Perusahaan asuransi menuai berkah dari pelancong



JAKARTA. Geliat bisnis pariwisata membawa berkah bagi perusahaan asuransi umum. Berbagai perusahaan asuransi umum menikmati pertumbuhan premi travel insurance hingga dua digit.

Asuransi AXA Indonesia melihat, peluang dan potensi pasar asuransi perjalanan terbuka, karena peningkatan penawaran maskapai dan akomodasi yang terjangkau. "Masyarakat Indonesia juga semakin berminat melakukan perjalanan ke luar negeri untuk kepentingan wisata, bisnis, maupun studi," kata Iwan Semiawan, Direktur Ritel Asuransi AXA Indonesia. Dia bilang, pertumbuhan premi asuransi perjalanan di AXA Indonesia mencapai 33% per tahun.

AXA Indonesia menawarkan asuransi perjalanan Smart Traveler. Produk ini memberikan perlindungan kesehatan, kecelakaan, musibah ketika bepergian atau menuntut ilmu di luar negeri. Produk ini juga menjamin ketidaknyamanan perjalanan, seperti karena kehilangan bagasi, penundaan penerbangan, tanggung jawab hukum pada pihak ketiga, dan terputusnya perjalanan.


Sejak awal tahun ini, AXA menawarkan SmartTraveller Online untuk memudahkan pembelian asuransi perjalanan dan pengajuan klaim. Menurut Iwan, travel insurance menjadi penyumbang terbesar kedua segmen asuransi retail AXA. Sumbangan premi terbesar masih dari asuransi kendaraan bermotor, 60%.

Jasindo juga menikmati pertumbuhan asuransi perjalanan menyenangkan. "Asuransi perjalanan antar kota seperti ke Bali, pertumbuhannya bisa sampai 10%," kata Sahata L. Tobing, Direktur Operasi Ritel Jasindo. Hingga Agustus lalu, Jasindo mencatat perolehan premi asuransi perjalanan Rp 20 miliar.

Mendatang, Jasindo akan mengembangkan asuransi perjalanan untuk kawasan wisata yang semakin hot, seperti Pulau Komodo dan Raja Ampat. Jasindo sejak Agustus lalu menyediakan asuransi perjalanan ke luar negeri.

Pan Pacific Insurance tak ingin ketinggalan. Juanidi, Wakil Presiden Direktur Pan Pacific, menjelaskan perusahaan menggarap produk asuransi perjalanan yang rencananya meluncur Oktober ini. Menurut dia, untuk mendongkrak potensi asuransi perjalanan, membutuhkan peran agen perjalanan, asosiasi, hingga perusahaan asuransi.

"Travel insurance itu potensi yang tidur. Saat ini mungkin hanya 1-2 orang dari 10 yang memutuskan untuk menggunakan travel insurance," ujar Junaidi. Diharapkan, produk ini meraup premi Rp 5 miliar di periode awal setelah peluncuran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia