KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perubahan struktur demografi Indonesia menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi penciptaan lapangan kerja. Di tengah bonus demografi, penyerapan tenaga kerja perlu diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang sesuai dengan keterampilan angkatan kerja. Sementara itu, bertambahnya populasi lansia turut membentuk kebutuhan ekonomi baru, terutama di bidang pendampingan dan perawatan. Hal tersebut dibahas dalam KONTAN Economic & Demographic Forum 2026 bertema “Navigating the Economy Across Generations” yang digelar dalam rangka HUT KONTAN ke-30 di Studio 1 Kompas TV, Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Co-Founder dan Executive Director dari Synergy Policies Dinna Prapto Raharja hadir bersama Mari Elka Pangestu Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dalam sesi talkshow pertama yang membahas perubahan demografi, bonus demografi, silver economy, dan kesejahteraan lintas generasi. Dinna menilai, pengembangan industri perlu mempertimbangkan kondisi dan keterampilan tenaga kerja Indonesia. Industri berteknologi tinggi tetap perlu dikembangkan. Namun, dalam jangka pendek, penciptaan lapangan kerja juga perlu diarahkan ke sektor-sektor yang dapat menyerap tenaga kerja dengan keterampilan yang tersedia saat ini.
Baca Juga: DEN: AI Jadi Tantangan, Kualitas SDM Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi Menurut Dinna, sektor pertanian, perikanan, manufaktur, dan jasa dapat menjadi tumpuan penyerapan tenaga kerja. Di sektor manufaktur, misalnya, industri garmen dan alas kaki berpotensi menyerap pekerja dengan latar belakang pendidikan SMA maupun SMK. Sementara itu, sektor pertanian dan perikanan memiliki peluang melalui komoditas pangan, rempah-rempah, teh, kopi, hingga hasil laut. Potensi tersebut perlu didukung sistem produksi, logistik, dan akses pasar yang memadai agar dapat berkembang menjadi kegiatan usaha dan menyerap tenaga kerja. Dinna menekankan, penciptaan lapangan kerja perlu berangkat dari pemetaan kekuatan sumber daya manusia Indonesia, tanpa mengesampingkan pengembangan industri berteknologi tinggi. “Kita bisa mengenali SDM kita ini kekuatannya di mana. Itu dicarikan pekerjaan, dibuatkan perusahaan-perusahaannya. Sambil yang sektor high-end jangan ditutup, karena orang Indonesia juga banyak yang pintar,” ujar Dinna saat ditemui KONTAN. Selain menjadi tantangan bagi penyerapan tenaga kerja usia produktif, perubahan struktur penduduk juga menghadirkan peluang ekonomi melalui silver economy. Dinna menilai, kebutuhan pendampingan dan perawatan lansia dapat membuka lapangan kerja bagi kaum muda, terutama di sektor sosial dan layanan perawatan. “Itu jadi lapangan kerja buat kaum muda yang bekerja di sektor sosial. Mendampingi para lansia, mengedukasi, bahkan menjadi perawat. Perawat yang bisa dipanggil ke rumah itu job. Di Jepang itu harganya mahal. Di negara-negara Eropa itu dicari,” kata Dinna. Peluang kerja tersebut perlu diikuti penyiapan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Karena itu, lembaga pelatihan kerja perlu memetakan jenis keterampilan dan sertifikasi yang dibutuhkan, termasuk untuk memenuhi kebutuhan layanan bagi penduduk lansia.
“Jadi sertifikasi itu adalah hal yang penting, tapi kita harus cermat merespons pasar. Kalau makin banyak lansia, berarti jenis skill-nya apa yang harus dibuat,” kata Dinna. Dengan demikian, perubahan demografi perlu direspons melalui penciptaan lapangan kerja yang sesuai dengan keterampilan angkatan kerja sekaligus penyiapan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang berkembang, termasuk layanan bagi penduduk lansia.
Baca Juga: DEN: Bonus Demografi RI Bisa Jadi Bom Waktu Jika Lapangan Kerja Produktif Minim Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News