Perubahan Status ANTM dan PTBA Serta Dorong Program Hilirisasi, Simak Langkah Mind Id



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah penataan ulang struktur BUMN dan penguatan tata kelola investasi negara, terjadi kebijakan perubahan status sejumlah perusahaan pelat merah. Salah satu langkah terbaru datang dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) terkait pengembalian status persero ke PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA),

Kebijakan ini dinilai bukan sekadar perubahan administratif, melainkan bagian dari penyesuaian regulasi strategis yang berdampak pada struktur kepemilikan dan tata kelola korporasi BUMN.

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria menjelaskan, langkah tersebut tindak lanjut ketentuan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN, khususnya terkait penyesuaian hak istimewa Saham Seri A Dwiwarna milik negara.


“Di UU ada ketentuan kepemilikan 1% dari negara untuk perusahaan besar. Karena itu statusnya menjadi BUMN,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (21/2). Meski kembali berstatus Persero, kedua emiten tambang itu dipastikan tetap berada di bawah kendali holding pertambangan Mind Id. 

Dalam struktur terbaru, Mind Id tetap menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sekitar 65% di Antam dan 65,93% di PTBA. Di tengah dinamika restrukturisasi tersebut, transformasi status perusahaan, perubahan struktur kepemilikan, hingga penyesuaian regulasi membutuhkan strategi penyampaian informasi yang jelas agar tidak menimbulkan spekulasi di pasar maupun publik.

Maka, penguatan fungsi komunikasi dan hubungan kelembagaan—seperti yang sebelumnya dilakukan Mind Id dalam proyek hilirisasi—menjadi elemen penting untuk memastikan kebijakan strategis dipahami sebagai bagian dari agenda besar reformasi BUMN, bukan sekadar perubahan teknis administratif.

Dan tengah percepatan agenda hilirisasi yang menjadi strategi utama perekonomian nasional, peran komunikasi korporasi kian vital untuk memastikan proyek industri strategis tidak hanya berjalan secara teknis,juga memperoleh dukungan publik.

Maka, holding tersebut memperkuat fungsi hubungan masyarakat (humas) dan hubungan kelembagaan sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan pemangku kepentingan sekaligus memperluas pemahaman masyarakat terhadap manfaat hilirisasi mineral dan batu bara.

Dari sisi bisnis, sepanjang 2025, realisasi investasi sektor hilirisasi tercatat mencapai Rp 584,1 triliun atau sekitar 30,2% dari total investasi nasional sebesar Rp 1.931,2 triliun.

Baca Juga: Danantara Indonesia Targetkan Proyek Hilirisasi Bauksit Selesai pada 2028

Mind Id berperan dalam akselerasi investasi tersebut melalui pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral. Mulai dari bauksit, tembaga, hingga nikel. Head of Institutional Relations Mind Id, Selly Adriatika menegaskan fungsi komunikasi memiliki posisi krusial di tengah percepatan proyek di berbagai wilayah operasional.

"Mind Id memastikan setiap inisiatif hilirisasi tidak hanya menghasilkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga mendapat dukungan publik yang kuat sebagai fondasi keberlanjutan transformasi industri nasional,” ujar dia, dalam keterangan resmi, Sabtu (21/2).  Sebagai BUMN Holding Industri Pertambangan, Mind Id menjadi salah satu penggerak utama akselerasi investasi tersebut melalui pembangunan dan pengoperasian berbagai fasilitas pengolahan dan pemurnian untuk mineral bauksit, tembaga hingga nikel. 

Kini fungsi komunikasi diperluas dari sekadar pendukung menjadi instrumen strategis yang ikut menentukan keberhasilan proyek. Pendekatan yang diterapkan meliputi komunikasi terintegrasi, advokasi kebijakan, serta pengelolaan isu secara proaktif guna membangun kepercayaan pemangku kepentingan.

Salah satu contoh konkret terlihat pada pengembangan fasilitas bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Upaya komunikasi yang dilakukan turut mendukung proses hingga proyek tersebut kembali memperoleh status Proyek Strategis Nasional (PSN).

Selain fokus pada proyek industri, penguatan hilirisasi jangka panjang juga ditempuh melalui literasi publik, khususnya kepada generasi muda. Program edukatif Junior Minding Fun Fest, yang menyasar anak usia 3–12 tahun telah melibatkan lebih dari 2.000 peserta dan mulai direplikasi berbagai pihak sebagai bentuk pengenalan sektor pertambangan secara interaktif.

Selly menekankan, keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan kesiapan operasional, melainkan juga tingkat pemahaman publik. "Ketika publik memahami tujuan serta manfaat hilirisasi, maka dukungan yang terbangun akan menjadi kekuatan bersama untuk menciptakan manfaat hilirisasi yang berlipat ganda,” katanya.

Selanjutnya: Perkuat Talenta Digital, Kemnaker Gandeng Shopee Gelar ToT Affiliate

Menarik Dibaca: Waspada Kulit Dehidrasi Saat Puasa, Kenali Tanda dan Cara Mencegahnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News