KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan berbentuk
joint venture atau usaha patungan antara perusahaan lokal dan asing masih mendominasi industri asuransi jiwa, berdasarkan 10 asuransi jiwa dengan aset terbesar per Desember 2025, Menilik berdasarkan riset laporan keuangan masing-masing perusahaan (
unaudited) per Desember 2025, terdapat 8 perusahaan asuransi jiwa berbasis
joint venture, sedangkan hanya ada 2 perusahaan asuransi jiwa yang dimiliki lokal. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) membeberkan sejumlah faktor penyebab perusahaan asuransi jiwa milik
joint venture lebih mendominasi berdasarkan nilai aset.
Baca Juga: Jamkrida Sumbar Catatkan Angka BOPO di Level 54,93% per Akhir 2025 Direktur Eksekutif AAJI Emira Oepangat mengatakan jika dilihat dari total aset, perusahaan
joint venture pada umumnya memiliki dukungan penguatan kapasitas permodalan, serta pengalaman global dan praktik manajemen risiko yang berstandar internasional. "Hal tersebut turut mendorong percepatan pengembangan produk, inovasi layanan, serta penguatan tata kelola perusahaan," katanya kepada Kontan, Selasa (24/2/2026). Meskipun demikian, Emira menerangkan kondisi industri saat ini menunjukkan bahwa perusahaan lokal juga terus memperkuat daya saingnya. Dia bilang perusahaan domestik makin adaptif dalam melakukan transformasi bisnis, memperluas jangkauan distribusi, serta meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah. "Hal itu tercermin dari komposisi perusahaan dengan aset terbesar yang relatif berimbang antara perusahaan
joint venture dan perusahaan lokal," ungkap Emira. Berdasarkan riset, PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia menduduki posisi pertama perusahaan asuransi jiwa dengan aset terbesar, nominalnya mencapai Rp 67,49 triliun per Desember 2025. Adapun perusahaan tersebut mayoritas dimiliki Manulife Financial (Singapore) Pte.Ltd sebesar 95%.
Baca Juga: Reksa Dana Saham Syariah Kinclong pada Awal Tahun 2026, Ditopang Penguatan IHSG Pada posisi kedua ada PT Indolife Pensiontama dengan nilai aset mencapai Rp 65,47 triliun per Desember 2025. Mayoritas kepemilikan perusahaan, yakni PT Lintas Sejahtera Langgeng 49,73% dan PT Cakra Intan Sakti sebesar 49,73%. Selanjutnya, posisi ketiga ditempati PT Prudential Life Assurance dengan aset per Desember 2025 mencapai Rp 61,62 triliun. Adapun perusahaan itu mayoritas dimiliki Prudential Corporation Holdings Limited sebesar 94,62%. Posisi keempat ditempati PT Axa Mandiri Financial Services dengan aset per Desember 2025 sebesar Rp 43,97 triliun. Pemegang saham mayoritas perusahaan adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 51%, National Mutual International Pty. Ltd sebesar 49%. Posisi kelima ditempati PT AIA Financial dengan aset per Desember 2025 sebesar Rp 42,88 triliun. Mayoritas dimiliki AIA International Limited sebesar 94,99%. Selanjutnya, PT Asuransi Allianz Life Indonesia menempati posisi keenam dengan nilai aset per Desember 2025 sebesar Rp 37,27 triliun. Mayoritas dimiliki Allianz of Asia Pacific & Africa GmbH 99,76%. Posisi ketujuh ditempati PT Asuransi Jiwa IFG dengan aset per Desember 2025 sebesar Rp 32,77 triliun. Mayoritas dimiliki PT Bahana Pembina Usaha Indonesia (Persero) 99,99%. Posisi kedelapan diisi PT BNI Life Insurance dengan aset per Desember 2025 sebesar Rp 28,73 triliun. Adapun mayoritas dimiliki PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 60% dan Sumitomo Life Insurance Company 39,99%. Sementara itu, PT Asuransi BRI Life menduduki posisi kesembilan dengan nilai aset sebesar Rp 27,51 triliun. Mayoritas dimiliki PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 51,00% dan FWD Manajemen Holdings 43,96%. Posisi kesepuluh ada PT Asuransi Jiwa Sequis Life dengan nilai aset per Desember 2025 sebesar Rp 23,43 triliun. Adapun mayoritas dimiliki PT Sequis sebesar 68,34%, kemudian PT Gunung Sewu Kapital sebesar 31,65%. Terkait perusahaan patungan mendominasi, Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo berpendapat penyebabnya karena perusahaan asuransi
joint venture dikenal mempunyai keunggulan dalam banyak hal. "Salah satunya permodalan, tata kelola, teknologi, serta produk dan budaya kerja," ungkapnya kepada Kontan.
Irvan menambahkan peluang perusahaan asuransi lokal untuk masuk dalam 10 besar ke depannya sangat terbatas. Sebab, mengingat perusahaan
joint venture memiliki banyak keunggulan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News