Peruri ikut meramaikan bisnis e-money



JAKARTA. Demam uang elektronik atau yang beken dengan nama e-money merambah ke semua sektor bisnis. Kini, hampir semua transaksi keuangan menggunakan e-money. Kemajuan teknologi dan pergeseran gaya hidup membuat e-money semakin digemari.

Hal inilah yang membuat Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) melebarkan sayap bisnisnya ke era digital ini.  Tidak hanya mencetak uang kertas, lewat anak usaha PT Peruri Digital System (PDS), perusahaan itu menawarkan jasa payment gateway.

"Perusahaan tersebut dibentuk sejak tahun 2011, namun dua tahun itu kami siap-siap dan hari ini baru diluncurkan," ujar Prasetio, Direktur Utama Perum Peruri, Rabu (12/2).


Untuk membentuk anak perusahaan, Perum Peruri harus merogoh kocek sebesar Rp 80 miliar. Perusahaan yang sahamnya dimiliki 100% oleh Perum Peruri ini menawarkan kepada institusi membuat infrastruktur buat kartu yang bisa digunakan untuk segala macam pembayaran, baik belanja ataupun transportasi. Selain itu juga, kartu tersebut bisa digunakan untuk keperluan perizinan.

Kemal I Santoso, Direktur Utama PT Peruri Digital System mengatakan target pasar yang diincar oleh perusahaan adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), koperasi, dan komunitas. 

Nah, supaya bisnis barunya makin berkibar, PDS menandatangani kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) dengan delapan institusi. "Kami tidak mematok target jumlah institusinya," jelas Kemal.

Adapun institusi yang digandeng oleh PDS tahun ini adalah PT Wahyu Kartumasindo International, PT Cipta Srigati Lestari, PT Multipolar, PT Janti Piranti Solusindo (Jatis Solution), dan PT Angkasa Pura I Logistik. Selain itu, PDS menggandeng Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, GHL Malaysia, dan Hard Rock Cafe Jakarta.

Gatot Trihargo, Deputi Bidang Usaha Jasa Kementerian BUMN mengharapkan masuknya Perum Peruri di bisnis ini, di masa depan, Indonesia akan memiliki e-money sendiri. "Nantinya tidak hanya Mastercard dan Visa, tetapi kita punya Peruri," katanya.

Selain berbisnis di sektor pengelolan e-money, PDS juga mengincar pasar produksi dokumen sekuriti berbasis digital seperti e-passport, smart card, chip plastic card ataupun contactless card. "Pasar digital security merupakan peluang bisnis baru yang bagus," kata Kemal.

Kontribusi 10%

Meski usahanya masih baru, Prasetio ingin supaya anak usahanya ini sudah memberikan kontribusi pendapatan. Tahun ini, PDS ditargetkan mengantongi pendapatan sebesar Rp 280 miliar. "Kita harapkan kontribusi tahun ini 10% dan tahun depan akan meningkat," ujar Prasetio.

Tahun ini, Perum Peruri berencana untuk meraup pendapatan sebesar Rp 2,8 triliun. Target nilai tersebut lebih tinggi 12% dibandingkan realisasi pendapatan tahun lalu, yakni Rp 2,5 triliun.

Kontribusi pendapatan terbesar masih berasal dari percetakan sebesar 70%. Sisanya diperoleh dari bisnis Peruri yang lain, seperti pencetakan paspor, perangko, meterai, surat tanah, dan pita cukai.

Untuk pencetakan uang kertas, Prasetio bilang, saat ini masih jalan terus. Tahun lalu, Peruri mencetak uang kertas sebanyak 5,3 miliar bilyet. Tahun ini, Perum Peruri akan mencetak uang kertas sebanyak 6 miliar bilyet.

Sementara untuk pencapaian laba, Peruri mengharapkan pada tahun 2014 ini bisa memperoleh laba bersih sebesar Rp 280 miliar. Sekedar informasi, pada tahun 2013 lalu, Perum Peruri berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 260 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan