KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah perundingan antara Amerika Serikat (United States) dan Iran (Iran) berakhir tanpa kesepakatan. Kondisi ini memicu ekspektasi bahwa harga logam mulia atau emas berpotensi kembali menguat dalam waktu dekat, seiring meningkatnya risiko konflik di Timur Tengah.
Perundingan Buntu Picu Kekhawatiran Pasar Global
Gagalnya perundingan antara Washington dan Teheran menambah ketidakpastian di pasar global. Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa dalam jeda dua minggu ke depan, baik Amerika Serikat bersama Israel (Israel) maupun Iran diperkirakan akan melakukan konsolidasi kekuatan masing-masing.Risiko Selat Hormuz dan Dampaknya ke Pasar Energi
Salah satu skenario yang menjadi perhatian pasar adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz (Selat Hormuz) oleh Iran. Jalur strategis ini merupakan salah satu titik paling penting dalam perdagangan minyak global. Menurut Ibrahim, jika skenario tersebut terjadi, maka dampaknya akan sangat luas. Harga minyak dunia diperkirakan melonjak, indeks dolar AS menguat, dan tekanan inflasi global akan meningkat. Dalam kondisi tersebut, bank sentral global kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya kembali guna meredam inflasi yang dipicu lonjakan harga energi.Proyeksi Support dan Resistance Harga Emas
Dalam sepekan ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan sangat volatil, dipengaruhi sentimen geopolitik serta arah kebijakan moneter global. Jika terjadi koreksi, Ibrahim memproyeksikan:- Support pertama emas dunia berada di level US$ 4.638 per troy ons, dengan harga logam mulia sekitar Rp 2.840.000 per gram.
- Jika tekanan berlanjut, support kedua diperkirakan di US$ 4.358 per troy ons, dengan harga emas dalam negeri sekitar Rp 2.780.000 per gram.
- Resistance pertama emas dunia diperkirakan di US$ 4.897 per troy ons, dengan harga logam mulia sekitar Rp 2.880.000 per gram.
- Jika momentum bullish berlanjut, emas berpotensi menembus level psikologis baru di atas US$ 5.000 per troy ons, yakni sekitar US$ 5.138 per troy ons, dengan harga logam mulia mencapai sekitar Rp 3.100.000 per gram.