KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Upaya mengakhiri perang Rusia, Ukraina memasuki babak baru. Putaran perundingan berikutnya yang melibatkan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat akan digelar di Jenewa pekan depan. Kremlin menunjuk Vladimir Medinsky sebagai kepala delegasi Rusia. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pembicaraan dijadwalkan berlangsung selama dua hari, Selasa dan Rabu.
Agenda ini menyusul dua putaran negosiasi sebelumnya di Abu Dhabi, yang saat itu delegasi Rusia dipimpin oleh Igor Kostyukov, kepala intelijen militer Rusia.
Baca Juga: Negosiasi Damai Rusia-Ukraina: AS Sebut Produktif, Ini Pembahasannya Dari pihak Ukraina, seorang pejabat kantor presiden mengonfirmasi bahwa delegasi Kyiv tengah mempersiapkan diri untuk menghadiri pertemuan di Jenewa. Konfirmasi ini menandai kesiapan kedua belah pihak untuk melanjutkan dialog, meski jurang perbedaan masih lebar. Kembalinya Medinsky yang pernah memimpin tim Rusia dalam perundingan di Turki pada 2022 dan kembali tahun lalu, dipandang sebagai sinyal perubahan fokus pembahasan. Moskow disebut berharap negosiasi tak lagi terbatas pada isu keamanan, tetapi merambah persoalan-persoalan pokok yang menjadi sumber konflik berkepanjangan.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Stagnan Jumat (28/11) Pagi: Fokus Rusia-Ukraina & OPEC+ Hampir empat tahun perang berlangsung, upaya intensif Washington di bawah Presiden Donald Trump untuk menghentikan apa yang ia sebut sebagai “pertumpahan darah yang sia-sia” belum membuahkan terobosan. Rusia dan Ukraina tetap berselisih tajam soal wilayah dan kendali atas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia. Di sisi lain, sumber-sumber Ukraina sebelumnya mengkritik gaya Medinsky dalam perundingan. Ia dituding lebih banyak menyampaikan “kuliah sejarah” ketimbang masuk ke negosiasi substantif—sebuah catatan yang berpotensi memengaruhi dinamika pembicaraan di Jenewa.
Baca Juga: Rusia-Ukraina Tukar Tahanan Perang dengan Mediasi UEA Dengan lokasi netral dan format baru, pertemuan pekan depan diharapkan membuka ruang kompromi. Namun, sejauh ini, jarak posisi Rusia dan Ukraina masih menjadi tantangan utama, meski Amerika Serikat terus mendorong tercapainya kesepakatan.