Perundingan dagang AS-China dimulai, sejumlah pihak pesimistis



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Amerika Serikat (AS) dan China hari ini akan memulai perundingan tingkat tinggi selama dua hari di tengah tuntutan AS untuk reformasi perdagangan China. Tenggat waktu negosiasi dagang ini adalah pada 2 Maret sebelum kenaikan tarif AS atas produk impor China.

Menurut sumber yang mengetahui rencana negosiasi dagang, hingga saat ini belum ada indikasi bahwa perwakilan China akan membahas tuntutan AS untuk perlindungan hak kekayaan intelektual bagi perusahaan-perusahaan yang ekspansi ke China. Selama ini, AS mengeluhkan kewajiban transfer teknologi bagi perusahaan AS yang ekspansi ke China.

Keluhan ini diiringi tuduhan pencurian rahasia perdagangan AS dan kampanye sistematis untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan teknologi AS. Dengan alasan inilah Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif impor atas produk China dengan nilai total US$ 250 miliar.


Trump mengancam akan menaikkan tarif impor dari 10% menjadi 25% atas produk China dengan nilai total US$ 200 miliar pada 2 Maret mendatang. Kenaikan ini akan berlaku jika kedua pihak tidak bisa mencapai kesepakatan dalam sebulan ke depan.

"Jelas, untuk masalah struktural, transfer teknologi, masih ada jurang pemisah besar antara kedua belah pihak," kata si sumber seperti dikutip Reuters.

Pejabat China menyangkal pemaksaan transfer teknologi ini. Perwakilan China menekankan sejumlah langkah yang telah ditempuh, seperti mengurangi tarif otomotif dan merancang aturan investasi asing yang lebih terbuka. China pun menjanjikan pemaksaan transfer teknologi.

Sejumlah kelompok bisnis menunggu hasil perundingan kedua negara. Erin Ennis, senior vice president of US-China Business Council mengatakan, dengan waktu sebulan sebelum tenggat waktu, kedua negara diperkirakan tidak akan memberikan penawaran terbaik dalam dua hari negosiasi hingga besok.

Ennis mengatakan, pertemuan akhir Januari ini belum akan menghasilkan keputusan besar. "Semoga kedua pihak menghasilkan kemajuan yang berarti sehingga bisa menyelesaikan kesepakatan dalam 90 hari," kata Ennis.

Delegasi China dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Liu He. Delegasi ini diprediksi perlu menyajikan penawaran baru yang jauh melampaui penawaran sebelumnya, yakni peningkatan pembelian produk AS, termasuk kedelai, energi, dan barang-barang manufaktur.

Barang-barang manufaktur menjadi prioritas pemerintahan Trump untuk menekan defisit perdagangan dengan China. Tapi, tidak ada jaminan bahwa Tiongkok akan menindaklanjuti rencana ini.

Sementara itu, laba sejumlah perusahaan AS tertekan oleh perlambatan ekonomi China dan penerapan tarif impor. Beberapa perusahaan ini adalah 3M Co, Caterpillar, Nvidia, dan Apple. 

Nicholas Lardy, senior fellow dan China trade expert Peterson Institute for International Economics mengatakan, nasib perusahaan-perusahaan ini akan lebih buruk jika kedua negara tidak mencapai kemajuan berarti tingga tenggat waktu. "Mengingat pelemahan ekonomi China dan AS yang pasti akan melambat, ini bukan menjadi gambaran yang bagus," kata Lardy.

Editor: Wahyu T.Rahmawati