Pertumbuhan sektor properti cenderung melambat, simak rekomendasi analis berikut



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Para analis memproyeksikan pertumbuhan kinerja sektor properti di tahun ini masih akan melambat.

Analis Panin Sekuritas Nugroho Fitriyanto mengatakan sentimen yang masih memberatkan sektor properti adalah kenaikan harga properti sudah semakin terbatas sejak peningkatannya di tahun 2012-2013.

Selain itu, transmisi kenaikan suku bunga Bank Indonesia seven day reverse repo rate di sepanjang tahun 2017 juga belum terefleksi ke suku bunga konsumsi baik itu untuk kredit pemilikan rumah (KPR), ruko atau rukan. "Proyeksinya efek kenaikan suku bunga akan terefleksi di tahun ini," kata Nugroho. 


Padahal 76% dari pembelian properti di Indonesia dibiayai melalui KPR. Dengan naiknya tingkat suku bunga permintaan bisa tertekan.

Edward Lowis, analis UOB Kay Hian memproyeksikan angka pre-sales sektor properti tumbuh konservatif sebesar 2,2% secara year on year ke Rp 20,8 triliun. salah satu penyebabnya, emiten sektor ini cenderung terbatas untuk melaunching proyek properti baru di semester I-2019 karena jelang Pemiliu Presiden (Pilpers) dan libur lebaran di tahun ini.

Edward mencatat pada empat emiten di sektor properti yaitu, PT Ciputra Development (CTRA), PT Bumi serpong Damai (BSDE), PT Alam Sutera Realty (ASRI), PT Summarecon Agung (SMRA) secara total mencatatkan pre-sales sebesar Rp 20,3 triliun atau turun 1,8% yoy dari pre sales di tahun sebelumnya yang sebesar Rp 20,7 triliun.

Analis BCA Sekuritas Pandu Anugrah juga mengatakan permintaan properti di tahun ini cendeurng lamban. Apalagi, properti yang dibeli untuk tujuan investasi.

Nugroho menambahkan, jelang pemilu investor buyer cenderung wait and see untuk membeli properti.

Sebaliknya, pembelian rumah pertama dengan harga properti di bawah Rp 1 miliar masih bisa bertumbuh di tahun ini.

Nugroho memfokuskan pilihan emiten di sektor ini, pada perusahaan yang menjadikan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah sebagai target pasar. "Dari kenaikan harganya, rumah menengah ke bawah masih lebih kencang, rumah ukuran kecil juga demannya masih lebih banyak daripada yang besar," kata Nugroho, Jumat (15/2).

Nugroho menjagokan CTRA untuk sektor properti karena memiliki bisnis yang fokus pada target pasar menengah ke bawah. "Ciputra Maja Raya itu harga propertinya Rp 200 jutaan dan Citra Raya Tangerang sekitar Rp 500 juta ke bawah jadi saya prefer ke golongan harga rumah yang di bawah Rp 1 miliar," kata Nugroho.

Sementara, Pandu memproyeksikan secara agregat pertumbuhan pre sales sektor properti di tahun ini bisa tumbuh 9,9% dengan proyeksi CTRA yang akan membukukan pertumbuhan kinerja tertinggi.

"Karena investor buyer cenderung selektif, kami menaruh harapan lebih permintaan akan tumbuh dari pembeli rumah pertama yang melanjutkan transaksi pemeblian rumah dengan harga yang rendah hingga menengah," kata Pandu dalam riset 23 Januari 2019. 

Senada Pandu mengatakan CTRA memiliki segmen kelas menengah ke bawah sehingga dapat memanfaatkan kondisi ini.

Lebih lanjut, Pandu berpendapat pelonggaran aturan kredit di sektor properti masih belum bisa diterjemahkan apalagi bisa meningkatkan permintaan properti seperti di 2012 dan 2013. Namun, pelonggaran tersebut tetap berdampak positif untuk meningkatkan ekonomi dan optimisme permintaan di sektor properti pasca Pemilu.

Kompak, Edward juga menjagokan CTRA di sektor properti karena memiliki diversifikasi portofolio yang tidak terkonsentrasi pada segmen properti untuk kelas menengah atas.

Edward merekomendasikan buy di target harga Rp 1.100 untuk CTRA. Senada, Pandu merekomendasikan buy CTRA di target harga Rp 1.300 per saham. Nugroho juga merekomendasikan buy CTRA di target harga Rp 1.250 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi