumbuhan kapasitas produksi, optimalisasi aset eksisting, dan efisiensi biaya operasional menjadi faktor penting bagi keberlanjutan kinerja perusahaan. Sukarno menambahkan, kinerja PGAS ditentukan volume distribusi, kepastian pasokan gas, serta kemampuan menjaga margin di tengah fluktuasi harga LNG. Sementara ELSA lebih bergantung pada aktivitas pengeboran, survei seismik, kontrak jasa migas, dan belanja modal hulu migas. Adapun PGEO ditentukan oleh peningkatan produksi listrik, utilisasi pembangkit, efisiensi operasional, serta keberhasilan penyelesaian proyek ekspansi. Dari sisi pertumbuhan laba, Harun menilai ELSA lebih menonjol berdasarkan realisasi kinerja hingga kuartal III-2026. Pertumbuhan laba bersih sebesar 29% mencerminkan peningkatan produktivitas dan profitabilitas di tengah meningkatnya aktivitas bisnis jasa energi. Meski begitu, Harun menilai PGAS tetap memiliki daya tarik dari sisi skala bisnis dan infrastruktur gas yang telah terbangun. Perusahaan juga berpotensi menawarkan arus kas dan pembagian dividen yang menarik bagi investor. Di sisi lain, PGEO memiliki prospek struktural dari bisnis energi terbarukan dan kontrak penjualan energi jangka panjang. Sukarno juga melihat ELSA memiliki peluang pertumbuhan laba yang menarik berkat diversifikasi bisnis jasa hulu migas, distribusi, dan logistik energi, serta potensi kontrak baru. PGAS memiliki fundamental yang relatif defensif karena ditopang bisnis infrastruktur dan distribusi gas dengan kebutuhan domestik berkelanjutan. Sementara PGEO menawarkan prospek jangka panjang melalui energi terbarukan dan pendapatan berbasis kontrak, meskipun membutuhkan belanja modal besar. "Kami melihat ELSA memiliki peluang pertumbuhan laba yang menarik berkat diversifikasi bisnis jasa hulu migas, distribusi, dan logistik energi, serta potensi kontrak baru," kata Sukarno.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 0,13% Sepekan, Simak Proyeksi dan Rekomendasi Saham Pekan Depan Dari sisi katalis, PGAS berpotensi diuntungkan oleh pemulihan volume niaga gas, perbaikan gross spread perdagangan, peningkatan kontribusi Saka Energi, serta potensi pembagian dividen dengan payout ratio relatif tinggi. Harun memperkirakan dividend yield PGAS untuk tahun buku 2027 berpotensi mencapai 16%-19%, dengan asumsi dividend payout ratio sekitar 80%. Namun, investor perlu mencermati risiko penurunan margin perdagangan gas, keterbatasan pasokan, serta potensi tambahan pencadangan terkait kasus Gunvor. Harun menyebut potensi tambahan provisi yang perlu dicermati mencapai sekitar US$ 56 juta, di luar provisi US$ 72 juta yang telah ada. Untuk ELSA, katalisnya berasal dari peningkatan aktivitas eksplorasi dan produksi migas, realisasi backlog kontrak seismik, serta pertumbuhan bisnis distribusi dan logistik energi. Peluang pengembangan bisnis melalui skema low-cost operator (LCO) juga berpotensi memperluas sumber pendapatan ELSA ke bisnis produksi hulu migas. Namun, realisasinya masih bergantung pada persetujuan pihak terkait. Risiko ELSA antara lain perlambatan belanja modal perusahaan migas, keterlambatan realisasi kontrak, persaingan jasa energi, serta kenaikan biaya operasional yang dapat menekan margin. Sukarno turut menyoroti risiko penurunan harga minyak, keterlambatan proyek, dan persaingan jasa migas. Sementara itu, PGEO memiliki katalis dari peningkatan produksi listrik panas bumi, optimalisasi pembangkit eksisting, percepatan proyek baru, serta dukungan kebijakan transisi energi. Target peningkatan kapasitas terpasang menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028 juga menjadi salah satu katalis pertumbuhan jangka menengah. Meski demikian, kebutuhan belanja modal yang besar, keterlambatan penyelesaian proyek, risiko operasional dan pengeboran, serta realisasi produksi di bawah target masih perlu dicermati. Harun juga menilai PGEO membutuhkan akselerasi operasional setelah produksi pada kuartal III-2026 masih relatif datar dibandingkan kuartal sebelumnya. Sukarno turut menyoroti risiko pendanaan ekspansi yang perlu diperhatikan investor.
Baca Juga: IHSG Turun 0,13% Sepekan, Asing Masih Kabur Rp 1,07 Triliun Simak Pergerakan ke Depan Dari sisi rekomendasi saham, Harun mempertahankan rekomendasi Buy untuk PGAS dengan target harga Rp 1.800 per saham. Menurut dia, potensi imbal hasil dividen menjadi daya tarik utama saham tersebut, meskipun risiko terkait margin perdagangan gas dan kasus Gunvor tetap perlu diperhatikan.
Untuk ELSA, Harun menyoroti prospek pertumbuhan aktivitas jasa hulu migas, realisasi kontrak baru, serta pengembangan bisnis distribusi energi. Ia menyebut estimasi konsensus analis menunjukkan target harga ELSA sebesar Rp 1.195 per saham, dengan 23 analis yang tercatat memberikan rekomendasi Buy. Adapun untuk PGEO, Harun mempertahankan rekomendasi Hold dengan target harga Rp 1.100 per saham. Ia menilai keberhasilan penambahan kapasitas pembangkit dan peningkatan produksi akan menjadi faktor penting untuk memperkuat prospek pertumbuhan perusahaan. Sementara itu, Sukarno memberikan rekomendasi Trading Buy untuk PGAS dengan target harga Rp 1.550 per saham. Untuk ELSA, ia merekomendasikan strategi buy on weakness atau akumulasi dengan target harga Rp 685 per saham. Sedangkan PGEO direkomendasikan Buy dengan target harga Rp 1.100 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News