Perundingan Damai AS-Iran Gagal, Delegasi Tinggalkan Islamabad Tanpa Kesepakatan
Minggu, 12 April 2026 16:14 WIB
Diperbarui Minggu, 12 April 2026 16:33 WIB
Oleh: Handoyo | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari enam minggu berakhir tanpa kesepakatan. Pembicaraan maraton selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (12/4/2026) gagal menghasilkan solusi, sehingga mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang masih rapuh. Kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan negosiasi yang bertujuan menghentikan perang yang telah menewaskan ribuan orang dan memicu lonjakan harga minyak global.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi negaranya, menyatakan bahwa tidak tercapainya kesepakatan merupakan kabar buruk, terutama bagi Iran. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menyampaikan “garis merah” yang jelas dalam perundingan tersebut.
BREAKING NEWS! PERUNDINGAN AS-IRAN GAGAL CAPAI KESEPAKATAN
Menurut Vance, Iran menolak memenuhi tuntutan utama AS, termasuk komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Ia menekankan bahwa tujuan utama Presiden Donald Trump adalah memastikan Iran tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir dalam waktu singkat. Di sisi lain, media Iran menyebut tuntutan AS sebagai “berlebihan”. Sejumlah isu memang sempat mencapai titik temu, namun perbedaan utama tetap berkisar pada program nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz. Baca Juga: Astronot Artemis II Kembali ke Bumi Usai Misi Bersejarah Mengelilingi Bulan Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pembicaraan berlangsung dalam suasana saling tidak percaya. Ia menilai tidak realistis mengharapkan kesepakatan dalam satu putaran negosiasi.
Tuntutan Iran dan Dinamika Negosiasi
Selain isu nuklir, Teheran juga menuntut pencabutan pembekuan aset di luar negeri, pembayaran reparasi perang, serta kontrol atas Selat Hormuz, termasuk hak memungut biaya transit. Namun, pejabat AS membantah telah menyetujui pencairan aset Iran yang dibekukan. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menegaskan pentingnya mempertahankan gencatan senjata dua pekan yang telah disepakati sebelumnya guna meredakan konflik yang dimulai sejak 28 Februari. Sementara itu, pejabat keamanan Israel Zeev Elkin menyebut peluang negosiasi lanjutan masih terbuka, namun memperingatkan bahwa Iran “sedang bermain api”.
Selat Hormuz Masih Jadi Kunci
Meskipun negosiasi gagal, sejumlah aktivitas pelayaran mulai terlihat. Data pengiriman menunjukkan tiga kapal tanker besar bermuatan penuh berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, menjadi kapal pertama yang keluar dari Teluk sejak gencatan senjata diberlakukan. Namun, ratusan kapal tanker lainnya masih tertahan dan menunggu kepastian keamanan untuk melanjutkan perjalanan. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan energi global, sehingga gangguan di kawasan ini berdampak langsung pada pasar energi dunia.
Delegasi AS dalam perundingan ini juga melibatkan utusan khusus Steve Witkoff serta penasihat senior Jared Kushner. Sementara dari pihak Iran hadir Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Eskalasi Regional Berlanjut
Di tengah kebuntuan diplomatik, konflik di kawasan tetap berlanjut. Israel terus melancarkan serangan terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon, yang didukung Iran. Serangan udara dilaporkan menghantam peluncur roket di wilayah selatan Beirut. Di sisi lain, sirene peringatan serangan udara kembali terdengar di wilayah perbatasan Israel akibat peluncuran roket dari Lebanon. Dengan kegagalan negosiasi ini, prospek perdamaian masih belum jelas. Ketidakpastian di Selat Hormuz dan eskalasi konflik regional berpotensi terus menekan pasar energi global serta meningkatkan risiko geopolitik dalam waktu dekat.